Menyikapi Nikmat Dunia Sebagai Ujian (Akhlak part 51)
Adalah suatu anggapan yang keliru bila cobaan hanya terbatas pada yang tidak mengenakkan saja.
Sebut misalnya kefakiran dan penyakit. Pandangan yang sempit tentang cobaan tersebut merupakan akibat dari ketidaktahuan seorang tentang kehidupan dunia. Padahal Allah l di banyak ayat Al-Qur’an telah menegaskan, demikian pula Rasulullah n di sekian haditsnya, bahwa nikmat dan kesenangan duniawi merupakan ujian bagi hamba sebagaimana kesengsaraan hidup juga dijadikan cobaan. Allah l berfirman:
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya’: 35)
Ibnu Abbas c berkata menafsirkan ayat ini: “(Kami uji kalian) dengan kesusahan dan kesenangan, dengan sehat dan sakit, dengan kekayaan dan kefakiran, serta dengan yang halal dan yang haram. Semuanya adalah ujian.”
Ibnu Yazid t mengatakan: “Kami uji kalian dengan sesuatu yang disenangi dan yang dibenci oleh kalian, agar Kami melihat bagaimana kesabaran dan syukur kalian.”
Al-Kalbi t berkata: “(Maksud Kami uji) dengan kejelekan adalah yang berupa kefakiran dan musibah. Sedangkan diuji dengan kebaikan adalah yang berupa harta dan anak.”
Dalam ayat lain, Allah l juga berfirman:
“Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Rabbku telah memuliakanku.’ Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Rabbku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” (Al-Fajr: 15-17)
Perhatikanlah ayat-ayat ini, bagaimana Allah l menguji hamba-Nya dengan memberikan kemuliaan, nikmat, dan keluasan rezeki, sebagaimana pula Allah l mengujinya dengan menyempitkan rezeki. Dalam ayat ini Allah l mengingkari orang yang menyangka bahwa diluaskannya rezeki seorang hamba merupakan bukti pemuliaan Allah l kepadanya dan bahwa disempitkannya rezeki adalah bentuk dihinakannya hamba. Allah l mengingkari dengan mengatakan ﮪﮫ (Sekali-kali tidak), yakni bahwa perkara yang sebenarnya tidak seperti yang diucapkan oleh (sebagian) orang. Bahkan Aku (Allah l) terkadang menguji dengan nikmat-Ku, sebagaimana terkadang Aku memberi nikmat dengan cobaan-Ku.
Di sana juga masih banyak ayat yang semakna dengan yang telah disebutkan. Misalnya:
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Al-An’am: 165)
Juga firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalannya.” (Al-Kahfi: 7) [lihat ‘Uddatush Shabirin, karya Ibnul Qayyim t hal. 247-248, cet. Darul Yaqin]
Nabi n juga bersabda:
“Sesungguhnya bagi tiap umat ada fitnah (ujian yang menyesatkan), dan fitnah umatku adalah harta.” (Shahih Sunan At-Tirmdzi no. 2336)
Sufyan t mengatakan: “Bukan termasuk yang mendalam ilmunya bila seseorang tidak menganggap bala (musibah) sebagai nikmat dan kenikmatan sebagai cobaan.” (lihat ‘Uddatush Shabirin hal. 211)
Musibah dianggap sebagai nikmat karena musibah yang menimpa seorang mukmin adakalanya sebagai penghapus dosa yang dilakukannya, atau untuk meninggikan derajatnya, atau sebagai cambuk peringatan agar dia kembali ke jalan Allah l.
Syukur Nikmat
Segala nikmat yang diperoleh hamba dalam bentuk apapun, baik yang bersifat materi atau non-materi, yang bersifat duniawi atau ukhrawi, maka menuntut untuk disyukuri. Tentunya semakin banyak dan besar suatu pemberian maka kewajiban untuk bersyukur pun semakin besar. Ketika menyebutkan nikmat yang diberikan kepada Nabi Dawud q dan keluarganya berupa nikmat duniawi serta ukhrawi, yang Allah l tidak berikan kepada kebanyakan orang, Allah l berfirman:
“Beramallah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba’: 13)
Sebagian salaf berkata: “Tatkala dikatakan hal ini kepada keluarga Dawud, maka tidaklah datang suatu waktu kecuali di tengah-tengah mereka ada yang melakukan shalat. Adalah Khalid bin Shafwan tatkala masuk menemui Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz t, ia mengatakan: ‘Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Allah l tidak ridha ada seseorang kedudukannya di atasmu, maka janganlah kamu mau ada orang lebih bersyukur dari kamu’.” (Syarh Hadits Syaddad, Ibnu Rajab t, hal.41-42)
Bersyukur merupakan ibadah yang besar, sebagaimana firman-Nya:
“Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (An-Nahl: 114)
Mensyukuri nikmat juga sebab paling utama untuk dilanggengkannya nikmat serta ditambahkannya. Namun sebaliknya, mengkufuri nikmat dan menggunakannya pada kemaksiatan juga faktor utama dari dicabutnya nikmat. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Tentunya merupakan sikap yang sangat tercela bila seorang tidak mau berterima kasih kepada Sang Pemberi nikmat. Terlebih lagi sampai menggunakannya pada perkara yang mendatangkan kemurkaan Sang Pemberi. Bila seperti ini seseorang menyikapi pemberian Allah l, maka azab lebih dekat ketimbang rahmat, dan kenikmatan sudah di ambang pintu untuk meninggalkannya. Ini persis seperti yang dialami oleh kaum Saba’ dahulu. Di mana kaum Saba’ –nama suatu kabilah Arab yang tinggal di Ma’rib, Yaman– telah mampu membuat bendungan raksasa sehingga negeri itu subur dan makmur. Namun kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan mereka ingkar kepada Allah l dan mendustakan para rasul. Maka Allah l menimpakan azab berupa banjir hebat yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib. Kerajaan Saba’ yang waktu itu mencapai puncak kemewahan dan kemakmuran tinggal cerita. Negeri itu menjadi kering. Kerajaan Saba’ pun runtuh. Allah l telah kisahkan tentang runtuhnya kerajaan Saba’ dalam Al-Qur’an surat Saba’ ayat 15-17.
Mensyukuri nikmat meliputi beberapa perkara:
1. Meyakini dalam hati bahwa nikmat yang diterima semata-mata pemberian Allah l. Seperti inilah sikap seorang mukmin. Dia tidak menisbatkan nikmat kepada kekuatan, kepintaran, keberaniannya, dan semisalnya. Adalah Nabi Sulaiman q tatkala singgasana Ratu Saba’ bisa didatangkan di hadapannya dalam tempo sekejap, maka beliau berkata:
“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (An-Naml: 40)
Asy-Syaikh As-Sa’di t berkata: “Nabi Sulaiman q tidak teperdaya dengan (menyombongkan) kerajaan, kekuasaan, dan kemampuannya. Ini berbeda dengan kebanyakan para raja yang bodoh. Nabi Sulaiman q tahu bahwa ini adalah ujian dari Rabbnya, sehingga khawatir bila tidak mampu mensyukurinya.” (Tafsir As-Sa’di hal. 605)
Coba bandingkan dengan sikap dan ucapan Qarun yang menyombongkan kemampuannya, seperti yang Allah l kisahkan:
“Qarun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku’.” (Al-Qashash: 78)
Ucapan dan kesombongan Qarun sudah berlalu beribu-ribu tahun, namun sikapnya masih terus terwariskan sampai saat ini. Kerap sekali kita dengar ucapan yang senada dengannya, seperti: “Harta ini saya peroleh semata-mata karena hasil karya dan ketekunan (kerja keras) saya.” Padahal Allah l telah berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An-Nahl: 53)
2. Memuji Allah l atas segala karunia-Nya dengan mengucapkan puji syukur dan menceritakannya secara lahir. Karena, selalu mengingat dan menceritakan pemberian Allah l akan mendorong untuk bersyukur. Hal itu karena manusia mempunyai tabiat menyukai orang yang berbuat baik kepadanya.
3. Menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah l bukan untuk maksiat, serta merealisasikan beragam amal shalih sebagai bentuk mensyukuri nikmat. Karena nikmat hanyalah titipan yang seharusnya dijaga dan tidak dipergunakan kecuali pada batasan-batasan yang dibolehkan agama. Apabila kita perhatikan perjalanan hidup para kekasih Allah l dari kalangan para nabi dan orang-orang shalih, niscaya kita dapati mereka adalah teladan dalam mensyukuri nikmat. Kedudukan dan kekuasaan yang ada pada mereka dijadikan sarana untuk menebarkan keadilan di tengah-tengah manusia. Harta yang mereka peroleh dibelanjakan pada pos-pos kebaikan serta untuk menyokong untuk kemuliaan Islam dan muslimin. Ilmu yang mereka dapatkan diamalkan dan ditebarkan tanpa mengharapkan apapun kecuali keridhaan Allah l. Lihat salah satu misal teladan terbaik bagi kita yaitu Nabi Muhammad n, bagaimana beliau banyak melakukan shalat malam hingga bengkak kakinya. Tatkala beliau ditanya tentang hal itu, padahal dosa dan kesalahannya yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni, maka beliau bersabda:
“Mengapa aku tidak ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur.” (HR. Al-Bukhari)
Tidak Tertipu Dengan Nikmat
Sahabat Ibnu Mas’ud z berkata: “Sesungguhnya Allah l telah menentukan watak kalian sebagaimana telah menentukan rezeki di antara kalian. Sesungguhnya Allah l juga memberi harta kepada orang yang Ia cintai dan orang yang Ia benci. (Namun) Allah l tidak memberi keimanan kecuali kepada yang Ia cintai.” (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 209)
Allah l memberikan harta dan kedudukan kepada orang yang Dia cintai dari kalangan para nabi dan wali, seperti Nabi Sulaiman q dan shahabat ‘Utsman bin ‘Affan z. Sebagaimana Dia memberi kemewahan dunia sementara kepada para musuh-Nya semisal Fir’aun dan Qarun. Hal ini seperti yang Allah l firmankan:
“Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabbmu. Dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihalangi.” (Al-Isra’: 20)
Oleh sebab itu, janganlah seorang tertipu bila melihat orang kafir dan para pelaku maksiat diberi kemewahan dunia dan kedudukan terpandang. Karena itu adalah istidraj (jebakan) bagi hamba dari Allah l. Nabi n bersabda:
“Bila kamu melihat Allah l memberi hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 561)
Kenikmatan Dunia Bukan Ujian Ringan
Kenikmatan dunia dengan berbagai macamnya merupakan ujian yang berat. Sahabat ‘Abdurrahman bin ’Auf z berkata: “Dahulu kami diuji bersama Rasulullah n dengan kesengsaraan, maka kami (mampu) bersabar. Kemudian setelah Nabi n meninggal kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bersabar.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464
‘Abdurrahman bin ‘Auf z hendak mengatakan bahwa mereka diuji dengan kefakiran, kesulitan, dan siksaan (musuh) maka mereka mampu bersabar. Namun tatkala (kesenangan) dunia, kekuasaan, dan ketenangan datang kepada mereka, maka mereka bersikap sombong. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi)
Di saat kran dunia dibuka lebar-lebar, maka manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya meskipun ada sesuatu yang harus dikorbankan. Persaudaraan yang dahulu terjalin erat kini harus rusak berantakan karena ambisi kebendaan. Sikap saling cinta dan benci yang dahulu diukur dengan agama, sekarang sudah terbalik timbangannya. Karena dunia mereka menjalin persaudaraan. Karenanya pula mereka melontarkan kebencian. Dengan ini mereka tega memutuskan tali kekerabatan, mengalirkan darah, dan melakukan beragam kemaksiatan. Seperti inilah bila kemewahan dunia menjadi puncak tujuan seseorang. Rasulullah n bersabda:
“Bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tetapi aku khawatir akan dibuka lebar (pintu) dunia kepada kalian, seperti telah dibuka lebar kepada orang sebelum kalian. Nanti kalian akan saling bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah bersaing untuknya. Nantinya (kemewahan) dunia akan membinasakan kalian seperti telah membinasakan mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adalah di akhir-akhir masa sahabat telah muncul gejala yang dikhawatirkan oleh Rasulullah n. Di mana fitnah kekuasaan telah memicu adanya peperangan. Persatuan mulai tercabik-cabik dan ketenangan sudah mulai terusik serta jiwa solidaritas melemah di antara manusia. Adalah ‘Abdullah bin Umar c berkata: “Sungguh kami telah mengalami suatu masa di mana tidak ada seorang pun (menganggap) lebih berhak dengan uang dinar dan dirhamnya yang dimilikinya lebih dari saudaranya yang muslim. Kemudian sekarang dinar dan dirham lebih dicintai oleh seorang daripada saudaranya yang muslim.” (Shahih Adab Al-Mufrad no. 81)
Tentunya, semakin jauh suatu masa dari zaman kenabian maka akan didapatkan kenyataan yang lebih pahit dan lebih menyedihkan dari sebelumnya. Tidak asing bila sekarang ada orang yang masih mengaku muslim namun tidak lagi peduli dengan kewajiban dan agamanya. Ambisi dunia telah menyita seluruh waktu, tenaga, dan hartanya. Seolah lisan hal-nya hendak mengatakan: “Hidup hanya di dunia, di sini kita hidup, di sini pula kita mati, dan tidak ada hari kebangkitan.” Orang seperti ini bila engkau ajak kepada kebaikan dan majelis ilmu, maka seribu alasan akan dikemukakan untuk tidak mendatanginya. Subhanallah, untuk dunia yang fana yang nantinya akan dia tinggalkan, segala kemampuan dia curahkan. Namun untuk amal kebaikan sebagai bekal untuk akhirat yang kekal ternyata tidak ada kesempatan barang sedikit pun.
Seseorang Akan Ditanya Tentang Nikmat
Nikmat bukan pemberian cuma-cuma yang kita bebas mempergunakannya semau kita. Bahkan ia merupakan amanah yang kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Allah l berfirman:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 8)
Ibnu ‘Abbas c menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan nikmat di sini adalah sehatnya badan, pendengaran, dan penglihatan. Allah l menanyai hamba-hamba-Nya tentang nikmat tersebut, pada apa mereka pergunakan. Allah l menanyai mereka padahal Allah l lebih tahu tentangnya daripada mereka. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tadi adalah berita dari Allah l bahwa seluruh nikmat akan ditanya oleh-Nya. Qatadah berkata: “Sesungguhnya Allah k menanyai semua hamba-Nya tentang apa yang Allah l telah titipkan kepada mereka berupa nikmat dan hak-Nya.” (lihat Tafsir Al-Qasimi, 7/379)
Nabi n bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) dari sisi Rabbnya di hari kiamat hingga ditanya tentang lima hal. Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang masa mudanya pada apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan pada apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari ilmunya?” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2417, cet. Al-Ma’arif)
Wallahu a’lam.
(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc)
No Results Found
Blogs
Gie Yong Bio : The Perfect Melting Pot .. - .. Berbagi Lewat Kata ..Beliau wafat tertembak meriam VOC pada tahun 1742 di selat antara Pulau Mandalika dan Pantai Ujung Watu, Jepara .. Mengacu pada kisah heroik 3 tokoh tersebut, Kelenteng Gie Yong Bio memang identik sekali dengan ...
Event AB di Jepara Tahun Lalu | ambyarbinangunSebagai desa wisata para tokoh-tokoh dan pemuda setempat memiliki tekad untuk melestarikan budaya seni ukir jepara dan serta patung kayu. Menurut kisah tatah ukir ditemukan di jepara atau “Tatah Sungging ...
Seniman Jepara Kritik Bibit Waluyo | Kabar 17Semarang – Sekelompok seniman dari Sanggar Seni Sekar Gandrung Jepara menggelar aksi teatrikal di Car Free Day Simpanglima Semarang, Minggu (19/5). Mereka mengkritik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah era Bibit ...
Videos
| Muhammad Oellay Syaifudin Kisah+para+tokoh+Jepara 's link # Sekilas tentang SYEKH SITI JENAR # *Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo. *Konsep dan ajaran Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariah. Menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syekh Siti Jenar, manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, Sholat, puasa, zakat, dan haji. Baginya, syariah baru akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia. Dimana seharusnya pemahaman ketauhidan melewati empat tahap, yaitu: ▪ Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain, ▪ Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu, ▪ Hakekat, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan ▪ Makrifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut, maka tahapan di bawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syekh Siti Jenar. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan label sesat. Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing-masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas. *Manunggaling Kawula Gusti Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia:  Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72 “ ” Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling Kawula Gusti. *Pengertian Zadhab Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak. Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini. Dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada Guru yang Mursyid yang berpedoman pada Al Quran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya. *Hamamayu Hayuning Bawana Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil 'alamin. Seseorang dianggap muslim salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya, bukannya menciptakan kerusakan di muka bumi. *Kontroversi Kontroversi yang lebih hebat muncul mengenai hal-ihwal kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat Kesultanan Demak. Di sisi kekuasaan, Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga, adalah keturunan elite Majapahit, sama seperti Raden Patah, dan mengakibatkan konflik di antara keduanya. Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan suatu tindakan bagi Syekh Siti Jenar untuk segera datang menghadap ke Kesultanan Demak. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tidak cukup untuk membuat Siti Jenar memenuhi panggilan untuk datang menghadap ke Kesultanan Demak hingga konon akhirnya para Walisongo sendirilah yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Syekh Siti Jenar berada. Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng. Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki. Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, dan Ki Pringgoboyo ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali. *Kisah pasca kematian Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Syekh Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak bunga dan cahaya memancar dari jenazahnya. Jenazah Syekh Siti Jenar sendiri selanjutnya dimakamkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain. Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki, antara lain Kiai Lonthang dari Semarang, Ki Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Tingkir. Kontroversi yang lain adalah bahwa kemungkinan terbesar Syekh Siti Jenar adalah salah satu tokoh Islam yang dengan segala kebijaksanaannya telah dapat mengadaptasi Islam dengan keluhuran ajaran Hindu dan Budha yang menjadi pegangan Bangsa Indonesia sehingga dapat terlihat dengan jelas bagaimana nilai daripada kehidupan dan kesejatian manusia dengan penciptanya yang ada dalam Bhagawad Gita berpadu dengan nilai yang diajarkan Alquran. Hal ini tentu saja tak berlebihan, karena dengan tingkat kerohanian dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar, ia akan mampu melakukan penghormatan kepada leluhur dan melestarikan nilai kebenaran yang diwariskan, menyerap agama baru dan melakukan penyesuain nilai agar dapat diterima oleh seluruh bangsa sehingga menjadi berkah keluhuran bagi alam semesta. Kalau para wali songo dengan pola gerakan yang lebih kepada keduniawian berusaha mengadopsi konsep Dewata Nawa Sanga di Hindu yang mereka personifikasikan ke dalam Wali Songo untuk mengubah pandangan masyarakat Hindu dan membelokkan kepada Islam pun dalam penggunaan cerita pewayangan Hindu seperti Mahabharata / Brathayudha dan Ramayana untuk membantu penyebaran agama Islam dengan melakukan sisipan sisipan ke dalamnya, namun Syekh Siti Jenar mengadaptasi nilai yang terkandung yang memang sudah ada di masyarakat Hindu dan Budha pada jaman keemasan Nusantara sehingga nilai kombinasi yang diperkenalkannya kepada masyarakat terbukti sangat cocok bahkan hingga saat ini. Terbukti bahwa daerah seperti Jogjakarta adalah salah satu daerah dengan eksistensi budaya yang sangat tinggi dan pranata sosial yang sangat beradab sebagai hasil penerapan konsep Hindu Budha dari para leluhur Bangsa Indonesia dengan nilai Islam sebagai budaya serapan baru. (Wallahu'alam bishawab) |
| Leonardo Rimba Kedua Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Joko Tingtong baru tahu kalau kemarin adalah hari Pentakosta, setelah googling di internet. Pentakosta adalah peringatan turunnya Rohul Quds ke atas kepala puluhan murid Yesus di Yerusalem dua milenium yg lalu. Setelah mereka berdoa dan puasa terus-menerus. Konon berasal dari surga, dikirim sendiri oleh Yesus yg sudah masuk ke surga pada hari Kenaikan Isa Almasih. Lidah api bernyala-nyala di dahi mereka, tanda terbukanya mata ketiga. Itulah Rohul Quds! Roh Kudus. Atau Holy Spirit dalam bahasa Inggris. Roh Kudus adalah Allah sendiri menurut pengajaran Kristen. Bagian dari Trinitas: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Simbolnya burung merpati. Tapi pertama-kali muncul sebagai lidah api, di dahi murid-murid Yesus. Joko yakin Yesus dan murid-muridnya menggunakan meditasi mata ketiga. Penggunaan kepala sebagai fokus meditasi, dan bukan dada! Pentakosta tanggalnya tiap tahun berubah, karena mengikuti kalender Yahudi. Perayaan Kristen yg tanggalnya tetap di kalender cuma Natal dan Tahun Baru. Diluar itu semuanya berubah-ubah karena mengikuti kalender Yahudi. Sebagai turunan dari Yudaisme, Kristen termasuk setia. Banyak perayaan kekristenan berasal dari tradisi Yahudi, yg telah diberikan warna Kristen. Warna Kristen artinya pakai Yesus. Yg orang mungkin ingat, ketika Pentakosta yg pertama, murid-murid Yesus berbicara dalam bahasa roh. Menurut Joko, bahasa roh adalah istilah salah kaprah. Bahasa Inggrisnya speaking in tongue. Berbicara di lidah. Ketika anda mengeluarkan apa yg ada di ujung lidah anda, maka anda berbicara di lidah. Efeknya menyembuhkan. Joko pikir orang Timur Tengah punya kebiasaan seperti itu. Kalau histeris, orang sana bisa berteriak di lidah. Lidahnya saja yg berteriak. Dari perut langsung ke dada dan lidah, tidak lewat kepala lagi. Mungkin termasuk gejala spontanitas. Menurut Joko, berbicara di lidah tidak ada hubungannya dengan intuisi yg adanya di cakra mata ketiga, di kepala. Bahasa lidah cuma semacam gejala histeris. Mungkin katharsis atau pelepasan emosi yg lama terpendam. Kalau dilepaskan, manusianya bisa tiba-tiba sembuh. Dan mungkin bisa membantu penyembuhan orang lain juga. Penyembuhan getok tular. Menular. Roh Kudus yg datang ke murid-murid Yesus tidak dapat dibendung. Tidak pakai dogma. Dengan energi Roh Kudus mereka bisa langsung menyembuhkan orang sakit. Dengan sekali sentuh saja. Atau bahkan cukup dengan mengeluarkan ucapan saja. Sama seperti Yesus. Joko percaya hal ini masih berlangsung terus, walaupun tentu saja kita tidak perlu seheboh murid-murid langsung dari Yesus. Jamannya sudah beda. Kita bisa pakai gaya yg lebih modern. Dan pengertian yg lebih modern juga. Penyembuhan bukanlah hal aneh. Sumbernya sama. Apa bedanya anda dengan murid-murid Yesus? Apa bedanya anda dari Petrus dan Paulus? Bahkan, apa bedanya anda dari Yesus sendiri? Tidak ada bedanya! Kalau Yesus dan murid-muridnya bisa, harusnya kita juga bisa. Kristen awal bukanlah agama, melainkan jalan spiritual. Bagaimana memiliki hati nurani yg bersih, hidup sehat apa adanya. Dan enjoy! Orang Kristen yg syiar agama suka menyitir perkataan Yesus dari Injil Yohanes yg bunyinya: Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Menurut Joko, itu benar. Anda ucapkan: Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Ucapkan itu sambil menunjuk diri anda sendiri. Yesus cuma simbol dari diri anda. Menurut Joko, ucapan Yesus yg paling powerful memang yg satu itu. Dan diucapkannya haruslah dengan pengertian bahwa anda sendirilah Yesus itu. Kenapa? Karena di injil yg sama juga dituliskan, bahwa kalau semua perbuatan Yesus dituliskan, maka bahkan semua buku yg ada di dunia ini tidak akan bisa memuatnya. Itu kunci dari perkataan Yesus di Injil Yohanes. Kenapa bahkan semua buku tidak bisa memuat kisah Yesus? Karena Yesus adalah setiap orang dari kita. Sehingga, bahkan semua buku di dunia ini tidak akan sanggup memuat seluruh kisahnya! Joko bahkan menyarankan agar mereka yg merasa tertarik dengan simbol Yesus untuk langsung menggunakannya saja. Sebagai orang spiritual kita tidak terikat agama, kata Joko. Agama adalah lembaga, dogma dan kotak sumbangan. Kita bukan agama, kita pejalan spiritual, bisa akses berbagai simbol spiritual tanpa resah dan gelisah. Tanpa perlu keluar masuk agama. Paling jauh agama cuma hiasan di KTP. Kita tidak hidup untuk agama. Agama cuma formalitas, spiritualitas bukan. Bukan formalitas melainkan kultivasi kesadaran pribadi. Orang Jawa telah mengenal kultivasi kesadaran pribadi sejak ribuan tahun lalu. Jawa yg multikultural. Sinkretik dan plural. Dan itu ditemuinya di banyak tempat. Banyak teman datang dari Pare, Kediri, pada saat acara darat Komunitas Spiritual Indonesia di Trowulan, Jawa Timur. Puluhan orang. Cukup banyak sebagai satu kelompok asal. Joko jadi ingat Clifford Geertz dan bukunya yg berjudul Abangan, Santri, dan Priyayi. Isinya tentang modus operandi masyarakat multikultural di Jawa Timur. Jalan bersamaan, tidak mengganggu satu sama lain. Begitu menurut Clifford Geertz di dalam bukunya yg merupakan hasil penelitian di Pare pada awal tahun 1950-an. Mungkin masih seperti itu situasinya saat ini. Joko harap masih seperti itu. Kediri terkenal dengan emasnya. Joko bilang itu bukan emas, tetapi perunggu. Memang dilapisi emas dengan teknik dari Cina. Bahan dasarnya perunggu, tetapi dilapis emas, dan digunakan oleh para punggawa. Waktu ke Kediri, Joko dapat sepasang gelang punggawa dari masa Kediri. Utuh, tapi dilapisi karat sampai total berwarna hijau. Diangkat dari Kali Brantas. Joko bersihkan dan dicek oleh temannya, seorang tukang emas. Memang benar, gelang perunggu itu dilapisi emas. Makanya sampai sekarang masih beredar mitos tentang emas Kediri. Konon kalau emas Kediri bisa terangkat, semua hutang-hutang Indonesia akan bisa terbayar lunas. Sayangnya bukan emas asli. Cuma perunggu yg dilapisi emas. Kediri satu jaman dengan Dinasti Song di Cina, sekitar 1,000 tahun lalu. Akhir-akhir ini banyak ditemukan kapal karam yg mengangkut keramik Cina dari masa itu. Ditemukan di lepas pantai Utara Pulau Jawa; pelabuhan Cirebon, Jepara dan Tuban. Yg mau dilelang oleh pemerintah RI beberapa tahun lalu adalah keramik Dinasti Song. Satu jaman dengan Kediri. Begitu banyak keramik yg diangkut dalam satu kapal karam itu saja. Bisa dibayangkan bagaimana mundar-mandirnya perdagangan Jawa dengan Cina saat itu. Ini masa yg remang-remang, kita cuma bisa rekonstruksi saja, karena tidak ada catatannya. Yg ada cuma bukti material, berupa kapal karam dan, tentu saja, di gen. Di Malaysia baru-baru ini dicoba periksa gen orang-orang yg datang dari Jawa dan menetap disana. Ditemukan, ternyata gen mereka yg datang dari Jawa banyak kemiripan dengan gen orang-orang yg bertempat tinggal di daratan Cina. Itu bukti secara saintifik menggunakan teknologi paling mutakhir. Jaman Dinasti Tang dan Song di Cina adalah masa keemasan perdagangan internasional di masa lalu. Cina berdagang dengan Timur Tengah, Persia, India, Korea, Jepang, dan Jawa. Waktu masa Majapahit, Cina sudah berganti dinasti. Digantikan dengan Dinasti Yuan, yaitu orang Mongol, yg lebih tertarik dengan penaklukan wilayah. Tercatat di sejarah dunia, Dinasti Yuan di Cina, yg bahkan kerabatnya bisa menggulung khalifah di Baghdad, ternyata tidak bisa menaklukan Jepang dan Jawa. Kekuasaan Mongol di Cina tidak lama, masa keemasan dan pudarnya Majapahit sejaman dengan Dinasti Ming di Cina. Ini dinasti yg tercerahkan. Cina mengirimkan armada besar-besaran untuk membuka hubungan perdagangan dengan seluruh dunia, bahkan sampai Afrika. Laksamana Cheng Ho bahkan sampai di-asosiasikan dengan Sam Po Kong. Pedahal seorang Cina Muslim. Dan bisa dipastikan golongan partikelir dari Cina tak habis-habisnya mengunjungi Jawa sejak saat itu, mungkin lebih intens. Tapi pedagang Cina cenderung pulang balik, atau menikah dengan perempuan lokal. Tidak ada upaya monopoli seperti orang-orang Barat. Joko merasa tidak terhitung pendatang dari Cina menetap di Jawa selama kurun waktu 1,000 tahun terakhir. Turun temurun memperkuat gen penduduk Jawa. Dan bisa dipastikan juga, kurang lebih, bahwa pendatang dari Cina kemungkinan besar menikah dengan anak perempuan penguasa lokal. Dan di ibukota Majapahit memang bertempat tinggal banyak pendatang dari Cina. Beragama Islam, dan beragama lain juga. Mungkin sampai berjumlah ribuan orang. Mereka itu kemana ketika Trowulan diserang? Tentu saja tetap di tempat, tidak bisa pulang. Mau pulang kemana lagi? Dan keturunannya adalah anda yg bertempat tinggal di Jawa Timur. Dan pastinya sampai ke Bali dan Madura juga. Madura tidak kurang pengaruh Cinanya dibandingkan dengan Bali. Kalau anda lihat ukiran-ukiran asli Madura, anda akan lihat warna-warninya. Warna-warni Cina. Dan, yg mungkin menentukan asimilasi disini adalah agama. Cina memang etnosentris, dan bahkan cenderung rasis, merasa diri paling berbudaya satu dunia. Itu Cina yg asli. Tetapi kalau sudah menjadi Muslim tidak begitu. Dalam hal ini Islam bisa dibilang menjadi sesuatu yg baru, melebarkan cara pandang etnosentris Cina yg kelewatan itu. Yg juga menarik adalah Gus Dur. Bagaimana Gus Dur bisa tahu bahwa dia keturunan Cina dari suku Hakka? Bisa dipastikan bahwa keluarganya memegang silsilah. Semua kecuali satu orang Wali Sanga adalah keturunan Cina. Kalau Wali Sanga keturunan Cina, maka pendiri pesantren-pesantren adalah keturunan Cina juga. Yg juga sama sekali tidak masalah. Ini penetrasi modernitas yg paling mutakhir saat itu. Etnik Cina memang lebih punya akses ke informasi saat itu, karena bisa baca tulis. Menjadi katalis untuk memodernkan Jawa. Tapi, ada juga tapinya. Satu sisi dari etnik Cina menjadi para wali dan mendirikan pesantren. Mungkin ini yg sekarang disebut golongan putihan. Satu sisi lagi masuk keraton dan menjadi pujangga istana. Harusnya disebut abangan. Dan sekarang dikenal sebagai Kejawen. Kalau para wali dan pendiri pesantren adalah keturunan Cina, mengapa para pujangga istana di Jawa bagian tengah bukan keturunan Cina juga? Itu hipotesa Joko, untuk menjawab pertanyaan kenapa istana-istana di Jawa bagian tengah agak anti asing. Pedahal Jawa sinkretik. Penjelasan Joko, mereka anti asing karena sastranya dibuat oleh keturunan Cina. Yg Islamnya setengah. Islam Kejawen. Bukan berarti Joko bilang jelek, tidak begitu. Segala sesuatu ada fungsinya. Kejawen atau abangan adalah penyeimbang yg putihan. Intuisi Joko malahan bilang Islam yg diajarkan Wali Sanga sudah akulturasi maksimal di jamannya. Mereka masih pakai dupa. Kemenyan dan setanggi yg sekarang boleh bilang tidak dipakai lagi. Waktu Joko masih kecil, selametan di kampung-kampung di Jawa Barat masih pakai setanggi. Bisa beli di warung. Sekarang sudah tidak ada lagi. Dianggap haram. Yg seperti itu di jaman para wali, betapapun ekstrimnya dilihat dari kacamata kita saat ini, bisa dipastikan masih dipraktekkan secara meluas. Kita makin lama makin konservatif. Kita merasa kembali ke masa awal yg lebih murni. Pedahal, kalau mau diteliti secara seksama praktek para wali, kemungkinan kita akan kaget berat. Kemungkinan besar para Wali Sanga masih mentoleransi banyak hal yg diwariskan oleh budaya Siwa-Buddha. Toleransinya besar sekali. Intoleransi baru muncul akhir-akhir ini saja. Orang Yahudi yg spiritual juga cukup banyak. Resminya beragama Yahudi, tetapi gaya hidupnya sekuler. Suka meditasi. Mungkin lebih dari separuh orang Yahudi adalah Yahudi sekuler. Total yg digolongkan Yahudi di seluruh dunia sekitar 14 juta sekarang, dan lebih banyak yg berada di Amerika Serikat daripada di Israel. Anti Semitisme sekarang diartikan sebagai anti Yahudi, pedahal yg termasuk ras semit bukan Yahudi saja. Arab juga semit. Dan tidak benar Yudaisme tidak pernah melakukan penyebaran agama. Pernah juga, tapi tidak diteruskan. Yg marak disebarkan dan akhirnya dianut oleh lebih dari separuh penduduk dunia sampai saat ini adalah cabangnya. Turunan dari Yudaisme, yaitu Kristen dan Islam. Orang Yahudi punya kelebihan dibandingkan yg lain karena mereka sudah go international sejak 2,500 tahun yg lalu. Menjadi kelas menengah pertama di dunia. Kelas pedagang perantara. Dibutuhkan sekaligus dimusuhi. Madinah di jaman pra-Islam adalah kotanya orang Yahudi. Dibangun oleh orang-orang Yahudi yg menguasai perdagangan antara Yemen di Selatan dan Palestina di Utara. Mekkah penduduknya Arab, Madinah Yahudi. Di Mekkah ada juga orang Arab yg menganut Yudaisme, atau lebih tepatnya aliran Yudaisme yg percaya kepada Yesus. Termasuk disini Abu Thalib, paman Nabi Muhammad, dan Khadijah, istri nabi. Mereka proselyte (muallaf), mungkin sudah turun temurun juga. Proselyte atau muallaf artinya, orang-orang dari bangsa lain yg percaya kepada Tuhannya orang Yahudi. Setelah Yesus datang, banyak proselytes ini yg percaya kepada Yesus juga. Dengan kata lain, kalau pakai istilah sekarang, menjadi Kristen. Abu Thalib dan Khadijah itu agamanya Kristen. Kristen versi lokal, yg marak di Timur Tengah saat itu. Kristen juga, walaupun tidak sama dengan Kristen yg berkembang di Eropa. Kalau saat itu didata, bahkan Nabi Muhammad akan digolongkan sebagai penganut Kristen juga, karena dia percaya Yesus. Kalau percaya Tuhannya Yahudi tetapi tidak percaya Yesus, namanya proselyte biasa. Kalau percaya Tuhannya orang Yahudi, sekaligus percaya kepada Yesus, maka digolongkan sebagai Kristen. Makanya Nabi Muhammad tidak cocok dengan orang Yahudi di Madinah, tetapi bisa memberikan tempat kepada orang-orang Kristen untuk beribadah di masjidnya. Ada hadist yg menceritakan itu, dan Joko percaya itu asli. Yahudi di negara-negara Barat sinonim dengan kelas menengah yg mapan, lebih tinggi taraf hidupnya dibandingkan rata-rata penduduk. Status sosial ekonominya lebih tinggi, mungkin paling tinggi. Mampu beradaptasi, jelas karena sudah ribuan tahun tinggal di diaspora atau perantauan. Orang Indonesia yg baru beberapa tahun saja tinggal di perantauan juga sudah beda sikapnya, apalagi orang Yahudi yg sudah ribuan tahun? Itulah rahasianya. Bisa mempertahankan identitas walaupun sudah ribuan tahun tinggal di perantauan, di Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Asia. Mungkin yg sudah hilang jauh lebih banyak lagi karena kalau tidak menganut Yudaisme berarti langsung terserap ke masyarakat setempat. Yg masih menganut Yudaisme juga tidak asli lagi. Banyak yg kawin campur. Tetapi, asal masih menganut Yudaisme, maka tetap akan diakui. Makanya ada Yahudi putih, ada juga Yahudi item. Semuanya diakui. Keyahudian bukan hanya tentang etnik saja, melainkan agama juga, yg seharusnya tidak menjadi masalah karena merupakan pilihan bagi orangnya. Dulu menjadi masalah di Eropa ketika Kristen merajalela dan orang Yahudi dipaksa menjadi Kristen atau diusir keluar. Sekarang Eropa sudah beda. Yg masih praktek diskriminasi adalah Israel, tetap mendefinisikan Yahudi sebagai agama. Kalau anda penganut Yahudi secara turun-temurun, maka anda berhak datang ke Israel dan menuntut diakui sebagai warganegara. Bisa dilakukan saat anda turun di airport Tel Aviv. Dan langsung diproses saat itu juga. Tapi, kalau anda Yahudi yg sudah beragama lain, Kristen atau Islam, maka itu tidak bisa. Tata cara ibadah Kristen juga diambil-alih dari sholat orang Yahudi. Cuma, Kristen pakai bangku untuk bersujud. Jadinya berlutut, dan bukan bersujud di lantai seperti aslinya.Tetapi tata cara ibadah tetap mengikuti ritual Yahudi di synagoga yg sudah ada sebelum Kristen mapan. Tata cara ibadah Islam juga mengikuti contoh Yahudi. Atau, lebih tepatnya Yahudi dan Kristen. Kristen yg langsung ke Arab tanpa lewat Eropa. Nabi Muhammad dan keluarganya adalah penganut Kristen langsung, yg diturunkan oleh Yesus dan murid-muridnya, tanpa lewat Eropa. Makanya tidak kenal Trinitas. Trinitas itu produk Kristen Eropa. Kristen Arab seperti dianut oleh Abu Thalib dan Khadijah tidak mengenal Trinitas. Di dalam Al Quran juga terdapat Injil. Injil beda dengan Alkitab, yaitu seluruh kitab suci Kristen. Yg namanya Injil adalah kisah hidup Yesus thok. Dari lahir sampai mati. Dan itu juga ada di dalam Al Quran, yaitu Surah Al Maryam. Surah Al Maryam itu Injil. Bukan versi Injil seperti yg dipakai oleh orang-orang Kristen di Barat, tetapi Injil yg dipakai oleh orang Arab. Memang samawi. Artinya sama. Asal-usulnya sama, yaitu Yahudi. Yg juga harusnya tidak menjadi masalah karena kita tidak rasis. Dan yg mengakui Yesus cuma orang Kristen dan Islam saja. Yahudi tidak mengakui. Joko bahkan berani bilang bahwa Islam awal adalah varian Kristen yg berkembang di jazirah Arabia. Mereka tetap mempertahankan syariat sunat dan tidak makan daging babi. Dan tidak pakai dogma Trinitas. Yg menghapuskan syariat sunat dan haram makan babi itu Kristen yg masuk ke Eropa. Saat itu, kalau percaya Yesus, otomatis dianggap Kristen. Agama Islam belum dikenal. Belum disebut Islam. Bahkan sampai awal abad ke-19, di literatur Barat, agamanya disebut sebagai Mohammedan, pengikut Muhammad. Dan dari pandangan Kristen yg megalomaniak di saat jaya-jayanya, tentu saja itu aberasi, penyimpangan berat. Memang bukan Yahudi, tetapi tidak dianggap Kristen juga. Kalau mau dianggap Kristen harus tunduk kepada Roma. Harus menerima Trinitas. Yahudi di perantauan tidak mau kembali lagi ke Palestina karena sudah makmur dimana-mana. Walaupun dapat diskriminasi, Yahudi telah menjadi kelas menengah, pedagang perantara dikota-kota besar Eropa dan Timur Tengah. Tidak mau kembali lagi ke Palestina yg cuma ditempati oleh orang Bedouin. Nomad penggembala kambing. Tidak ada yg perduli lagi itu wilayah sampai diributkan dalam Perang Salib, yg tidak lain usaha dari Paus di Roma untuk mengalihkan perhatian dari masalah-masalah di Eropa. Perang Salib itu penjarahan besar-besaran oleh Kristen Eropa Barat terhadap Kristen Eropa Timur. Itu sebelum Turki Osmani muncul. Kristen Timur yg berpusat di Konstantinopel, atau Istambul sekarang, dijarah habis. Palestina diduduki. Cuma bisa sekitar seratus tahun, setelah itu ditinggal. Kenapa? Karena orang-orang Eropa tidak tertarik untuk mempertahankan wilayah itu. Tidak ada hartanya. Yg ada cuma reruntuhan Kuil Yahudi yg terakhir dibangun oleh Herodes, dan dihancurkan oleh orang Romawi di tahun 70 M. Dihancurkan waktu menumpas pemberontakan orang Yahudi. Sejak itu orang Yahudi diusir keluar dari Palestina. Diusir oleh penguasa Romawi. Semua harus keluar, tidak boleh bertempat tinggal disana. Kuil Yahudi tidak pernah dibangun lagi sampai sekarang. Sisa kuil itu sekarang adalah sisi Baratnya, yg dikenal sebagai the wailing wall atau tembok ratapan. Cuma itu yg asli. Sisanya bukan. Dan di tempat yg dulunya ada Kuil Sulaiman, sekarang ditempati oleh Masjid Al Aqsa. Kalau kita masih di jaman pertengahan, itu masjid mungkin sudah dihancurkan oleh Israel. Sekarang tentu saja tidak bisa. Apapun yg terjadi, bahkan apabila Yerusalem tetap di tangan Israel, masjid itu aman. Tidak bisa diambil alih. Dan itulah yg menjadi sumber sengketa dengan orang-orang Yahudi fanatik yg mau mengambil alih lokasi asli tempat Kuil Sulaiman dulu berada. Tentu saja tidak bisa. Jamannya sudah berubah. Joko sendiri berpendapat bahwa jaman dulu Yerusalem merupakan milik pribadi dari Raja Daud, yg di Islam dikenal sebagai Nabi Daud. Istananya terletak di atas bukit itu, yg sekarang ditempati oleh Masjid Al Aqsa. Kuil untuk Tuhan terletak di sebelah istananya. Bisa dibayangkan betapa sederhana sekali. Dan baru dibangun besar-besaran oleh Raja Sulaiman. Dihancurkan dalam perang dengan Babilonia atau Irak. Lalu dibangun lagi oleh Herodes. Hancur di tahun 70 M oleh orang Romawi. Kultus JHVH atau Tuhannya orang Yahudi di Palestina mungkin tidak beda jauh dengan kultus serupa di masyarakat tradisional lainnya. Penguasa punya kediaman sederhana, dan di sebelahnya dibangun tempat ibadah untuk Tuhannya. Sama saja seperti Nabi Muhammad, yg punya masjid di sebelah rumahnya yg sederhana di Mekkah? Nabi Muhammad sendiri ber-nubuah mengikuti tradisi Yahudi. Memang seperti itulah caranya. Ada yg langsung diucapkan, dan ada yg dituliskan. Ada nabi yg menulis nubuahnya, dan ada yg nubuahnya cuma diucapkan dan dituliskan oleh orang lain. Yesus termasuk nabi yg nubuahnya dituliskan oleh orang lain. Daud juga, karena kemungkinan besar buta huruf. Yg orang sering salah kaprah adalah asal muasal nubuah, seolah-olah ahistoris. Tidak ada sangkut-pautnya dengan kejadian sebelumnya. Itu tidak benar. Nubuah selalu berlaku dalam konteks. Ada konteks kesejarahan. Tempat dan ruang waktu. Muhammad sebagai nabi adalah orang yg dibesarkan dalam keluarga proselyte. Pamannya yg bernama Abu Thalib adalah orang Kristen. Istrinya yg bernama Khadijah juga orang Kristen. Nah, orang Kristen saat itu, dan bahkan sampai saat ini pula, adalah orang-orang yg menguasai kitab-kitab Yahudi. Semua kitab suci Yahudi diakui dan dipakai oleh Kristen, makanya orang-orang Kristen paham semua nabi-nabi Yahudi. Kalau bernubuah, rujukan kepada pendahulu bisa disebutkan. Bukan datang begitu saja, tapi dalam konteks kesejarahan. Artinya sang nabi yg sekarang bernubuah memang mengerti ada kisah sebelumnya. Misalnya, seperti Yesus yg ditanya tentang nabi-nabi Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tentang apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Things like that. Yesus juga bicara tentang para pendahulunya. Muhammad juga. Mereka adalah orang-orang yg dibesarkan dalam tradisi Yahudi. Yesus karena asli Yahudi. Ibunya orang Yahudi, walaupun kita tidak tahu siapa bapaknya. Mungkin saja Yesus bapak biologisnya orang Romawi, kita tidak tahu. Tapi itu tidak masalah buat orang Yahudi. Kalau ibunya orang Yahudi, maka anaknya orang Yahudi juga. Nabi Muhammad bukan orang Yahudi, tetapi proselyte. Banyak saat itu. Turun temurun menyembah Tuhannya orang Yahudi, dan berkiblat ke Yerusalem kalau sembahyang. Nah, sebagian proselytes itu ada yg menjadi Kristen. Kalau percaya Yesus, artinya sudah menjadi Kristen. Kalau cuma percaya Tuhannya orang Yahudi, artinya cuma proselyte biasa. Nabi Muhammad bisa berbicara begitu fasih dengan orang Yahudi karena PD, percaya diri. Tentu saja PD karena dia dibesarkan dalam keluarga proselyte, yaitu orang Arab yg menyembah Tuhannya orang Yahudi. Tetapi dia itu proselyte plus karena percaya juga kepada Yesus. Itu salah satu sumber konflik dengan orang-orang Yahudi di Madinah. Karena Muhammad percaya Yesus, maka tidak dianggap seiman oleh orang Yahudi. Muhammad sendiri menganggap dirinya seiman dengan orang-orang Kristen. Di jaman Muhammad, masjid bisa digunakan untuk peribadatan orang Kristen. Tata cara peribadatannya sama. Kita tidak tahu sekarang seperti apa, tapi bisa dipastikan kurang lebih sama. Tapi bukan Kristen Barat, melainkan Kristen Timur Tengah, yg tidak menganut doktrin Trinitas. Waktu itu ada dua Kristen, yg Trinitas dan yg bukan. Nabi Muhammad berasal dari golongan Kristen non Trinitas. Makanya akhirnya Kristen yg menganut Trinitas memusuhi Islam. And vice versa. Islam menganggap Kristen Barat sebagai politheist, dan Kristen Barat menganggap Islam sebagai penyimpangan, karena dipercaya setelah Yesus tidak ada nabi-nabi lagi. Tidak ada nabi lagi sampai Yesus datang kembali. Banyak sekali salah kaprah tentang Yudaisme di Indonesia. Joko bisa tahu yg sebenarnya karena baca sendiri dari sumber-sumber berbahasa Inggris. Saya tidak suka sumber berbahasa Indonesia karena banyak salah kaprah, katanya. Saya bahkan tidak mau baca Al Quran dalam bahasa Indonesia karena artinya beda jauh dengan terjemahan bahasa Inggris yg berusaha untuk setia sedekat mungkin kepada arti asli. Alkitab juga saya baca yg bahasa Inggris. Alkitab itu kitab suci Kristen, isinya semua kitab suci Yahudi atau Tanakh, ditambah dengan kitab-kitab Kristen. Makanya mereka yg berlatar-belakang Kristen lebih mudah mengikuti sejarah dan pemikiran di Yudaisme. Yg Islam tidak begitu karena Al Quran susunannya melompat-lompat, bisa lompat dari satu konteks ke konteks lainnya, dalam susunan yg berdekatan. Satu ayat belum tentu merupakan sambungan ayat berikutnya. Kalau anda berlatar-belakang Yahudi atau Kristen, maka anda akan otomatis lebih mudah mengikuti Islam, karena Al Quran merujuk banyak kejadian-kejadian di Tanakh Yahudi, dan Perjanjian Baru Kristen. Tetapi tidak sebaliknya. Islam, walaupun yg terakhir, susah sekali mengikuti Yahudi dan Kristen dengan satu alasan utama, karena susunan Al Quran melompat-lompat. Anda susah menyusun kronologi sejarah Israel dari Al Quran thok. Faktanya, Al Quran itu seperti resume. Ringkasan. Dan memang ringkas. Relatif Al Quran tipis sekali kalau dibandingkan Tanakh dan Alkitab. Saya pikir, Islam awal sebenarnya aliran tarekat, kata Joko. Salah satu tarekat dari Kristen. Islam juga agama mesianistik, karena turunan dari Yahudi dan Kristen. Imam Mahdi di Islam, yg konon akan datang pada akhir jaman, kurang lebih itu sosok Yesus di dalam Kristen. Joko merasa di hadist ada disebutkan bahwa yg akan datang pada akhir jaman adalah Nabi Isa. Itu salah satu kepercayaan Kristen yg diambil-alih Islam. Jadi, menurut Islam orthodox, Yesus itu Islam, dan Kristen itu sesat, yg juga wajar saja. Begitu cara kerja institusi agama, melalui pembenaran-pembenaran diri sendiri, dan penyalahan-penyalahan pihak lain. Kalau tidak begitu, tidak bisa mempertahankan pengikut dan mengembangkan diri. Untuk mempertahankan pangsa pasar (marketshare) digunakan berbagai kiat. Wajar saja. Namanya pasar bebas (freemarket). Yahudi yg percaya mesias sudah datang dalam bentuk Yesus diusir keluar dari komunitas Yahudi. Itu sudah terjadi 2,000 tahun lalu. Maka lahirlah agama Kristen. Tadinya tidak berpisah. Tadinya pengikut Yesus merupakan tarekat di dalam Yudaisme. Tetapi karena diusir keluar, maka mereka membuat organisasi baru. Dasar-dasarnya tetap Yahudi. Kristen itu tetap Yahudi, bahkan sampai sekarang. Tidak bisa melepaskan diri dari akar Yahudinya. Yg juga sebenarnya tidak menjadi masalah karena pembaharuan selalu ada. Kitab suci Yahudi tetap dipakai, tetapi interpretasinya beda. Beda jauh. Apalagi oleh orang yg liberal. Mereka yg paling liberal di Kristen, Yudaisme dan Islam boleh bilang satu agama. Dan itu ada. Yahudi liberal, Kristen liberal, dan Islam liberal. Ini satu agama, walaupun organisasinya beda-beda. Imannya sama, yaitu melihat yg essensial, inti, dan melepaskan segala pernak-pernik etnik dan sahibul hikayat. Kalau yg remeh temeh tapi dianggap penting ini sudah dilepaskan, maka orang-orang dari tradisi samawi bisa bersatu. Namanya liberal. Mungkin lebih tepat ultra liberal. Tentang akhir jaman, ada beberapa interpretasi. Bahkan di Kristen juga tidak cuma satu interpretasi. Ada interpretasi literal atau harafiah. Beberapa versi interpretasi harafiah. Dengan tokoh-tokohnya, termasuk Gog dan Magog yg di Islam menjadi Jun dan Majun. Sumbernya adalah kitab Wahyu, yaitu kitab terakhir di Alkitab. Proses pembuatan wahyu bisa ditelusuri, kalau mau. Berbagai ayat di Tanakh bisa dicernakan dan dibawa ke dalam doa-doa. Lalu muncullah penglihatan-penglihatan akhir jaman yg akhirnya dikenal sebagai ayat-ayat dalam kitab Wahyu. Masuk ke Al Quran juga dalam berbagai variannya. Yg runyam, institusi agama bisa interpretasi bahwa setan adalah institusi lawannya. Jadi, yg Islam fanatik bisa bilang setannya adalah Kristen. Dan yg Kristen fanatik bisa bilang setannya adalah Islam. Yg Yahudi fanatik bisa bilang setannya adalah Kristen dan Islam. Kurang lebih seperti itu skenarionya yg membuat dunia semakin gila. Kalau mau ikuti cara pandang orang fanatik, kita bisa jadi gila. Tidak berpijak di atas bumi, tapi tertutup mata ketiganya. Tertutup rapat, tidak bisa mengerti bahwa itu semua cuma buatan. Kitab-kitab itu buatan. Isinya simbolik. Berasal dari peradaban manusia di suatu tempat dan masa tertentu. Bisa dipakai kalau bermanfaat, dan bisa dibuang kalau tidak bermanfaat. Dan tidak perlu dicaci-maki juga. Kalau merasa sudah tidak cocok, cukup ditinggalkan saja. Jalans spiritual harusnya mengerti bahwa ada yg diambil dan ada yg dibuang. Yg lebih relevan diambil, dipakai. Yg sudah tidak relevan, tidak lagi bermanfaat, dibuang. Itu wajar juga. Tanpa perlu ribut-ribut dan bikin heboh. Joko sendiri sudah pernah memberikan interpretasi tentang akhir jaman. Tentang Imam Mahdi. Tentang Isa yg datang kembali. Interpretasi Joko, Imam Mahdi itu anda sendiri. Isa yg datang kembali itu anda sendiri. Ketika anda sadar akan hal itu, artinya kiamat sudah terjadi. Sudah lewat. Dan sekarang sudah masuk jaman baru. Andalah Imam Mahdi, andalah Isa. Dan anda bebas untuk menciptakan surga di atas bumi. Sekarang dan disini. Here and now. Mungkin lebih tepatnya kita pakai istilah simbolik untuk merujuk kepada skenario kiamat atau akhir jaman. Simbol dari pencerahan. Kalau manusianya sudah tercerahkan, dia akan sadar sendiri bahwa dirinyalah Maschiah, Mesias, Kristus, Imam Mahdi. Kalau ada dua, seperti versi Islam, maka keduanya adalah anda sendiri. Andalah Imam Mahdi, dan andalah Isa yg datang kedua kali. Artinya anda bisa menjadi manusia yg sadar, wajar, adil makmur, dan sekaligus menjadi penyelamat diri anda sendiri dan orang-orang lain yg minta bantuan dan bisa anda selamatkan. Dan anda bantu, kalau bisa. |
Muchsen Amen![]() Kisah+para+tokoh+Jepara 's video linkPrabowo Subianto berbicara dengan Dalton Tanonaka mengenai keinginannya menjadi presiden Republik Indonesia, kepergiannya ke Jordan tahun 1998, berakhirnya d... |
| Hendra Maulana alislamu.com Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Pusat Kajian Islam |
| Marwah Ali Kisah+para+tokoh+Jepara 's link - Imam Hadits terpercaya al-Bukhari meriwayatkan dari Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’ dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra: Nabi Muhammad Sawa berdiri berpidato seraya menunjuk ke arah rumah ‘Aisyah kemudian bersabda: “Di situlah fitnah! Di situlah fitnah! Di situlah fitnah! di mana tanduk syaitan akan muncul!”. (1) - ‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah Sawa keluar dari rumah ‘Aisyah dan Beliau Saw bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini (dari rumah ‘Aisyah), dan dari sini (Dari rumah ‘Aisyah) akan muncul tanduk syaitan’!”. (2) - Rasul Allah Saw keluar dari rumah ‘Aisyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk syaitan!”. (3) -------------------------------------------------- 1. .Shahih Bukhari, 4/100 Bab Ma Jaa Fî Buyuti Azwaji an Nabi Saw, baca juga Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 23 dan 26, baca juga Fathul Bari, 13/69. 2. Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23. 3. Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26. |
| Olix Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Memang taqiyah juga dikenal di kalangan Ahlussunnah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam. Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka. Taqiyah dilakukan kepada orang selain Syi’ah, seperti ungkapan bahwa Quran Syi’ah adalah sama dengan Quran Ahlussunnah. Padahal ungkapan ini hanyalah kepura-puraan mereka. Mereka juga bertaqiyah dengan pura-pura mengakui pemerintahan Islam selain Syi’ah. Padahal kakikatnya orang Syi’ah sangat membenci dan menganggap pemerintahan tersebut telah merampas. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang Syi’ah adalah melakukan kawin mut’ah (kawin kontrak), tidak melakukan shalat Jumat sebelum datangnya imam ke-12, suka berdebat membahas tentang wasiat Rasulullah , dan tidak mau menampakkan kesyi’ahannya dengan menyimpan semua akidahnya di dalam dada dengan cara taqiyah. Orang Syi’ah begitu bersemangat melontarkan slogan ‘La syarqiyah wala gharbiyah walakin islamiyah’diterjemahkan dengan ‘tidak Syi’ah tidak juga Suni tetapi Islam’, sesudah terpola dengan tidak mempermasalahkan Syi’ah , barulah mereka muati dakwahnya dengan akidah Syi’ah. Saudaraku kaum Muslimin. Perlu diketahui bahwa di antara kota-kota yang dijadikan sebagai pusat penyebaran ajaran Syi’ah adalah Bandung, Pekalongan, dan Bangil. Silakan periksa lebih detil lagi keberadaan yayasan Syi’ah di seluruh Indonesia, bisa dicek lewat internet. Tidak rahasia lagi bahwa pada waktu Khumaini berkuasa , banyak ulama Suni di Iran yang dibantai dan disiksa, masjid-masjid Muslim pun dihancurkan. Begitupun setelah Irak dikuasai oleh AS dan diberikan kelanjutannya kepada Syiah, banyak pula ulama Islam sunni yang mereka bunuh hingga sekarang. Perlu juga diingat bahwa antara Syi’ah dan Yahudi adalah bersaudara. Karena memang pencetus Syi’ah adalah Abdullah bin Saba yang Yahudi. Ia pura-pura masuk Islam, karena tidak senang melihat persatuan umat Islam dalam Ahlussunnah pada waktu itu. Perhatikan sejarah terbunuhnya Utsman dan pembunuhan-pembunuhan berikutnya. Sejarah kontemporer juga menguatkan bukti sejarah lampau. Bukan sebuah rahasia jika masuknya Amerika ke Afghanistan tidak lain karena dibantu oleh kaum Syi’ah. Sebelumnya juga begitu, hancurnya Irak pun dengan peran serta kaum Syi’ah Irak dan Iran, hingga sekarang kekuasaan dipegang oleh orang Syi’ah yang menjadi boneka negara penjajah—tidak layak dilupakan kisah sepak terjang pengkhianatan Alqomah yang Syi’ah bekerja sama dengan Tartar meluluhlantakkan Baghdad pada zaman dahulu. Lihat pula Libanon. Untuk memancing Amerika masuk, Syi’ah lewat tentaranya, ‘Hizbullah’ melakukan gerakan pura-pura melawan Amerika. Kemudian setelah Amerika lewat Israel melakukan serangan balik mereka lari hingga yang dibantai adalah penduduk yang Ahlussunnah. Akhir-akhir ini Yaman dan perbatasan Saudi Arabia juga digoncang oleh ulah Syi’ah. Orang Syi’ah pura-pura menyerang. Jika terjadi perang mereka berharap akan masuklah Yahudi/Amerika dengan alasan keamanan. Begitupun apa yang telah terjadi di Suriah baru baru ini, mereka tidak ingin kekuatan islam sunni berkibar di Suriah, yang sebenarnya adalah daerah pertahanan Israel. Bila Suriah terkuasai oleh umat Islam, maka tak mustahil, Jordania pun terkuasai pula , yang pada akhirnya Israel akan getar getir dan terancam tersingkir dari bumi palestina yang mereka jajah. Taqiyah secara definisi Taqiyah adalah merahasiakan keyakinan dari para lawan yang bisa merugikan agama dan jiwanya. Ali Muhammad al-Syalabi menerangkan, adapun Taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran ; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan (Ali Muhammad al-Syalabi, Fikr al-Khawarij wa al-Syiah fi Mizan Ahlissunnah wal Jama’ah, hal. 311). Posisi ajaran taqiyah dalam Syiah sangat esensial. Seperti kata al-Kulaini, penulis al-Kafi: لا دين لمن لا تقية له “Tidak beragama orang yang tidak menggunakan konsep taqiyah.” (al-Kulaini, Ushul al-Kafi, jilid II, hal. 217). Karena itu, Ibnu Babawaih, tokoh besar Syiah klasik, berfatwa bahwa hukum menerapkan taqiyah itu wajib, seperti kewajiban menjalankan shalat. Ia mengatakan; “Keyakinan kita tentang hukum taqiyah adalah wajib, barang siapa yang meninggalkan taqiyah sama halnya dengan meninggalkan shalat.” (Ibnu Babawaihi, al-I’tiqadat, hal. 114). Dalam keyakinan Syiah, taqiyah merupakan pilar-pilar utama agama. Taqiyah diserupakan dengan Sembilan persepuluh dari agama mereka. Sementara rukun-rukun Islam dan kewajiban dalam Islam lainnya hanya sepadan dengan satu persepuluh. Ini artinya, taqiyah lebih utama daripada rukun Islam. (lihat al-Kafi, juz II hal. 217, Badzlul Majhud juz II hal. 637). Jumlah penganut Syiah di Indonesia Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran jumlah penganut Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat. Pemeluk Syiah, kata Kang Jalal melanjutkan, sebagian besar ada di Bandung, Makassar, dan Jakarta. Selain itu, ada juga kelompok Syiah di Tegal, Jepara, Pekalongan, dan Semarang; Garut; Bondowoso, Pasuruan, dan Madura. Di Sampang, jumlah penganut Syiah tergolong kecil. Cuma 700 orang. “Karena Sampang kantong kecil, maka orang-orang berani menyerang mereka,” Jalal berujar. Meski jumlahnya tergolong banyak, hanya segelintir orang yang terbuka soal identitas Syiah. Dalam kesehariannya, mereka cenderung menutup diri. Mereka mempraktekkan taqiyah atau menyembunyikan identitas asli. Tujuannya, kata Kang Jalal, untuk menjaga persatuan. Tak sedikit ustad Syiah yang memberikan ceramah di masjid Sunni. Bahkan mereka beribadah seperti orang Islam pada umumnya. “Yang tahu orang itu Syiah, ya hanya orang Syiah sendiri. Lebih baik kami bersembunyi ketimbang berkonflik,” ujarnya. (bbrp sumber/Atturots/Tempo/dsb) (KabarDuniaIslam/eramuslim) _ |
| Jiwa Brutal Ingat Ilahi Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Syekh Siti Jenar Makam Syekh Siti Jenar di Demak. Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa.[1] Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar. Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran- ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti. Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo. Konsep dan ajaran Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariah. Menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syekh Siti Jenar, manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, Sholat, puasa, zakat, dan haji. Baginya, syariah baru akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia. Dimana seharusnya pemahaman ketauhidan melewati empat tahap, yaitu: Syariat, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain, Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu, Hakekat, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan Makrifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas- luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut, maka tahapan di bawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syekh Siti Jenar. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan label sesat. Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing- masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar. Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas. Manunggaling Kawula Gusti Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia:[2] “ Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh- Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72 ” Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al- Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling Kawula Gusti. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Pengertian Zadhab Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak. Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini. Dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada Guru yang Mursyid yang berpedoman pada Al Quran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya. Hamamayu Hayuning Bawana Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil 'alamin. Seseorang dianggap muslim salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya, bukannya menciptakan kerusakan di muka bumi. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Kontroversi Kontroversi yang lebih hebat muncul mengenai hal-ihwal kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat Kesultanan Demak. Di sisi kekuasaan, Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga, adalah keturunan elite Majapahit, sama seperti Raden Patah, dan mengakibatkan konflik di antara keduanya. Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan suatu tindakan bagi Syekh Siti Jenar untuk segera datang menghadap ke Kesultanan Demak. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tidak cukup untuk membuat Siti Jenar memenuhi panggilan untuk datang menghadap ke Kesultanan Demak hingga konon akhirnya para Walisongo sendirilah yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Syekh Siti Jenar berada.[rujukan?] Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng. Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.[rujukan?] Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu Ki Bisono, Ki Donoboyo, Ki Chantulo, dan Ki Pringgoboyo ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali. [rujukan?] ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Kisah pasca kematian Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Syekh Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak bunga dan cahaya memancar dari jenazahnya. Jenazah Syekh Siti Jenar sendiri selanjutnya dimakamkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.[rujukan?] Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki, antara lain Kiai Lonthang dari Semarang, Ki Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Tingkir. Kontroversi yang lain adalah bahwa kemungkinan terbesar Syekh Siti Jenar adalah salah satu tokoh Islam yang dengan segala kebijaksanaannya telah dapat mengadaptasi Islam dengan keluhuran ajaran Hindu dan Budha yang menjadi pegangan Bangsa Indonesia sehingga dapat terlihat dengan jelas bagaimana nilai daripada kehidupan dan kesejatian manusia dengan penciptanya yang ada dalam Bhagawad Gita berpadu dengan nilai yang diajarkan Alquran.[rujukan?] Hal ini tentu saja tak berlebihan, karena dengan tingkat kerohanian dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar, ia akan mampu melakukan penghormatan kepada leluhur dan melestarikan nilai kebenaran yang diwariskan, menyerap agama baru dan melakukan penyesuain nilai agar dapat diterima oleh seluruh bangsa sehingga menjadi berkah keluhuran bagi alam semesta. Kalau para wali songo dengan pola gerakan yang lebih kepada keduniawian berusaha mengadopsi konsep Dewata Nawa Sanga di Hindu yang mereka personifikasikan ke dalam Wali Songo untuk mengubah pandangan masyarakat Hindu dan membelokkan kepada Islam pun dalam penggunaan cerita pewayangan Hindu seperti Mahabharata / Brathayudha dan Ramayana untuk membantu penyebaran agama Islam dengan melakukan sisipan sisipan ke dalamnya, namun Syekh Siti Jenar mengadaptasi nilai yang terkandung yang memang sudah ada di masyarakat Hindu dan Budha pada jaman keemasan Nusantara sehingga nilai kombinasi yang diperkenalkannya kepada masyarakat terbukti sangat cocok bahkan hingga saat ini. Terbukti bahwa daerah seperti Jogjakarta adalah salah satu daerah dengan eksistensi budaya yang sangat tinggi dan pranata sosial yang sangat beradab sebagai hasil penerapan konsep Hindu Budha dari para leluhur Bangsa Indonesia dengan nilai Islam sebagai budaya serapan baru. |
| Elvian Firmansyah Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Sepuluh Tokoh Berpengaruh NU: Dari Hasyim Asy’ari sampai Presiden RI Bismilaahirrahmaanirrahiim. . . . Peran NU dari sejak berdirinya, 1926, sampai hari ini cukup signifikan. Tidak hanya dalam hal keagamaan, melainkan juga dalam bidang-bidang lain, termasuk politik. Kini, ketika NU memasuki usia 84 tahun, alKisah menyuguhkan penggalan-penggalan kisah sepuluh tokoh berpengaruh dalam kehidupan ormas keagamaan terbesar di Indonesia itu. 1. Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari: K.H. Hasyim Asy’ari lahir pada 24 Dzulqa`dah 1287 H atau 14 Februari 1871 M di Desa Nggedang, Jombang, Jawa Timur. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara pasangan Kiai Asy`ari bin Kiai Usman dari Desa Tingkir dan Halimah binti Usman. Ia lahir dari kalangan elite santri. Ayahnya pendiri Pesantren Keras. Kakek dari pihak ayah, Kiai Usman, pendiri Pesantren Gedang. Buyutnya dari pihak ayah, Kiai Sihah, pendiri Pesantren Tambakberas. Semuanya pesantern itu berada di Jombang. Sampai umur 13 tahun, Hasyim belajar kepada orangtuanya sendiri sampai pada taraf menjadi badal atau guru pengganti di Pesantren Keras. Muridnya tak jarang lebih tua dibandingkan dirinya. Pada umur 15 tahun, ia memulai pengembaraan ilmu ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura: Probolinggo (Pesantren Wonokoyo), Tuban (Pesantren Langitan), Bangkalan, Madura (Pesantren Trenggilis dan Pesantren Kademangan), dan Sidoarjo (Pesantren Siwalan Panji). Pada pengembaraannya yang terakhir itulah, ia, setelah belajar lima tahun dan umurnya telah genap 21 tahun, tepatnya tahun 1891, diambil menantu oleh Kiai Ya`kub, pemimpin Pesantren Siwalan Panji. Ia dinikahkan dengan Khadijah. Namun, dua tahun kemudian, 1893, saat pasangan ini tengah berada di Makkah, Khadijah meninggal di sana ketika melahirkan Abdullah. Dua bulan kemudian Abdullah pun menyusul ibunya. Kala itu Hasyim tengah belajar dan bermukim di tanah Hijaz. Tahun itu juga, Hasyim pulang ke tanah air. Namun tak lama kemudian, ia kembali ke Makkah bersama adiknya, Anis, untuk dan belajar. Tapi si adik juga meninggal di sana. Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar. Tahun 1900, ia pulang kampung dan mengajar di pesantren ayahnya. Tiga tahun kemudian, 1903, ia mengajar di Pesantren Kemuring, Kediri, sampai 1906, di tempat mertuanya, Kiai Romli, yang telah menikahkan dirinya dengan putrinya, Nafisah. Selama di Makkah ia belajar kepada Syaikh Mahfudz dari Termas (w. 1920), ulama Indonesia pertama pakar ilmu hadits yang mengajar kitab hadits Shahih Al-Bukhari di Makkah. Ilmu hadits inilah yang kemudian menjadi spesialisasi Pesantren Tebuireng, yang kelak didirikannya di Jombang sepulangnya dari Tanah Suci. Selama hidupnya, K.H. Hasyim menikah tujuh kali. Selain dengan Khadijah dan Nafisah, antara lain ia juga menikahi Nafiqah, dari Siwalan Panji, Masrurah, dari Pesantren Kapurejo, Kediri. Tahun 1899, 12 Rabi’ul Awwal 1317, ia mendirikan Pesantren Tebuireng. Lewat pesantren inilah K.H. Hasyim melancarkan pembaharuan sistem pendidikan keagamaan Islam tradisional, yaitu sistem musyawarah, sehingga para santri menjadi kreatif. Ia juga memperkenalkana pengetahuan umum dalam kurikulum pesantren, seperti Bahasa Melayu, Matematika, dan Ilmu Bumi. Bahkan sejak 1926 ditambah dengan Bahasa Belanda dan Sejarah Indonesia. Kiai Cholil Bangkalan, gurunya, yang juga dianggap sebagai pemimpin spiritual para kiai Jawa, pun sangat menghormati dirinya. Dan setelah Kiai Cholil wafat, K.H. Hasyim-lah yang dianggap sebagai pemimpin spiritual para kiai. Menghadapi penjajah Belanda, K.H. Hasyim menjalankan politik non-kooperatif. Banyak fatwanya yang menolak kebijakan pemerintah kolonial. Fatwa yang paling spektakuler adalah fatwa jihad, yaitu, “Wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawan Belanda.” Fatwa ini dikeluarkan menjelang meletusnya Peristiwa 10 November di Surabaya. Dalam paham keagamaan, pikiran yang paling mendasar Hasyim adalah pembelaannya terhadap cara beragama dengan sistem madzhab. Paham bermadzhab timbul sebagai upaya untuk memahami ajaran Al-Quran dan sunnah secara benar. Pandangan ini erat kaitannya dengan sikap beragama mayoritas muslim yang selama ini disebut Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut Hasyim, umat Islam boleh mempelajari selain keempat madzhab yang ada. Namun persoalannya, madzhab yang lain itu tidak banyak memiliki literatur, sehingga mata rantai pemikirannya terputus. Maka, tidak mungkin bisa memahami maksud yang dikandung Al-Quran dan hadits tanpa mempelajari pendapat para ulama besar yang disebut imam madzhab. NU didirikan antara lain untuk mempertahankan paham bermadzhab, yang ketika itu mendapat serangan gencar dari kalangan yang anti-madzhab. Kiai Hasyim wafat pada 7 Ramadhan 1366 atau 25 Juli 1947 pada usia 76 tahun. 2. Abdul Wahab Chasbullah : Ia lahir pada bulan Maret 1888 di Tambakberas, Jombang. Nasabnya tidak jauh dari Hasyim Asy`ari. Nasab keduanya bertemu dalam satu keturunan dari Kiai Abdus Salam (Siapa dia?). Ayahnya, Chasbullah, adalah pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas. Ibunya, Nyai Lathifah, juga putri kiai kondang (Siapa?). Pendidikannya dihabiskan di pesantren, mulai dari Pesantren Langitan (Tuban), Mojosari, Nganjuk, di bawah bimbingan Kiai Sholeh, Pesantren Cepoko, Tawangsari (Surabaya), hingga Pesantren Kademangan, Bangkalan (Madura), langsung berguru kepada Mbah Cholil. Kiai Cholil kemudian menganjurkannya belajar ke Pesantren Tebuireng (Jombang). Pada umur 27, ia pergi ke Makkah dan berguru kepada ulama-ulama besar Indonesia yang bermukim di sana, seperti Kiai Mahfudz Termas, Kiai Muhtarom Banyumas, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Kiai Bakir Yogya, Kiai Asy`ari Bawean. Ia juga belajar kepada tokoh-tokoh besar lain di sana yang bukan orang Indonesia, seperti Syaikh Sa`id Al-Yamani dan Syaikh Umar Bajened. Tahun 1921, sewaktu menunaikan ibadah haji bersama istri, sang istri meninggal di Makkah. Kemudian ia menikah dengan Alawiyah binti Alwi. Setelah melahirkan seorang anak, istri kedua ini juga meninggal. Setelah itu ia menikah berturut-turut dengan tiga wanita yang semuanya tidak memberikan keturunan. Empat anak diperolehnya dari istri berikutnya, Asnah binti Kiai Said. Setelah Asnah meninggal, ia menikah lagi dengan Fatimah binti H. Burhan, seorang janda yang punya anak bernama Syaichu, yang kelak menjadi ketua DPR pada masa Orde Baru. Sesudah itu ia menikah lagi dengan Masnah, dikaruniai seorang anak, lalu dengan Ashikhah binti Kiai Abdul Majid (Bangil), meninggal di Makkah setelah memberinya empat anak, dan yang terakhir dengan Sa`diyah, kakak sang istri, yang mendampinginya sampai akhir hayatnya dan memberinya keturunan lima anak. Sedikit mundur ke belakang, tahun 1914, ketika berumur 26 tahun, ia mendirikan kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) bersama K.H. Mas Mansur. Pada tahun 1916, ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negeri) di Surabaya. Pengajarnya terdiri dari banyak ulama tradisional muda, seperti K.H. Bisri Syansuri (1886-1980) dan K.H. Abdullah Ubaid (1899-1938), yang di kemudian hari memainkan peranan penting di NU. Masih pada tahun yang sama, bersama Kiai Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia mendirikan koperasi dagang Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Pedagang) untuk kalangan tradisionalis di kisaran Surabaya-Jombang. Pada tahun 1920, ia juga aktif dalam Islam Studie Club, jembatan untuk menghubungkan dirinya dengan tokoh-tokoh nasionalis modernis, seperti dr. Soetomo. Sejak 1924, Wahab Chasbullah telah mengusulkan agar dibentuk perhimpunan ulama untuk melindungi kepentingan kaum tradisionalis. Pada 31 Januari 1926, atas persetujuan Hasyim Asy`ari, ia mengundang para ulama terkemuka dari kalangan tradisionalis ke Surabaya untuk mengesahkan terbentuknya Komite Hijaz, yang akan mengirim delegasi ke kongres di Makkah untuk mempertahankan praktek-praktek keagamaan yang dianut kaum tradisionalis. Pertemuan 15 kiai terkemuka dari Jawa dan Madura itu dilakukan di rumah Wahab Chasbullah di Kertopaten, Surabaya. Pertemuan tersebut akhirnya juga menghasilkan kesepakatan mendirikan NU, sebagai representasi Islam tradisional, untuk mewakili dan memperkukuh Islam tradisional di Hindia Belanda. Kemudian, MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia, Dewan Tertinggi Islam di Indonesia), yang terbentuk pada September 1937, juga merupakan gagasan Wahab Chasbullah dan Ahmad Dahlan Kebondalem (NU), Mas Mansur (Muhammadiyah), dan Wondoamiseno (SI). Federasi organisasi Islam ini bertujuan meningkatkan komunikasi dan kerja sama di antara umat Islam. Namun kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan dibentuklah Masyumi pada November 1943. Hasyim Asy`ari ditunjuk sebagai ketua umum dan Whab Chasbullah sebagai penasihat dewan pelaksananya. Meski Masyumi adalah organisasi non-politik, pada kenyataannya fungsinya setengah politis, dimaksudkan untuk memperkuat dukungan umat Islam terhadap pemerintahan Jepang. November 1945, Masyumi berubah menjadi parpol. Masyumi menjadi satu-satunya kendaraan politik umat Islam. Hasyim Asy`ari menjadi ketua umum Majelis Syuro (Dewan Penasihat Keagamaan), Wahid Hasyim, putra Hasyim Asy`ari, menjadi wakilnya, dan Wahab Chasbullah menjadi anggota dewan. Selanjutnya, setelah NU menyetujui peran politik bagi Masyumi lewat muktamar di Purwokerto (1946), orang-orang NU tampil di pemerintahan, yakni Wahid Hasyim, Kiai Masykur, dan K.H. Fathurahman Kafrawi. Sedang Wahab Chasbullah menjadi anggota DPA. Tahun 1947, Wahab Chasbullah menjabat rais am NU: Benih-benih krisis NU-Masyumi mulai tumbuh pada 1952. Saat itu Wahab Chasbullah menjadi ketua Dewan Syuro. Maka ia sangat gencar mengkampanyekan penarikan diri NU dari Masyumi. Dan secara resmi NU menarik diri dari Masyumi pada 31 Juli 1952. Pada sidang parlemen 17 September 1952, tujuh anggota parlemen dari NU menarik diri dari Masyumi. Di antaranya Wahab Chasbullah, Idham Chalid, Zainul Arifin. Mereka kemudian membentuk partai sendiri, NU. Akibatnya, Masyumi bukan lagi partai terbesar. “Gelar” itu jatuh ke tangan PNI. Pada Pemilu 1955, di luar dugaan, NU meraih tempat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Sejak itu kesibukan Wahab Chasbullah lebih banyak pada bidang politik praktis di Jakarta, terutama sebagai anggota parlemen dan rais am NU. K.H. Wahab Chasbullah wafat tanggal 29 Desember 1971, pada usia 83 tahun, di rumahnya di Kompleks Pesantren Tambakberas, Jombang. 3. Bisri Syansuri : RUU Perkawinan, yang menyita banyak perhatian umat Islam pada tahun 1974, terselesaikan dan diterima umat Islam salah satunya karena peran besar Bisri. Sebagai tokoh utama PPP, ia mengajukan amandemen besar atas RUU yang telah diajukan ke DPR RI. Rancangan tandingan yang dibuat bersama sejumlah ulama itu, setelah mendapat restu dari Majelis Syuro PPP, diperjuangkan di DPR hingga akhirnya disahkan. Begitu pula ketika ada usaha keras untuk mengganti tanda gambar PPP dari Ka`bah ke bintang pada Pemilu 1977, ia tampil dominan dan berhasil mempertahankan tanda gambar PPP. Diakui atau tidak, ia adalah penerus Wahab Chasbullah, yang kebetulan sahabat karib dan kakak iparnya, baik di NU, PPP, maupun DPR. Setelah Wahab wafat pada 1971, ia menggantikan posisi kakak iparnya itu di NU sebagai rais am. Tapi memang sejak adanya jabatan rais am, yang ditetapkan setelah wafatnya Hasyim Asy’ari pada 1947, keduanya menjadi “dwi tunggal” sebagai ketua dan wakil. Bisri, anak nomor tiga dari lima bersaudara pasangan Syansuri dan Maiah, lahir pada 18 September 1886/26 Dzulhijjah 1304 di Tayu, Jawa Tengah, daerah yang kuat memegang tradisi ajaran Islam. Umur tujuh tahun, ia belajar agama kepada Kiai Sholeh hingga umur sembilan tahun. Setelah itu ia mempelajari hadits, tafsir, dan bahasa Arab kepada Kiai Abdul Salam, salah seorang familinya yang hafal Al-Quran. Sesudah itu ia ke Jepara belajar kepada Kiai Syu`aib Sarang dan Kiai Cholil Kasingan. Umur 15 tahun ia menuju Bangkalan, Madura, berguru kepada Kiai Cholil. Di sinilah ia berjumpa dan berteman akrab dengan Wahab Chasbullah. Dari Bangkalan, ia menuju Jombang, berguru kepada K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebuireng. Setelah enam tahun, ia mendapat ijazah untuk mengajarkan kitab hadits Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim serta kitab fiqih Matn Az-Zubad. Seusai dari Tebuireng, ia melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Makkah bersama Wahab (1912). Di sana ia berguru kepada sejumlah ulama terkemuka, seperti K.H. Muhammad Bakir, Syaikh Muhammad Sa`id Yamani, Syaikh Ibrahim Madani, Syaikh Jamal Maliki. Juga kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabaw, Syaikh Syu`aib Dagestani, dan Syaikh Mahfudz Termas. Tahun 1914 ia mempersunting adik Wahab Chasbullah, Nur Chadijah, di Tanah Suci. Setelah itu, tahun itu juga, Bisri balik ke tanah air dan menetap di Jombang, membantu mertuanya mengurus Pesantren Tambakberas. Pada 1917, atas bantuan mertua, ia membuka pesantren sendiri di Desa Denanyar, yang populer dengan sebutan Pesantren Denanyar. Tahun itu pula, kakak iparnya, Wahab, pulang kampung. Bisri ikut terlibat dalam sepak terjang Wahab ketika mendirikan Komite Hijaz dan pembentukan NU pada 31 Januari 1926 di Kertopaten, Surabaya. Dalam proses pendirian NU, Bisri menjadi penghubung antara Kiai Wahab dan Kiai Hasyim Asy`ari. Segera setelah NU terbentuk, sebagai pembantu dalam susunan pengurus besar, ia menjadi motor penggerak di Jombang dan daerah pesirir utara Jawa. Posisi itu membuatnya dikenal secara luas. Rumah tangga Bisri dikaruniai sepuluh anak, tapi ada beberapa yang meninggal waktu kecil. Di antaranya anaknya itu, Solichah, dinikahkan dengan Wahid Hasyim, putra sulung Hasyim Asy`ari, gurunya. Ketika Masyumi terbentuk, ia pun aktif di dalamnya. Periode kemerdekaan juga membawanya pada fase perjuangan bersenjata. Di pemerintahan, ia mula-mula duduk di Komite Nasional Indonesia Pusat, mewakili Masyumi. Tahun 1855 ia terlibat dalam Dewan Konstituante hasil pemilu, mewakili NU. Pada Pemilu 1971 ia terpilih masuk DPR. K.H. Bisri Syansuri menutup mata beberapa bulan setelah terpilih menjadi rais am NU dalam Muktamar Semarang Juni 1979, tepatnya pada 25 April 1980, dalam usia 94 tahun. 4. K.H. Ahmad Shiddiq: “Ibarat makanan, Pancasila, yang sudah kita kunyah selama 36 tahun, kok sekarang dipersoalkan halal dan haramnya.” Demikian ungkapan K.H. Ahmad Shiddiq mengenai penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi, dalam Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo. NU adalah organisasi Islam pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal, padahal tidak sedikit umat yang menolaknya, apalagi partai Islam. Itulah ketokohan, kemampuan intelektual, dan kapasitas keulamaan Ahmad Shiddiq. Pujian Presiden Suharto terucap pada tahun 1989 ketika membuka Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta. Sejak itu, di bawah kepemimpinan Ahmad Shiddiq, sebagai rais am, pamor NU semakin terangkat. Pada Muktamar NU ke-27/1984 di Situbondo, ia berhasil menjadi palang terakhir pemisahan diri yang dilakukan K.H. As`ad Syamsul Arifin terhadap kepemimpinan PBNU hasil Muktamar ke-28. Ia merangkul kembali kiai sesepuh NU yang kharismatis tersebut. Pada Muktamar NU ke-28 itu ia berhasil menyelamatkan duet dirinya dengan Gus Dur, yang banyak menerima guncangan dari sebagian warga NU sendiri. Begitu juga mengenai “kembali ke khiththah NU 1926”. Meski bukan satu-satunya perumus, dialah yang disepakati sebagai bintangnya kembali ke khiththah. Pada 1979 ia menyusun pokok-pokok pikiran tentang khiththah Nahdliyah, sebagai sumbangan berharga bagi warga NU. Ahmad Shiddiq lahir di Jember tepat seminggu sebelum NU diresmikan berdirinya oleh Hasyim Asy’ari, yaitu 24 Januari 1926. Ayahnya, K.H. M. Siddiq, adalah pendiri Pesantren Ash Shiddiqiyah di Jember. Seusai belajar di Ash-Shiddiqiyah, ia belajar di Pesantren Tebuireng. Ia diangkat menjadi sekretaris pribadi menteri agama ketika jabatan itu dipercayakan kepada Wahid Hasyim pada 1950. Ketika menjadi ketua Tanfidziyah NU, Abdurrahman Wahid, cucu K.H. Hasyim Asy`ari, pun berduet dengannya sebagai rais am PBNU. Sebelum itu, ia mundur dari DPR hasil Pemilu 1955, karena, “Saya selalu bicara keras soal Nasakom.” Ia hadir kembali sebagai wakil rakyat setelah pemilu Orde Baru pertama, 1971. Tanggal 23 Januari 1991, K.H. Ahmad Shiddiq berpulang ke rahmatullah pada usia 65 tahun. Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di pemakaman Auliya, Ploso, Kediri, tempat beberapa kiai hafal Al-Quran dikuburkan. 5. K.H. Wahid Hasyim: Gus Wahid, demikian ia biasa disapa, lahir pada Jum’at 1 Juni 1914, dari pasangan K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri NU, dan Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas. Ia anak lelaki pertama pasangan tersebut. Umur lima tahun, Wahid Hasyim mulai belajar mengaji kepada ayahnya, dan umur tujuh tahun sudah khatam Al-Quran. Umur l3 tahun, ia masuk pesantren di Siwalan Panji, Sidoarjo, Mojosari, Nganjuk, dan Lirboyo. Setelah itu ia belajar sendiri berbagai ilmu pengetahuan. Tahun 1932, ketika berumur 18 tahun, ia pergi haji dan bermukim di Tanah Suci selama dua tahun. Empat tahun sepulang dari Tanah Suci, ia bergabung dengan NU. Di NU ia mulai dari bawah, sekretaris tingkat ranting di Desa Cukir. Namun lompatan panjang terjadi. Tak lama kemudian ia dipercaya menjadi ketua NU cabang Jombang, dan ketika departemen maarif (pendidikan) NU dibuka pada tahun 1940 ia ditunjuk sebagai ketuanya. Sejak itu ia duduk di barisan pengurus PBNU. Pada umur 25 tahun ia menikah dengan Solichah binti K.H. Bisri Syansuri. Mereka pasangan yang serasi, termasuk dalam dunia politik. Ketika sang suami menjadi menteri, sang istri pun menjadi anggota DPR. Pasangan ini dikaruniai enam anak, empat laki-laki dan dua perempuan. Bulan Maret 1942, Jepang mendarat. Semua ormas dan orpol Islam dilarang, dan dibentuk MIAI. Kiai Wahid terpilih menjadi ketuanya. Kedudukan itu, belakangan, mengantar dirinya ke pusat perjuangan bangsa Indonesia di zaman Jepang. Ia menjadi anggota Cu Sangi In, kemudian Dokuritsu Zombi Cosakai, hingga Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. K.H. Wahid Hasyim adalah salah satu dari sembilan orang yang menandatangani Piagam Jakarta. Sikapnya yang tegas tapi luwes menjadikannya figur yang dapat diterima oleh berbagai kalangan kendati umurnya baru sekitar 30 tahun. Suksesnya mengintegrasikan kelasykaran golongan Islam ke dalam TRI, dan kemudian TNI, mengantarnya menjadi penasihat Panglima Besar Soedirman hingga terjadi Clash I, pemberontakan PKI Madiun, dan Clash II. Setelah ayahnya wafat pada 25 Juli 1947, ia mengasuh Pesantren Tebuireng. Dalam Kabinet Sukiman, ia menjadi menteri agama. Lima kali ia menjadi menteri. Yaitu menteri negara dalam Kabinet Presidentil I (1945), menteri negara dalam Kabinet Syahrir (1946-1947), menteri agama Kabinet RIS (1949- 1950), menteri agama Kabinet Natsir (1950- 1951), dan menteri agama Kabinet Sukiman (1951-1952). Setelah tidak menjadi menteri, ia aktif dalam Partai NU, yang saat itu baru memisahkan diri dari Partai Masyumi. Pada 19 April 1953, ia dipanggil ke haribaan Allah SWT dalam suatu kecelakaan lalu lintas di Cimindi, Cimahi, Jawa Barat, dalam usia 39 tahun. Jenazah dimakamkan di Tebuireng, hari itu juga. Dengan Keppres No. 206/1964 tertanggal 24 Agustus 1964, gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional disandangkan kepada K.H. Wahid Hasyim.6. K.H. M. Ilyas Ruhiat: Mohamad Ilyas lahir pada 31 Januari 1934. Ia putra pasangan Ajengan Ruhiat dan Siti Aisyah. Ilyas hanya nyantri di Cipasung. Sejak kecil, ia berpembawaan tenang dan sejuk, namun kharisma dan kecerdasannya diakui oleh para ulama di kalangan NU dan non-NU. K.H. Ilyas memulai kariernya di organisasi NU sejak 1954, terpilih sebagai ketua NU Cabang Tasikmalaya. Saat itu ia merangkap ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Barat. Tahun 1985-1989, ia menjadi wakil rais Syuriah NU Jawa Barat. Tahun 1989, saat muktamar NU di Krapyak, Ilyas terpilih menjadi salah seorang rais Syuriah PBNU. Puncaknya, tahun 1994, pada muktamar ke-29 NU yang berlangsung di Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, ia terpilih menjadi rais am PBNU, mendampingi K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai ketua umum PBNU. Pada saat muktamar NU di Krapyak, K.H. Ilyas menjadi salah satu anggota rais Syuriah PBNU. Kemudian, sejak Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU di Bandar Lampung tahun 1992, ia ditunjuk sebagai pelaksana rais am Syuriah NU, menggantikan Rais Am K.H. Ahmad Siddiq, yang wafat. Kemudian, ia kembali menjadi rais am untuk periode berikutnya, 1994-1999. K.H. Ilyas menikah dengan Hj. Dedeh Fuadah, dan memiliki tiga anak. K.H. Muhammad Ilyas Ruhiat, atau kerap disebut “Ajengan Ilyas”, adalah sosok yang sangat santun, lembut, mengayomi, dan menebarkan aura kesejukan. Kepribadiannya mencerminkan tipikal ulama NU sejati: penuh toleransi, bersahaja, dan gandrung pada kedamaian. Potret kesejukan Kiai Ilyas Ruhiat semakin mengemuka ketika NU diguncang prahara usai Muktamar Cipasung tahun 1994. Ketika itu perhelatan lima tahunan tersebut berakhir dengan pecahnya kepengurusan PBNU ke dalam dua kubu, pro Gus Dur dan pro Abu Hasan. Bahkan, kelompok kedua itu sempat mengadakan muktamar luar biasa di Asrama Haji Pondok Gede. Lima tahun kemudian, dengan pendekatannya yang menyejukkan, perlahan warga NU kembali bersatu. Ketika merasa tugasnya untuk menyatukan jam`iyah sudah selesai, bapak tiga anak ini kemudian mengundurkan diri pada Muktamar Lirboyo 1999. Ajengan Ilyas lebih memilih kembali mengajar di pesantrennya di lereng Gunung Galunggung. Ajengan Ilyas wafat pada Selasa 18 Desember 2007. Pengasuh Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, ini berpulang ke hadirat Allah SWT dalam usia 73 tahun. 7. K.H. M.A. Sahal Mahfudz: K.H. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, pengasuh Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, seluruh kehidupan dan aktivitasnya terkait dengan dunia pesantren, ilmu fiqih, dan pengembangan masyarakat. Kiai Sahal memang nahdliyyin tulen. Dalam menyikapi berbagai problematik sosial, ia selalu menjunjung tinggi sikap tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (egaliter), yang menjadi ciri khas ulama NU. Namun, kontribusi pemikirannya yang paling menonjol adalah perhal fiqih sosial kontekstual, yakni bahwa fiqih tetap mempunyai keterkaitan dinamis dengan kondisi sosial yang terus berubah. Penampilan Kiai Sahal Mahfudz bersahaja, tenang, dan lugas dalam berbicara tapi tidak terkesan menggurui. Padahal ia adalah nakhoda kapal besar bernama Nahdlatul Ulama dan MUI, yang fatwa-fatwanya sangat berpengaruh. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937. Ia putra K.H. Mahfudz Salam, pendiri Pesantren Maslakul Huda, pada tahun 1910. Nasab Mbah Sahal bermuara pada K.H. Ahmad Mutamakin, tokoh legendaris yang diyakini hidup pada abad ke-18, salah seorang waliyullah, penulis kitab tasawuf Serat Cebolek. Sahal Mahfudz kecil mengaji kepada orangtuanya, sambil bersekolah di Madrasah Diniyyah tingkat ibtidaiyah (1943-1949) dan tingkat tsanawiyah (1950-1953) di lingkungan Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Sambil sekolah di Madrasah Diniyyah, ia juga mengikuti kursus ilmu umum di Kajen (1951-1953). Tamat MTs, Sahal nyantri di Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur, yang diasuh Kiai Muhajir. Empat tahun kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Di pesantren yang terkenal dengan pendidikan ilmu fiqih itu ia belajar langsung kepada Kiai Zubair. Selain mengaji, ia, yang sudah cukup alim, juga diminta membantu mengajar santri-santri yunior. Pertengahan tahun 1960, usai menunaikan ibadah haji, Sahal Mahfudz bermukim di Makkah dan belajar kepada Syaikh Muhammad Yasin Al-Fadani. Tak kurang tiga tahun ia berguru kepada ulama besar Al-Haramain asal Padang itu. Tahun 1963, ia pulang ke tanah air. Kehadiran ulama muda yang berita kealimannya dalam bidang fiqih sudah mulai tersebar itu segera saja menarik perhatian beberapa lembaga. Sejak 1966 Kiai Sahal diminta mengajar sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi. Puncaknya, sejak 1989, ia dipercaya menjadi rektor di Institut Islam Nahdlatul Ulama, Jepara. Meski hanya belajar di bangku pesantren, sejak muda Kiai Sahal telah menunjukkan bakat menulis. Tradisi yang semakin langka di lingkungan ulama NU. Ratusan risalah atau makalah dan belasan buku telah ditulisnya. Salah satu karya yang merupakan bukti keandalannya dalam menulis adalah kitab Thariqat al-Hushul (2000), syarah atas kitab Ghayah Al-Wushul, sebuah kitab tentang ushul fiqh karya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Karena kelebihan tersebut, Kiai Sahal kemudian banyak didekati kalangan media. Kiprah Kiai Sahal di NU diawali dengan menjadi kahtib Syuriah Partai NU Cabang Pati 1967-1975. Kedalaman ilmunya dan kearifan sikapnya perlahan membawa langkah kaki suami Dra. Hj. Nafisah Sahal itu ke jenjang tertinggi di NU, yakni rais am Syuriah PBNU, untuk periode 1999-2004, dan terpilih lagi di Muktamar Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, untuk periode 2004-2009. Kiai Sahal sangat teguh dalam menjaga sikap. Saat terpilih menjadi rais am PBNU pada 1999, ia menyampaikan pandangan kenegaraannya bahwa, sejak awal berdirinya NU, warga nahdliyyin berada pada posisi menjaga jarak dengan negara. Karena itu, meski jabatan presiden saat itu diemban oleh K.H. Abdurrahman Wahid, yang juga tokoh NU, Kiai Sahal tetap mempertahankan tradisi tersebut dengan selalu bersikap independen terhadap pemerintah. Selain di NU, kefaqihan Kiai Sahal juga membawanya ke MUI. Setelah sepuluh tahun memimpin MUI Jawa Tengah, pada tahun 2000 ia terpilih menjadi ketua umum MUI Pusat untuk periode 2000-2005, dan terpilih lagi untuk periode 2005-2010. 8. K.H. Idham Chalid: Menyebut nama Kiai Idham Chalid, ingatan kita tentu akan melayang pada gonjang-ganjing NU pada tahun 1982-1984, yang melahirkan sekaligus menghadapkan dua kubu tokoh-tokoh nahdliyyin: kubu Cipete dan kubu Situbondo. Konflik internal NU itu juga yang kemudian membuat Idham dianggap kontroversial. Bahkan ia dijuluki “politikus gabus”, karena dianggap tidak memiliki pendirian. Tak banyak yang mau melihat sisi lain kebijakan-kebijakan Kiai Idham, yang sebenarnya sangat NU dan sangat Sunni. Sebagai politisi besar NU yang lihai, Idham memang memainkan dua lakon berbeda, sebagai politisi dan ulama. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, dan bila perlu kompromistis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel, tapi tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Semua itu ia lakukan sebagai bagian dari upaya kerasnya menjaga stabilitas kalangan bawah nahdliyyin, yang menjadi tanggung jawabnya, agar selamat fisik dan spiritual melewati masa-masa gawat transisi dari Orde Lama ke Orde Baru, yang berdarah-darah. Strategi politik tersebut dilandaskan pada beberapa prinsip. Di antaranya, luwes, memilih jalan tengah ketimbang sikap memusuhi dan konfrontasi, yang justru membahayakan kepentingan umat. Menggunakan pendekatan partisipatoris terhadap pemerintah sehingga mampu memengaruhi kebijakan penguasa, demi kemaslahatan umat. Menurut Idham, NU harus ikut andil dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini dianggap lebih tepat dalam menghasilkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro umat, daripada berada di luar kekuasaan, yang justru membuat sulit bergerak. Efek kebijaksanaannya sangat luar biasa. Ia menjadi sangat berakar di kalangan bawah kaum nahdliyyin, terutama di luar Jawa, dan mampu bertahan di kancah perpolitikan tanah air lebih dari tiga dekade. Namun, dalam intrnal nahdliyyin ada anggapan bahwa keterlibatan NU di wilayah politik di bawah kepemimpinannya terlalu besar. Maka, dengan memanfaatkan isu kembali ke khiththah 1926 yang tengah digaungkan kalangan muda NU di Muktamar Situbondo 1984, pihak lawan membuat Idham terjatuh dari kursinya. Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan. Ia anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, H. Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 km dari Banjarmasin. Sejak kecil Idham dikenal sangat cerdas dan pemberani. Saat masuk SR, ia langsung duduk di kelas dua dan bakat pidatonya mulai terlihat dan terasah. Keahlian berorasi itu kelak menjadi modal utama Idham Chalid dalam meniti karier di jagat politik. Selepas SR, Idham melanjutkan pendidikannya ke Madrasah Ar-Rasyidiyyah, yang didirikan oleh Tuan Guru Abdurrasyid, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pada tahun 1922. Kebetulan, saat Idham bersekolah di sana, beberapa guru lulusan Pesantren Gontor, yang terkenal dengan kelebihannya dalam pendidikan bahasa, direkrut untuk membantu mengembangkan pendidikan. Idham, yang sedang tumbuh dan gandrung dengan pengetahuan, mendapatkan banyak kesempatan untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan umum. Di mata para siswa dan wali murid, guru-guru alumni Gontor itu sangat hebat. Tak mengherankan, banyak siswa, termasuk Idham, bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke pesantren yang didirikan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Ponorogo, Jawa Timur, itu. Di Gontor, otak cerdas Idham Chalid lagi-lagi membuat namanya bersinar. Kegiatan favoritnya di pesantren adalah kepanduan, yang kelak ditularkan kepada murid-muridnya di Amuntai dan di Cipete. Kesempatan belajar di Gontor juga dimanfaatkan Idham untuk memperdalam bahasa Jepang, Jerman, dan Prancis. Tamat dari Gontor, 1943, Idham melanjutkan pendidikan di Jakarta. Di ibu kota, kefasihan Idham dalam berbahasa Jepang membuat penjajah Dai-Nipon sangat kagum. Pihak Jepang juga sering memintanya menjadi penerjemah dalam beberapa pertemuan dengan alim ulama. Dalam pertemuan-pertemuan itulah Idham mulai akrab dengan tokoh-tokoh utama NU. Ketika Jepang kalah perang dan Sekutu masuk Indonesia, Idham Chalid bergabung ke dalam badan-badan perjuangan. Menjelang kemerdekaan, ia aktif dalam Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah di kota Amuntai. Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergabung dengan Persatuan Rakyat Indonesia, partai lokal, kemudian pindah ke Serikat Muslim Indonesia. Tahun 1947 ia bergabung dengan Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan, yang dipimpin Hassan Basry, muridnya saat di Gontor. Usai perang kemerdekaan, Idham diangkat menjadi anggota Parlemen Sementara RI mewakili Kalimantan. Tahun 1950 ia terpilih lagi menjadi anggota DPRS mewakili Masyumi. Ketika NU memisahkan diri dari Masyumi, tahun 1952, Idham memilih bergabung dengan Partai Nahdlatul Ulama dan terlibat aktif dalam konsolidasi internal ke daerah-daerah. Idham memulai kariernya di NU dengan aktif di GP Ansor. Tahun 1952 ia diangkat sebagai ketua PB Ma’arif, organisasi sayap NU yang bergerak di bidang pendidikan. Pada tahun yang sama ia juga diangkat menjadi sekretaris jenderal partai, dan dua tahun kemudian menjadi wakil ketua. Selama masa kampanye Pemilu 1955, Idham memegang peran penting sebagai ketua Lajnah Pemilihan Umum NU. Sepanjang tahun 1952-1955, ia, yang juga duduk dalam Majelis Pertimbangan Politik PBNU, sering mendampingi Rais Am K.H. Abdul Wahab Chasbullah berkeliling ke seluruh cabang NU di Nusantara. Dalam Pemilu 1955, NU berhasil meraih peringkat ketiga setelah PNI dan Masyumi. Karena perolehan suara yang cukup besar dalam Pemilu 1955, pada pembentukan kabinet tahun berikutnya, Kabinet Ali Sastroamijoyo, NU mendapat jatah lima menteri, termasuk satu kursi wakil perdana menteri, yang oleh PBNU diserahkan kepada Idham Chalid. Pada Muktamar NU ke-21 di Medan bulan Desember tahun yang sama, Idham terpilih menjadi ketua umum PBNU, menggantikan K.H. Muhammad Dahlan. Kabinet Ali Sastroamijoyo hanya bertahan setahun, berganti dengan Kabinet Djuanda. Namun Idham Chalid tetap bertahan di posisi wakil perdana menteri sampai Dekrit Presiden tahun 1959. Idham kemudian ditarik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan setahun kemudian menjadi wakil ketua MPRS. Pertengahan tahun 1966 Orde Lama tumbang, dan tampillah Orde Baru. Namun posisi Idham di pemerintahan tidak ikut tumbang. Dalam kabinet Ampera, yang dibentuk Presiden Soeharto, ia dipercaya menjabat menteri kesejahteraan rakyat sampai tahun 1970 dan menteri sosial sampai 1971. Nahdlatul Ulama di bawah kepemimpinan Idham kembali mengulang sukses dalam Pemilu 1971. Namun setelah itu pemerintah melebur seluruh partai menjadi hanya tiga partai: Golkar, PDI, dan PPP. Dan NU tergabung di dalam PPP. Idham Chalid menjabat presiden PPP, yang dijabatnya sampai tahun 1989. Ia juga terpilih menjadi ketua DPR/MPR RI sampai tahun 1977. Jabatan terakhir yang diemban Idham Chalid adalah ketua Dewan Pertimbangan Agung. 9. Ali Ma’shum: Kiai Ali lahir pada 15 Maret 1915 di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Ia putra Kiai Ma`shum, pemimpin Pesantren Al-Hidayah, Soditan, Lasem Rembang, Jawa Tengah. Ketika usianya menginjak 12 tahun, Ali dikirim ke Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur, pesantren terbesar dan termasyhur kala itu selain Tebuireng, Jombang, dan Lasem sendiri. Di Termas ia berguru kepada Syaikh Dimyathi At-Tarmasi, adik Syaikh Mahfudz At-Tarmasi, ulama besar Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram. Sebagai putra kiai kondang, sejak kecil Ali telah digembleng dengan dasar-dasar ilmu agama. Sehingga, ketika delapan tahun belajar di Termas, ia sama sekali tak menemukan kesulitan. Ia mendapat perhatian istimewa dari Syaikh Dimyathi. Sejak awal mondok, Ali diizinkan gurunya mengikuti pengajian bandongan, yang biasanya hanya diikuti santri-santri senior. Bahkan ia dibiarkan membaca kitab-kitab karya ulama pembaharu, yang tidak lazim dipelajari di pesantren salaf. Syaikh Dimyathi menilai, Ali Ma’shum sudah memiliki dasar keilmuan yang cukup kuat, sehingga bacaan-bacaan itu tidak akan mempengaruhinya, bahkan justru akan memperluas pandangannya. Segala kelebihan Ali Ma’shum itu tidak terlepas dari kepandaiannya dalam ilmu bahasa Arab, yang di atas rata-rata. Sekembali dari Termas, Ali membantu ayahnya mengasuh pesantren mereka di Lasem. Tak lama kemudian ia dinikahkan dengan Hasyimah binti Munawir, putri pemimpin Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Sebulan setelah pernikahan, ia pergi haji. Selain berhaji, selama dua tahun bermukim di Makkah, Ali juga belajar kepada ulama besar Tanah Suci, Sayyid Alwi Al-Maliky dan Syaikh Umar Hamdan. Ketika Kiai Ali kembali dari Makkah, tahun 1941, kondisi tanah air kacau balau. Penjajah Jepang baru saja masuk. Seperti pesantren-pesantren lain, Pesantren Lasem pun sepi, ditinggal para santrinya. Dengan usaha Kiai Ali yang gigih, perlahan pesantren yang didirikan ayahandanya itu kembali menggeliat bangkit. Namun baru dua tahun ia memimpin Pesantren Lasem, ibu mertuanya datang dan minta dirinya pindah ke Krapyak, Yogyakarta, untuk memimpin pesantren yang baru saja ditinggal wafat Kiai Munawir. Sentuhan tangan dinginnya berhasil menghidupkan kembali Pesantren Krapyak. Bersama ipar-iparnya, ia meneruskan kepemimpinan Kiai Munawir hingga Pesantren Krapyak kembali berkembang pesat dan dikenal luas. Arus perubahan melanda NU menjelang dan di awal tahun 1980-an. Yakni, adanya keinginan untuk kembali ke khiththah 1926, bahwa NU tidak berpolitik. Setelah wafatnya Rais Am K.H. M. Bisri Syansuri pada 25 April 1981, untuk menduduki posisi puncak dalam kepemimpinan NU, salah seorang yang dianggap paling pas adalah Kiai Ali Ma’shum. Benar saja, September 1981, Kiai Ali Ma’shum terpilih menjadi rais am PBNU. Ia dipilih dalam Muktamar NU di Kaliurang, Yogyakarta. Masa 1981 sampai 1984 itu ternyata merupakan babak yang sangat menarik bagi NU. Tahun 1982 berlangsung pemilihan umum. Menjelang pemilu, beberapa tokoh NU disingkirkan dari PPP, sehingga di kalangan NU timbul keinginan untuk meninggalkan partai berlambang Ka’bah itu. Kiai Ali termasuk orang yang tidak setuju dengan langkah tersebut. Bersama dengan Kiai As`ad Syamsul Arifin, Kiai Mahrus Ali, dan Kiai Masykur, ia minta agar Ketua PBNU K.H. Idham Chalid mundur dari jabatan, karena dianggap gagal memimpin. Pada awalnya Idham Chalid setuju mundur. Tapi beberapa hari kemudian, karena ada pengkhianatan, ia mencabut pernyataan pengunduran dirinya itu. Nahdlatul Ulama pecah menjadi dua kelompok: kelompok Idham Chalid, atau sayap politik, yang berbasis di Cipete, Jakarta Selatan, dan kelompok Kiai As’ad, atau sayap khiththah, yang disebut kelompok Situbondo. Walaupun demikian, selalu diupayakan agar terjadi ishlah. Namun usaha itu gagal. Setelah upaya ishlah mentok, Kiai Ali menganggap kelompok Cipete tidak ada, hingga jabatan ketua umum atau ketua tanfidziyah dirangkap oleh rais am. Pada 1983, sayap khiththah mengadakan Musyawarah Nasional Alim Ulama di Situbondo dan menghasilkan konsep kembali ke khiththah 1926. Tahun berikutnya, pada Muktamar ke-27, ditetapkanlah konsepsi tersebut serta penerimaan asas tunggal Pancasila. Dengan keputusan itu, NU menyatakan independen, tidak ada hubungan dengan partai politik tertentu. Jabatan ketua tanfidziyyah diserahkan kepada K.H. Abdurrahman Wahid dan jabatan rais am diserahkan kepada K.H. Achmad Siddiq. Kiai Ali sendiri duduk dalam Dewan Penasihat atau Mustasyar. Kamis 7 Desember 1989, tepat usai adzan maghrib, Kiai Ali Ma’shum berpulang ke rahmatullah dalam usia 74 tahun. Keesokan harinya, ribuan umat Islam mengantarkan kepergiannya ke peristirahatan terakhir di Pekuburan Dongkelan, Bantul, Yogyakarta. 10. K.H. Abdurrahman Wahid Saat Muktamar Nahdlatul Ulama di Situbondo, Jawa Timur, tahun 1984, sempat terjadi suasana yang panas. Bukan hanya karena konflik kubu Situbondo dan kubu Cipete, melainkan juga karena kubu Situbondo terancam pecah akibat K.H. Machrus Ali, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menolak K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi ketua umum Tanfidziyah Pengurus Besar NU apabila tidak mau melepaskan jabatannya sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Alasannya, ketua umum PBNU tidak pantas ngurusi “kethoprak”. Namun ternyata Gus Dur tidak mau mundur. Ia bersikeras lebih baik tidak jadi ketua umum PBNU daripada melepas jabatan ketua DKJ. Sikap keras Gus Dur sekilas tampak agak menyimpang dari tradisi keulamaan NU, yakni tunduk kepada kiai. Apalagi K.H. Machrus saat itu rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Masalahnya kemudian terselesaikan saat K.H. Achmad Sidiq dari Jember bercerita kepada K.H. Machrus Ali. Ia bermimpi melihat K.H. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, berdiri di atas mimbar. Spontan K.H. Machrus berubah, sikap mendukung Gus Dur tanpa syarat. Ia menakwilkan mimpi itu, K.H. Wahid Hasyim merestui Gus Dur. Sekalipun lebih tua, K.H. Machrus tawadhu kepada K.H. Wahid Hasyim, karena K.H. Wahid Hasyim adalah putra Hadratusy Syaikh K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri NU dan gurunya. Akhirnya Gus Dur terpilih sebagai ketua umum PBNU, dan pada dua muktamar berikutnya ia kembali terpilih sebagai ketua umum. Maka selama lima belas tahun (1984-1999) NU berada dalam kendali Gus Dur. Kejadian di tahun 1984 itu menunjukkan kuatnya tradisi keulamaan di tubuh NU. Dua pilar dalam tradisi itu adalah nasab, yaitu atas dasar hubungan darah, dan hubungan patronase kiai-santri atau guru-murid. Gus Dur memiliki nasab yang sangat kuat, baik dari jalur ayah maupun ibu. Selain cucu K.H. Hasyim Asy-ari dari jalur ayah, ia pun cucu K.H. Bisri Syansuri dari jalur ibu. K.H. Bisri Syansuri, rais am ketiga NU dan pengasuh Ponpes Denanyar, Jombang, adalah ayahanda Hj. Solichah Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur. Dalam hubungan patronase kiai-santri, Ponpes Tebuireng merupakan ”kiblat”, khususnya semasa K.H. Hasyim Asy`ari. Banyak kiai besar yang belajar di Tebuireng. Dalam tradisi keulamaan NU, penghormatan seorang santri kepada putra kiainya sama dengan kepada kiainya. Bahkan, sampai kepada cucu kiainya. Karena itu, putra atau cucu kiai dipanggil “Gus”. Wajar jika Gus Dur memiliki superioritas tinggi di mata nahdliyin. Apalagi, ia juga memiliki kemampuan keilmuan yang dipandang sangat tinggi di antara para tokoh NU. Meskipun tidak dikenal sebagai spesialis dalam salah satu atau bebrapa cabang ilmu keislaman, ia sangat menguasai kitab kuning, juga kitab-kitab kontemporer yang disusun para ulama di masa belakangan. Selain mumpuni dalam ilmu-ilmu agama, ia pun menguasai berbagai ilmu lain dengan wawasan yang sangat luas. Di masa Gus Dur, pamor NU terus menaik. Ia berhasil membawa NU menjadi kekuatan yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan, yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Setelah sebelumnya kurang diperhitungkan, kecuali di saat-saat pemilu, NU kemudian berubah menjadi betul-betul dikenal dan dihormati banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Jika sebelumnya jarang dibicarakan orang, dalam waktu singkat NU berubah menjadi obyek studi dari banyak sarjana di mana-mana. Semua itu tak dapat dilepaskan dari peran Gus Dur, baik sebagai ketua umum PBNU maupun sebagai pribadi dalam berbagai kapasitasnya. Ya, Gus Dur memang punya kharisma yang besar di mata para kiai, apalagi di depan umatnya. Umat NU ketika itu sedang mencari tokoh yang menjadi jendela menuju dunia modern. Ada kebanggaan di kalangan NU terhadap Gus Dur, karena ia membawa pesantren dan NU ke dunia luar yang luas. Ia membuka masyarakat NU untuk sadar bahwa kita hidup dalam dunia global. Sejak di bawah kepemimpinan Gus Dur, peran NU sebagai jam`iyyah maupun peran tokoh-tokohnya sebagai individu dari waktu ke waktu semakin kuat dan terus meluas, termasuk dalam politik. Meskipun secara resmi NU telah menyatakan diri kembali ke khiththah dan tidak lagi berpolitik praktis, pengaruh politiknya tak pernah surut, bahkan semakin menguat. Tokoh-tokoh NU yang terlibat di pentas politik, meskipun tidak mengatasnamakan NU, semakin banyak. Munculnya PKB dan partai-partai baru lainnya sangat mengandalkan dukungan warga NU. Dinamika politik kemudian terus bergulir. Hanya berselang setahun tiga bulan setelah pendirian PKB, akhirnya pada bulan Oktober 1999 Gus Dur terpilih sebagai presiden RI yang keempat melalui pemilihan langsung yang dramatis di MPR. Padahal saat itu, PDI-P lah yang memenangi Pemilu 1999. Namun, itulah kepintaran Politik Gus dur yang justru mengantarkan beliau menjadi Presiden keempat RI. Itulah puncak karier NU di pentas politik. Sumber: majalah-alkisah.com |
| Yaya Rusyana Kisah+para+tokoh+Jepara 's link Kerajaan Sunda Galuh adalah suatu kerajaan yangmerupakan penyatuan dua kerajaan besar di Tanah Sunda yang saling terkait erat,yaitu Kerajaan Sundadan Kerajaan Galuh.Kedua kerajaan tersebut merupakan pecahan dari kerajaan Tarumanagara. Berdasarkan peninggalan sejarahseperti prasasti dan naskah kuno, ibu kota Kerajaan Sunda berada di daerah yang sekarangmenjadi kota Bogor, sedangkan ibu kota Kerajaan Galuh adalah kota Kawali di Kabupaten Ciamis. Namun demikian, banyak sumberpeninggalan sejarah yang menyebut perpaduan kedua kerajaan ini dengan nama Kerajaan Sunda saja. Perjalanan pertama PrabuJaya Pakuan (Bujangga Manik)mengelilingi pulau Jawa dilukiskan sebagai berikut: [1] [2]: Sadatangka tungtung Sunda(Ketika ku mencapai perbatasan Sunda). Meuntasing di Cipamali (Aku menyeberangi Cipamali (yang sekarang dinamaikali Brebes)). Datang ka alas Jawa (dan masuklah aku ke hutan Jawa). Menurut Tome Pires (1513) dalamcatatan perjalanannya, “Summa Oriental (1513 – 1515)”, dia menuliskan bahwa: The Sunda kingdom take up half of the whole island of Java; others, towhom more authority is attributed, say that the Sunda kingdom must be a thirdpart of the island and an eight more. It ends at the river chi Manuk. They saythat from the earliest times God divided the island of Java from that of Sundaand that of Java by the said river, which has trees from one end to the other,and they say the trees on each side line over to each country with the brancheson the ground. Jadi, jelaslah bahwa perpaduankedua kerajaan ini hanya disebut dengan nama Kerajaan Sunda. Keterangan keberadaan kedua kerajaan tersebut juga terdapat pada beberapa sumber sejarah lainnya. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati. Berdirinyakerajaan Sunda dan Galuh Pembagian Tarumanagara Tarusbawa yang berasal dariKerajaan Sunda Sambawa, di tahun 669 M menggantikan kedudukan mertuanya yaitu Linggawarman raja Tarumanagara yang terakhir. Karena pamorTarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikankeharuman zaman Purnawarmanyang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, iamengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikanalasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh dan masih keluarga kerajaanTarumanegara, untuk memisahkan diri dari kekuasaan Tarusbawa. Dengan dukungan Kerajaan Kalingga di Jawa Tengah, Wretikandayun menuntut kepadaTarusbawa supaya wilayah Tarumanagara dipecah dua. Dukungan ini dapat terjadikarena putera mahkota Galuh bernama Mandiminyak, berjodoh dengan Parwati puteriMaharani Shima dari Kalingga. Dalam posisilemah dan ingin menghindari perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh.Di tahun 670 M, wilayah Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan; yaituKerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batasnya. Lihatpula: Kerajaan Tarumanagara dan KerajaanKalingga. Lokasi ibukota Sunda Maharaja Tarusbawa kemudianmendirikan ibukota kerajaan yang baru di daerah pedalaman dekat hulu Sungai Cipakancilan.[3] Dalam Carita Parahiyangan,tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (RajaSunda). Ia menjadi cakal-bakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723M. Sunda sebagai nama kerajaantercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Kehadiran Prasasti Jayabupatidi daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sundaterletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-buktisejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan padabagian Sungai Cicatihyang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiranbatu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidakmenunjukkan letak ibukota Tarumanagara. Keterlibatan Kalingga Karena putera mahkota wafatmendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernamaTejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri iniadalah cicit Wretikandayun bernama Rakeyan Jamri, yang dalam tahun 723menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda ke-2. Sebagai penguasa Kerajaan Sundaia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan setelah menguasai Kerajaan Galuhdikenal dengan nama Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA,cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalahBratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Senaadalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua(702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA.Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dankeluarganya menyelamatkan diri ke Sundapura, pusat Kerajaan Sunda, dan memintapertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena,sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara/ Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus KerajaanGaluh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkanPurbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh. Sanjaya adalah penguasa KerajaanSunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima mangkat). Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Sanjaya menjadi penguasaKalingga Utara yang disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) di tahun 732 M. Kekuasaan diJawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu TamperanBarmawijaya alias Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah RakaiPanangkaran,putera Sanjaya dari Sudiwaraputeri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara. Prasasti Jayabupati Isi prasasti Telah diungkapkan di awal bahwanama Sunda sebagai kerajaan tersurat pula dalam prasasti yang ditemukan didaerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat(4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan padaaliran SungaiCicatih didaerah Cibadak, Sukabumi. Tiga ditemukan di dekat KampungBantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikanprasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarangdisimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 danD 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte): D 73 : //O// Swasti shakawarsatita952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- kadiwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- henwisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhanawikra-mottunggadewa, ma- D 96 : gaway tepek i purwa sanghyangtapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryyabaryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyangtapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan iwungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmangsapatha. D 97 : sumpah denira prahajyan sunda.lwirnya nihan. Terjemahan isiprasasti, adalah sebagai berikut: Selamat. Dalam tahun Saka 952bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, WukuTambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen WisnumurtiSamarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro GowardhanaWikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuatoleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Disungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batasdaerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batasdaerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlahprasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah. Sumpah yang diucapkan oleh RajaSunda lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris,intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungikeputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannyakepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirupdarahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutupdengan kalimat seruan, I wruhhanta kamung hyang kabeh (ketahuilah olehmuparahiyang semuanya). Tanggal prasasti Tanggal pembuatan PrasastiJayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, ParwaIII sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 - 964) saka (1030-1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dangaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkunganKeraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebutdengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah MaharajaTarusbawa. Penyebab perpecahan Telah diungkapkan sebelumnya,bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Tiongkok yang menyebutkan bahwa utusanTarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M.Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepadaKaisar Tiongkok dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal18 Mei 669 M. Sanna dan Purbasora Tarusbawa adalah sahabat baikBratasenawa alis Sena (709 - 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini juga dikenaldengan Sanna, yaitu raja dalam Prasasti Canggal (732 M), sekaligus paman dari Sanjaya. Persahabatan ini pula yangmendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa aliasSanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M.Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara DanghyangGuru Sempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucuWretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sebenarnya Purbasora dan Senaadalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istriSempakwaja. Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadiRaja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacatjasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dariWretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh.Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasorauntuk merebut tahta Galuh dari Sena. Dengan bantuan pasukan darimertuanya, Raja Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon sekarang, Purbasora melancarkanperebutan tahta Galuh. Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan, meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa. Sanjaya dan Balangantrang Sanjaya, anak Sannaha saudaraperempuan Sena, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk ituia meminta bantuan Tarusbawa, sahabat Sena. Hasratnya dilaksanakan setelahmenjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya. Sebelum itu ia telah menyiapkanpasukan khusus di daerah Gunung Sawalatas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Pasukan khusus inilangsung dipimpin Sanjaya, sedangkan pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada.Serangan dilakukan malam hari dengan diam-diam dan mendadak. Seluruh keluargaPurbasora gugur. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, yangmenjadi Patih Galuh, bersama segelintir pasukan. Patih itu bernama Bimaraksa yanglebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapatikerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernamaResi Guru Jantaka atau Rahyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayunkarena menderita "kemir" atau hernia. Balangantrang bersembunyi dikampung Gègèr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Iamendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskarIndraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagaipembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena. Sanjaya mendapat pesan dari Sena,bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga keraton Galuh lainnya harus tetapdihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukanpenyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkanPurbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan memintabeliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi penguasa Galuh. Akantetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakanmuslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan. Sanjaya sendiri tidak bisamenghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. AkhirnyaSanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Iamenyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai RajaSunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan diGaluh ia mengangkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat ituberkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), iatelah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapasejak muda. Ia memiliki julukan Bagawat Sajalajaya. Premana, Pangreyep dan Tamperan Penunjukkan Premana oleh Sanjayacukup beralasan karena ia cucu Purbasora. Selain itu, isterinya, Naganingrum,adalah anak Ki Balangantrang. Jadi suami istri itu mewakili keturunanSempakwaja dan Jantaka, putera pertama dan kedua Wretikandayun. Pasangan Premana dan Naganingrumsendiri memiliki putera bernama Surotama alias Manarah (lahir 718 M, jadi iabaru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh). Surotama atau Manarahdikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudianhari, Ki Bimaraksa alias Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akanmengurai kisah sedih yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkanManarah untuk melakukan pembalasan. Untuk mengikat kesetiaan PremanaDikusumah terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkan Raja Galuhini dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Selain itu Sanjayamenunjuk puteranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh sekaligus memimpin"garnizun" Sunda di ibukota Galuh. Premana Dikusumah menerimakedudukan Raja Galuh karena terpaksa keadaan. Ia tidak berani menolak karenaSanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahanyang setia kepadanya dan sekaligus tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya.Penolakan Sempakwaja dan Demunawan masih bisa diterima oleh Sanjaya karenamereka tergolong angkatan tua yang harus dihormatinya. Kedudukan Premana serba sulit, iasebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tundukkepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, makaia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sundasebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep.Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligusmenjadi "mata dan telinga" Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya,Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep,istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M). Skandal itu terjadi karenabeberapa alasan, pertama Pangrenyep pengantin baru berusia 19 tahun dankemudian ditinggal suami bertapa; kedua keduanya berusia sebaya dan telahberkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Maharaja Tarusbawa;ketiga mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagaiorang Sunda di Galuh kurang disenangi. Untuk menghapus jejak Tamperanmengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnyasehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula. Semua kejadian ini rupanya terciumoleh senapati tua Ki Balangantrang. Tamperan sebagai raja Dalam tahun 732 M Sanjayamewarisi tahta Kerajaan Mataramdari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengaturpembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sundadan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan danGalunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja. Demikianlah Tamperan menjadipenguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 - 739 M.Sementara itu Manarah alias Ciung Wanara secara diam-diam menyiapkan rencanaperebutan tahta Galuh dengan bimbingan buyutnya, Ki Balangantrang, di GegerSunten. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukanseperti anak sendiri. Sesuai dengan rencanaBalangantrang, penyerbuan ke Galuh dilakukan siang hari bertepatan dengan pestasabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Manarah bersamaanggota pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai penyabung ayam. Balangantrangmemimpin pasukan Geger Sunten menyerang keraton. Kudeta itu berhasil dalam waktusingkat seperti peristiwa tahun 723 ketika Manarah berhasil menguasai Galuhdalam tempo satu malam. Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapatditawan di gelanggang sabung ayam. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malamharinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan. Akan tetapi hal itu diketahuioleh pasukan pengawal yang segera memberitahukannya kepada Manarah. Terjadilahpertarungan antara Banga dan Manarah yang berakhir dengan kekalahan Banga.Sementara itu pasukan yang mengejar raja dan permaisuri melepaskanpanah-panahnya di dalam kegelapan sehingga menewaskan Tamperan dan Pangrenyep. Manarah dan Banga Berita kematian Tamperan didengaroleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Mataram (Jawa Tengah), yang kemudian dengan pasukanbesar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga iatelah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukanIndraprahasta yang ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri, danraja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya. Perang besar sesama keturunanWretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Raja Resi Demunawan (lahir 646 M,ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapaikesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selamaperiode 723 - 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjianitu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurangsenang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetaphidup atas kebaikan hati Manarah. Untuk memperteguh perjanjian,Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagaipenguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistriKancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna AjiMulya dan berjodoh dengan Kancanasari, adik Kancanawangi. Keturunan Sunda dan Galuh selanjutnya Naskah tua dari kabuyutanCiburuy, Bayongbong, Garut, yang ditulis pada abad ke-13 atau ke-14memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit Pakuan. Hal inidilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yangmerdeka. Ia berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui disebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagai raja bawahan Galuh. Iamemerintah 27 tahun lamanya (739-766). Manarah, dengan gelar PrabuSuratama atau Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuwana, dikaruniai umurpanjang dan memerintah di Galuh antara tahun 739-783.[4] Dalam tahun 783 ia melakukan manurajasuniya,yaitu mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk melakukan tapa sampai akhirhayat. Ia baru wafat tahun 798 dalam usia 80 tahun. Dalam naskah-naskah babad, posisiManarah dan Banga ini sering dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, di manaBanga dianggap lebih tua, tapi juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalamnaskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga.Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah CaritaWaruga Guru, yang ditulis pada pertengahan abad ke-18. Kekeliruan palingmenyolok dalam babad ialah kisah Banga yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Padahal, Majapahit barudidirikan Raden Wijayadalam tahun 1293, 527 tahun setelah Banga wafat. Keturunan Manarah putus hanyasampai cicitnya yang bernama Prabulinggabumi (813 - 852). Tahta Galuhdiserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon(819 - 891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dariTarusbawa). Sejak tahun 852, kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintaholeh keturunan Banga; sebagai akibat perkawinan di antara para kerabat keratonSunda, Galuh, dan Kuningan (Saunggalah). Hubungan Sunda Galuh dan Sriwijaya Sri Jayabupati yang prasastinyatelah dibicarakan di muka adalah Raja Sunda yang ke-20. Ia putra SanghiyangAgeng (1019 - 1030 M). Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat RajaWurawuri. Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa, raja Kerajaan Medang, dan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Karena pernikahan tersebutJayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, Dharmawangsa. Gelar itulahyang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak. Raja Sri Jayabupati pernahmengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sundaketurunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhanyang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Dharmawangsa. Padapuncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalamkekecewaan karena harus "menyaksikan" Dharmawangsa diserang dandibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinyaserbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agarbersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcutta(disimpan di sana) disebut pralaya itu terjadi tahun 1019 M. Hubungan dengan berdirinya Majapahit Prabu Guru Darmasiksa PrabuSanghyang Wisnu memiliki putra mahkota Rakeyan Jayadarma, dan berkedudukan diPakuan. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa II sarga 3, Rakeyan Jayadarma adalahmenantu Mahisa Campakadi Jawa Timur, karena ia berjodoh dengan putrinya bernama Dyah Lembu Tal. Mahisa Campaka adalah anak dariMahisa Wong Ateleng,yang merupakan anak dari KenAngrok dan Ken Dedes dari Kerajaan Singhasari. Rakeyan Jayadarma dan Dyah LembuTal berputera Sang Nararya Sanggramawijaya, atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijayayang dikatakan terlahir di Pakuan. Dengan kata lain, Raden Wijaya adalahturunan ke-4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Karena Jayadarma wafat dalam usiamuda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya, RadenWijaya dan ibunya kembali ke Jawa Timur. Dalam Babad Tanah Jawi Raden Wijaya disebut pula Jaka Susuruh dari Pasundan.Sebagai keturunan Jayadarma, ia adalah penerus tahta Kerajaan Sunda-Galuh yangsah, yaitu apabila Prabu Guru Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu mangkat.Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota, karena Raden Wijayaberada di Jawa Timur dan kemudian menjadi rajapertama Majapahit. |
Powered by WordPress SEO Tools
« Memaafkan Kesalahan dan Mengubur Dendam (Akhlak part 53) | Home | Nikmat Lisan untuk Apa Kita Gunakan (Akhlak part 52) »



Leave a Comment