<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAYASAN YATIM PIATU AL MUZAKKI</title>
	<atom:link href="http://www.almuzakki.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almuzakki.com</link>
	<description>Zakat, infaq, shodakhoh dan amal jariah kepada panti asuhan anak yatim piatu dan duafa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 17:15:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Masihkah kita tidak mau bersabar karena Allah . . ???</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 17:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1485</guid>
		<description><![CDATA[Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.</p>
<p>Sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah, dan lain sebagainya. Karena, siapakah yang dapat membunuh mati, kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus berbenturan dengan manusia yang serba sabar. Selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Menempel sebagai citra kita, dan bukan dia.</p>
<p>Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah.</p>
<p>Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. Dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya.</p>
<p>Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.</p>
<p>Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah.</p>
<p>Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan.</p>
<p>Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti &#8220;pemberitahuan&#8221; mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara &#8221; pengumuman&#8221; tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah.</p>
<p>Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.</p>
<p>Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan!.</p>
<p>Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi perenungan seorang pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  Karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?</p>
<p>Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang kemudian membentuk jiwa ramah dalam diri kita untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan dari Allah untuk menyulitkan Kita. Dan sebagai hasil akhir, kedamaian pun akan selalu meliputi jiwa.</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fmasihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html&amp;title=Masihkah%20kita%20tidak%20mau%20bersabar%20karena%20Allah%20.%20.%20%3F%3F%3F" id="wpa2a_2"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Sholeh adalah Hidayah dari Allah</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1480</guid>
		<description><![CDATA[Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal. Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini bisa lagi kembali sekolah. “Iya, pak nanti saya cari dulu do’a atau amalannya,” jawab kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami kemarin tidak sengaja ke toko kitab. Di sana kami menemukan kitab yang sangat menarik yang ditulis oleh ulama saat ini, Syaikh Musthofa Al Adawi. Judul kitab tersebut adalah Fiqh Tarbiyatil Abna’. Di dalam kitab ini banyak penjelasan yang cukup menarik mengenai cara mendidik anak. Insya Allah pada kesempatan kali ini dan kesempatan akan datang, kami akan menyarikan pelajaran-pelajaran berharga dari kitab tersebut. Semoga ini bisa menjadi solusi dari keluhan bapak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang Patut Diingat oleh Orang Tua</p>
<p style="text-align: justify;">Ada suatu hal yang perlu dipahami oleh setiap ortu ketika mendidik anak. Kita memang ingin sekali menjadikan anak dan keturunan kita sebagai anak sholih. Kita ingin mereka menjadi anak yang baik. Kita ingin agar mereka menjadi anak yang berbakti dan taat. Namun, ada suatu hal yang kita sering lupakan. Kita memang sudah berusaha mendidik mereka dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Bahkan mereka juga kita wajibkan masuk TPA atau masuk pondok pesantren. Namun kadangkala, kita hanya bersandar pada usaha kita semata, tanpa mau melirik bahwa hidayah dan petunjuk adalah di tangan Allah termasuk hidayah pada anak dan keturunan kita. Walaupun kita telah pontang panting dengan melakukan berbagai sebab, namun jika Allah menakdirkan berbeda, lantas apa yang bisa kita perbuat. Selayaknya kita banyak merenungkan ayat-ayat semacam ini:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rof : 178)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena sedih terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8 )</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk baginya.” (QS. As Sajdah : 13)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus : 99)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengambil Pelajaran dari Kisah Nuh dan Anaknya</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah pula pada kisah Nabi Allah Nuh ‘alaihis salam. Dia mengatakan pada anaknya ,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud : 42)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Allah tidak menginginkan anak ini mendapat hidayah. Anak Nabi Nuh malah menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan mencari perlindungan ke gunung saja yang dapat melindungiku dari air bah.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Nuh berkata,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Tidak ada yang dapat melindungimu hari ini dari azab Allah, selain yang Allah rahmati.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nuh pun berdoa lagi pada Allah karena kasihan pada anaknya,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMU itulah yang benar dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud : 45)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah tidak suka dengan perkataan Nuh tersebut,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan padamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud : 46)</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah saudaraku dan perhatikanlah dengan baik-baik kisah Nuh ini. Beliau sudah berusaha keras agar anaknya mendapat hidayah, namun Allah berkehendak lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, janganlah kita lupa untuk selalu memohon pada Allah agar Allah selalu memberi keberkahan dan penyejuk mata pada anak dan keturunan kita, di samping usaha dan sebab yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah berkahilah selalu pendengaran, penglihatan, hati, dan istri kami, juga berilah keberkahan pada keturunan kami. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
<p style="text-align: justify;">Anak Sholeh adalah Hidayah dari Allah</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini bisa lagi kembali sekolah. “Iya, pak nanti saya cari dulu do’a atau amalannya,” jawab kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami kemarin tidak sengaja ke toko kitab. Di sana kami menemukan kitab yang sangat menarik yang ditulis oleh ulama saat ini, Syaikh Musthofa Al Adawi. Judul kitab tersebut adalah Fiqh Tarbiyatil Abna’. Di dalam kitab ini banyak penjelasan yang cukup menarik mengenai cara mendidik anak. Insya Allah pada kesempatan kali ini dan kesempatan akan datang, kami akan menyarikan pelajaran-pelajaran berharga dari kitab tersebut. Semoga ini bisa menjadi solusi dari keluhan bapak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang Patut Diingat oleh Orang Tua</p>
<p style="text-align: justify;">Ada suatu hal yang perlu dipahami oleh setiap ortu ketika mendidik anak. Kita memang ingin sekali menjadikan anak dan keturunan kita sebagai anak sholih. Kita ingin mereka menjadi anak yang baik. Kita ingin agar mereka menjadi anak yang berbakti dan taat. Namun, ada suatu hal yang kita sering lupakan. Kita memang sudah berusaha mendidik mereka dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Bahkan mereka juga kita wajibkan masuk TPA atau masuk pondok pesantren. Namun kadangkala, kita hanya bersandar pada usaha kita semata, tanpa mau melirik bahwa hidayah dan petunjuk adalah di tangan Allah termasuk hidayah pada anak dan keturunan kita. Walaupun kita telah pontang panting dengan melakukan berbagai sebab, namun jika Allah menakdirkan berbeda, lantas apa yang bisa kita perbuat. Selayaknya kita banyak merenungkan ayat-ayat semacam ini:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rof : 178)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena sedih terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8 )</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk baginya.” (QS. As Sajdah : 13)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus : 99)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengambil Pelajaran dari Kisah Nuh dan Anaknya</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah pula pada kisah Nabi Allah Nuh ‘alaihis salam. Dia mengatakan pada anaknya ,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud : 42)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Allah tidak menginginkan anak ini mendapat hidayah. Anak Nabi Nuh malah menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan mencari perlindungan ke gunung saja yang dapat melindungiku dari air bah.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Nuh berkata,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Tidak ada yang dapat melindungimu hari ini dari azab Allah, selain yang Allah rahmati.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nuh pun berdoa lagi pada Allah karena kasihan pada anaknya,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMU itulah yang benar dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud : 45)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah tidak suka dengan perkataan Nuh tersebut,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan padamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud : 46)</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah saudaraku dan perhatikanlah dengan baik-baik kisah Nuh ini. Beliau sudah berusaha keras agar anaknya mendapat hidayah, namun Allah berkehendak lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, janganlah kita lupa untuk selalu memohon pada Allah agar Allah selalu memberi keberkahan dan penyejuk mata pada anak dan keturunan kita, di samping usaha dan sebab yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah berkahilah selalu pendengaran, penglihatan, hati, dan istri kami, juga berilah keberkahan pada keturunan kami. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fanak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html&amp;title=Anak%20Sholeh%20adalah%20Hidayah%20dari%20Allah" id="wpa2a_4"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat-syarat Tawakal</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 03:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1475</guid>
		<description><![CDATA[Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita lihat, seseorang yang sedang menghadapi kejadian atau keadaan yang tidak biasa terjadi akan tampak perasaan, pikiran dan aneka ragam kekuatan mendorongnya untuk menghadapi kejadian tersebut, sehingga kelelahannya lebih besar daripada kelelahan menghadapi keadaan dan kejadian biasa.<br />
Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka perasan dan pikirannya serta seluruh kekuatannya semakin kuat mendorongnya melaksanakan semua amalan apa saja meskipun memiliki resiko besar. Ambil sebagai contoh,<br />
1. Mujahid yang berperang membela agamanya ketika senantiasa ingat dengan firman Alllah,<br />
“Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)<br />
Maka akan maju kemedan perang tanpa memandang resiko bahaya yang akan menimpanya<br />
2. Seorang pilot pesawat terbang yang menerbangkan pesawatnya ketika bertawakal kepada Allah dan ingat bahwa segala sesuatu telah diatur Allah sang Mahapencipta. Ketika ia ingat benar firman Allah di atas, maka merasa tenang dan berani menerbangkan pesawatnya dalam ketinggian yang beribu-ribu kaki dari bumi.<br />
3. Seorang petani ketika ber-tawakal kepada Allah dalam mencari rejekinya, maka ia lupa dengan resiko rusaknya hasil pertanian dan tanamannya.<br />
Demikianlah sikap tawakal kepada Allah adalah kekuatan besar yang membedakan seorang muslim dengan selainnya apabila dilakukan dengan ikhlas. Sudah pasti Allah akan merealisasikan semua perkara yang hamba ber-tawakal kepada-Nya. Demikianlah janji Allah dalam firman-Nya,<br />
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (QS. Ath-Thalaq: 3).<br />
Allah pasti tidak akan menyelisihi janjinya.<br />
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:<br />
1. Membatasi tawakal hanya kepada Allah saja. Untuk itu Allah berfirman,<br />
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).<br />
Dan firmanNya,<br />
“(Dia-lah) Rabb masyrik dan maghrib, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).<br />
Pembatasan tawakal hanya kepada Allah dalam ayat ini meniadakan semua tawakal kepada selain Allah dalam semua urusan dunia dan akhirat. Siapa yang ber-tawakal kepada selain Allah dalam satu saja urusan dunia atau akhirat bukanlah termasuk orang yang ber-tawakal dengan benar kepada Allah. Bahkan bisa jadi terjerumus kepada kesyirikan besar atau kecil sesuai dengan keadaan perbuatannya tersebut.<br />
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Mahamampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Untuk itu Allah berfirman,<br />
“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).<br />
Allah juga berfirman melalui pernyataan Nabi Syu’aib,<br />
“Syu’aib berkata, ’Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya) Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.’” (QS. Huud: 88).<br />
3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman,<br />
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3).<br />
4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Dalam hal ini Allah berfirman,<br />
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’” (QS. At-taubah: 129).<br />
Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat bertawakal kepada Allah dengan benar dan mendapatkan janji-janji Allah.<br />
Mari berusaha mendapatkannya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fsyarat-syarat-tawakal.html&amp;title=Syarat-syarat%20Tawakal" id="wpa2a_6"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafakur, Cara Efektif Pelihara Iman</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/tafakur-cara-efektif-pelihara-iman-2.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/tafakur-cara-efektif-pelihara-iman-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 06:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari bahkan mungkin sepanjang tahun kita diperhadapkan dengan beragam kesulitan, cobaan, penderitaan, yang boleh jadi cukup melelahkan hati dan pikiran. Kondisi yang tidak saja mengundang emosi tapi juga memancing diri untuk membenci bahkan mungkin memusuhi. Di sinilah akal sehat kita dipertaruhkan. Sebab keunggulan manusia itu terletak pada kemampuannya berpikir. Bagi yang jarang bertafakur (merenungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Setiap hari bahkan mungkin sepanjang tahun kita diperhadapkan dengan beragam kesulitan, cobaan, penderitaan, yang boleh jadi cukup melelahkan hati dan pikiran. Kondisi yang tidak saja mengundang emosi tapi juga memancing diri untuk membenci bahkan mungkin memusuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sinilah akal sehat kita dipertaruhkan. Sebab keunggulan manusia itu terletak pada kemampuannya berpikir. Bagi yang jarang bertafakur (merenungkan hikmah) atas kejadian yang menimpa itu, maka ia akan memilih sikap berkeluh kesah, minder, pesimis, atau selalu menyalahkan keadaan yang justru mengakibatkan pudarnya cahaya iman.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi bagi yang mau mentafakuri-nya, maka ia akan mendapatkan pencerahan yang baik, sehingga bukan saja kenikmatan yang menyenangkan yang bisa membuatnya tersenyum, musibah pun tak mampu membuatnya menangis. Bahkan musibah justru menjadikannya semakin dekat kepada Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Mukmin yang selalu bertafakur, ialah orang yang memahami maksud baik Allah atas setiap peristiwa dan kejadian yang dialaminya. Dan, keyakinan dalam hatinya justru terus-menerus bertambah kokoh bahwa tidak mungkin Allah akan berubah menjadi Maha Pembenci, sebab Dia adalah Maha Penyayang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tafakkur tidak sama dengan bersemedi atau tepekur (istilah Jawa). Apalagi jika dilakukan tanpa ada ajaran Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tafakur adalah perenungan untuk memikirkan, membesarkan dan mentadaburi tanda-tanda kebesaran Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Nabi SAW., bahwa pada suatu hari ia keluar menuju suatu kaum. Mereka sedang bertafakur. Maka Nabi SAW bertanya<em>, “Apa yang kamu sedang kerjakan sehingga kamu tidak berbicara?”</em> Mereka menjawab, <em>“Kami sedang memikirkan ciptaan Allah SWT.”</em> Selanjutnya Nabi SAW bersabda<em>, “Kalau begitu, maka lakukanlah. Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi janganlah kamu memikirkan tentang-Nya. Sesungguhnya di barat ini ada bumi yang putih cahayanya perjalanan matahari empat puluh hari. Di dalamnya terdapat makhluk dari makhluk-makhluk Allah.</em> Mereka tidak pernah mendurhakai Allah sekejap mata pun. Mereka bertanya<em>, “Wahai Rasulullah, lalu di mana setan terhadap mereka? </em>Beliau bersabda, <em>“Mereka tidak tahu setan diciptakan atau tidak.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan anak Adam?” Beliau bersabda, “Mereka tidak tahu Adam diciptakan atau tidak.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jelas, al-Quran mengatakanِ</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya: <em>“…dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran (3): 191)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya, dalam hal yang tidak menyenangkan pun dirinya bisa melihat dengan haqqul yakin, bahwa Allah sangat mencintai hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertafakur berarti berpikir dengan akal sehat untuk menemukan hikmah (kebijaksanaan) dalam setiap peristiwa yang dihadapi, dialami ataupun dirasakan. Dengan cara demikian, maka kita akan mengerti secara jelas sikap terbaik apa yang harus kita berikan atas peristiwa yang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama kita harus mampu menghubungkan peristiwa yang terjadi dengan konsep keimanan kepada Allah SWT. Inilah yang disebut dengan dzikir, sehingga kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan bersabar atas segala musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh berikut penulis kutipkan satu kasus bagaimana bertafakur, dari buku Bahan Renungan Qalbu, karya Ir. Permadi Alibasyah tentang musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila dipikir dengan akal, musibah itu pasti hal yang buruk. Kemudian tak satu pun manusia yang mau apalagi ingin mendapat musibah. Bahkan musibah itu identik dengan apes atau sial. Musibah juga hasil kejahatan orang lain pada kita. Boleh jadi musibah juga karena kecerobohan kita saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara berpikir seperti di atas, akan menghasilkan output yang buruk. Wajar orang yang mengalami musibah menjadi stres. Oleh karena itu dia perlu dikasihani karena kemalangan yang menimpanya. Maka lain kali buatlah perhitungan yang matang supaya tidak tertimpa musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan sangat berbeda hasilnya jika proses berfikir seorang mukmin diiringi proses dzikir. Kita harus selalu ingat bahwa Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Allah tidak akan pernah berbuat dzalim, malah Ia Maha Adil. Allah Maha Pandai, Maha Pengatur lagi Maha Suci. Allah selalu mendengar doa hamba-hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka musibah dengan proses fikir dan dzikir akan menghasilkan semakin kuatnya keyakinan seorang mukmin pada kekuasaan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak wajar bila kita stress saat mengalami musibah, bukankah musibah itu adalah realisasi dari permohonan kita, ihdinash shirata al-mustaqim?</p>
<p style="text-align: justify;">Hakikat dari musibah ialah Allah ingin kita mendapat hikmah. Betapa banyak kenikmatan yang didapat di antara taring-taring bencana.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila awan tak menangis, mana mungkin taman akan tersenyum. Musibah adalah tanda cinta Allah pada kita. Dia telah memberikan peluang kepada kita untuk meningkatkan ketaqwaan, dan bukankah manusia yang paling tinggi derajatanya adalah orang yang paling taqwa?</p>
<p style="text-align: justify;">Belajar Dari Nabi Yusuf</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjadi nabi, Yusuf adalah anak, remaja, bahkan pemuda yang hidup dalam kubangan masalah, derita bahkan kesengsaraan. Belum cukup usia baligh beliau sudah harus dibuang ke dalam sumur oleh saudaranya sendiri. Kita bisa bayangkan, bagaimana hancurnya perasaan seorang Yusuf belia kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun karena Yusuf sempat mendapat pelajaran dari sang ayah, Nabi Ayyub, bahwa dirinya akan mendapat kemuliaan besar dalam hidupnya yang tergambar dalam mimpi yang sempat dialaminya, ia mampu menghadapi derita yang berat itu dengan optimisme.</p>
<p style="text-align: justify;">Keimanannya pun mengantarkan pada satu keyakinan besar bahwa derita yang dialaminya adalah anak tangga pertama yang harus dilalui untuk menuju kemuliaan yang pernah dimimpikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu lamanya, Yusuf juga sempat difitnah bahkan masuk penjara karena tuduhan palsu sang majikan atasnya. Yusuf pun tidak gusar bahkan sebaliknya, ia semakin yakin bahwa hal itu adalah tangga kesekian yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan yang pernah dimimpikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf selalu berhasil menetralisir jiwa dan emosinya pada kondisi seimbang. Bahkan ketika penjara akan menjadi tempat hidupnya, ia justru lebih memilih penjara daripada menuruti keinginan majikan yang dapat mengundang kemurkaan Allalh SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an menjelaskan hal tersebut dengan gamblang. Yusuf berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”(QS. Yusuf: 33).</em></p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat yang sama Yusuf terus-menerus memperbaiki diri, sembari senantiasa bertafakkur, berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT, hingga akhirnya ia dinobatkan sebagai perdana menteri Mesir.</p>
<p style="text-align: justify;">Yusuf semakin dewasa, berwibawa bahkan mulia justru karena ditempa oleh beragam kesulitan, fitnah dan pengasingan. Hal ini terlihat saat beliau menerima amanah sebagai perdana menteri. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya ia sama sekali tak berniat melampiaskan balas dendam terhadap saudara-saudaranya sendiri yang telah melemparkannya ke dalam sumur tatkala ia masih kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Yusuf justru mengundang mereka tinggal bersama, memaafkan mereka dan bahagia bisa berbuat baik terhadap mereka yang pernah membenci dan memusuhinya. Subhanallah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, marilah kita biasakan diri untuk bertafakkur dengan sepenuh hati. Temukanlah hikmah agung atas setiap masalah, musibah, kesulitan, penderitaan yang kita alami. Sebab tidak mungkin apa yang ada dalam kehidupan ini hadir tanpa maksud baik dari Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah setiap kesuksesan itu harus dibayar dengan kelelahan, kepayahan, bahkan penderitaan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat, kecelakaan tidak hanya terjadi di jalanan yang becek atau rusak. Bahkan maut seringkali mengintai justru di jalan mulus, lancar, dan bebas hambatan! Jadi, bertafakkurlah! Wallahu a’lam.*/Imam Nawawi</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Ftafakur-cara-efektif-pelihara-iman-2.html&amp;title=Tafakur%2C%20Cara%20Efektif%20Pelihara%20Iman" id="wpa2a_8"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/tafakur-cara-efektif-pelihara-iman-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Iffah dan Bersabar</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/keutamaan-iffah-dan-bersabar.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/keutamaan-iffah-dan-bersabar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 06:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1429</guid>
		<description><![CDATA[Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia: “Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Abu Sa’id al-Khudri z menyampaikan sabda Rasulullah n yang mulia:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak faedah lagi manfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama: Ucapan Nabi n: <em>“Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk beroleh apa yang ada di tangan mereka—Allah l akan menganugerahkan kepadanya iffah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kedua: Ucapan Nabi n: <em>“Siapa yang merasa cukup, Allah l akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada keikhlasannya kepada Allah l, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepada-Nya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah l semata, merdeka dari perbudakan makhluk.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut.</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda kepada Umar z:<em>“Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan jiwamu kepadanya.” (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)</em> Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta menghindar dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada mereka, merupakan sebab yang kuat untuk mencapai ‘iffah.</li>
<li>Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa cukup dengan Allah l, percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada Allah l, pasti Allah l akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan. Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus  memperkuat ketergantungan dirinya kepada Allah l, berharap dan berambisi terhadap keutamaan Allah l dan kebaikan-Nya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya. Allah l itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang disangkanya. Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat ketergantungan kepada Allah l, semakin lemah ketergantungan terhadap makhluk. Demikian pula sebaliknya.Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi n:<em>“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan.” (HR. Muslim no. 6842 dari Ibnu Mas’ud z)</em></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Seluruh kebaikan terkumpul dalam doa ini. Al-huda (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat, ketakwaan adalah amal saleh dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hal ini membawa kebaikan agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyempurnanya adalah baik dan tenangnya hati, dengan tidak berharap kepada makhluk dan merasa cukup dengan Allah l. Orang yang merasa cukup dengan Allah l, dialah orang kaya yang sebenarnya, walaupun sedikit hartanya. Orang kaya bukanlah orang yang banyak hartanya. Akan tetapi, orang kaya yang hakiki adalah orang yang kaya hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ‘iffah dan kekayaan hati sempurnalah kehidupan yang baik bagi seorang hamba. Dia akan merasakan kenikmatan duniawi dan qana’ah/merasa cukup dengan apa yang Allah l berikan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga: Ucapan Nabi n:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah l akan menjadikannya sabar.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Keempat: Bila Allah l memberikan kesabaran kepada seorang hamba, itu merupakan pemberian yang paling utama, paling luas, dan paling agung, karena kesabaran itu akan bisa membantunya menghadapi berbagai masalah. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (Al-Baqarah: 45)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maknanya, dalam seluruh masalah kalian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar itu, sebagaimana seluruh akhlak yang lain, membutuhkan kesungguhan (mujahadah) dan latihan jiwa. Karena itulah, Rasulullah n mengatakan: وَمَنْ يَتَصَبَّرْ  “memaksa jiwanya untuk bersabar”, balasannya: <em>“Allah l akan menjadikannya sabar.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Usaha dia akan berbuah bantuan Allah l terhadapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar itu disebut pemberian terbesar, karena sifat ini berkaitan dengan seluruh masalah hamba dan kesempurnaannya. Dalam setiap keadaan hamba membutuhkan kesabaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia membutuhkan kesabaran dalam taat kepada Allah l sehingga bisa menegakkan ketaatan tersebut dan menunaikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia membutuhkan kesabaran untuk menjauhi maksiat kepada Allah l sehingga ia bisa meninggalkannya karena Allah l.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia membutuhkan sabar dalam menghadapi takdir Allah l yang menyakitkan sehingga ia tidak menyalahkan/murka terhadap takdir tersebut. Bahkan, ia pun tetap membutuhkan sabar menghadapi nikmat-nikmat Allah l dan hal-hal yang dicintai oleh jiwa sehingga tidak membiarkan jiwanya bangga dan bergembira yang tercela. Ia justru menyibukkan diri dengan bersyukur kepada Allah l.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, ia membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaan. Dengan sabar, akan diperoleh keuntungan dan kesuksesan. Oleh karena itulah, Allah l menyebutkan ahlul jannah (penghuni surga) dengan firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;">Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Ar-Ra’d: 23—24)</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran mereka….” (Al-Furqan: 75)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kesabaranlah mereka memperoleh surga berikut kenikmatannya dan mencapai tempat-tempat yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang hamba hendaklah meminta keselamatan kepada Allah l, agar dihindarkan dari musibah yang ia tidak mengetahui akibatnya. Akan tetapi, bila musibah itu tetap menghampirinya, tugasnya adalah bersabar. Kesabaran merupakan hal yang diperintahkan dan Allah l-lah yang menolong hamba-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l menjanjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya bahwa orang-orang yang bersabar akan beroleh ganjaran yang tinggi lagi mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l berjanji akan menolong mereka dalam semua urusan, menyertai mereka dengan penjagaan, taufik dan pelurusan-Nya, mencintai dan mengokohkan hati serta telapak kaki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l akan memberikan ketenangan dan ketenteraman, memudahkan mereka melakukan banyak ketaatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga akan menjaga mereka dari penyelisihan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia memberikan keutamaan kepada mereka dengan shalawat, rahmat, dan hidayah ketika tertimpa musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengangkat mereka kepada tempat-tempat yang paling tinggi di dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia berjanji menolong mereka, memudahkan menempuh jalan yang mudah, dan menjauhkan mereka dari kesulitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia menjanjikan mereka memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia juga akan memberi mereka pahala tanpa hitungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia akan mengganti apa yang luput dari mereka di dunia dengan ganti yang lebih banyak dan lebih baik daripada hal-hal yang mereka cintai yang telah diambil dari mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l pun akan mengganti hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa mereka dengan ganti yang segera, banyaknya berlipat-lipat daripada musibah yang menimpa mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabar itu pada mulanya sulit dan berat, namun pada akhirnya mudah lagi terpuji akibatnya. Ini sebagaimana dikatakan dalam bait syair berikut.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Akan tetapi, akibatnya lebih manis daripada madu.</em></p>
<p style="text-align: justify;">(ditulis oleh: Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di)</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fkeutamaan-iffah-dan-bersabar.html&amp;title=Keutamaan%20Iffah%20dan%20Bersabar" id="wpa2a_10"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/keutamaan-iffah-dan-bersabar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadikan Istirahatmu Bernilai Disisi Allah</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/jadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/jadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 02:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1420</guid>
		<description><![CDATA[Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya. Rasulullah n telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Istirahat atau tidur adalah salah satu aktivitas harian yang diharapkan bisa bernilai ibadah di sisi Allah. Melanjutkan edisi sebelumnya, bahasan kali ini akan menginjak permasalahan doa dan adab tidur lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n telah memberikan bimbingan agar berdoa di dalam tidur kita. Tentunya dengan harapan agar istirahat kita bisa berbarakah dan bernilai ibadah di sisi Allah. Rasulullah n bersabda.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Barangsiapa duduk di sebuah tempat dan tidak berdzikir kepada Allah maka akan diberikan kekurangan oleh Allah. Dan barangsiapa mengambil tempat tidurnya dan tidak berdzikir kepada Allah maka dia tidak mendapatkan dari-Nya melainkan keku-rangan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 4805, 5059 dan An-Nasa`i dalam kitab ‘Amal Al-Yaum Wal Lailah no. 404, dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali di dalam kitab Bahjatun Nazhirin 2/109, Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab As-Shahihah no. 78, dan Shahih Sunan Abu Dawud no. 4065.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pembahasan sebelumnya, telah kita simak beberapa doa yang telah diajarkan Rasulullah n untuk diamalkan. Dan kita yakin, setiap bimbingan ada keutamaannya sendiri dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah. Abdullah bin Mas’ud z berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Tidur ketika berdzikir adalah dari setan dan jika kalian ingin (mengetahuinya) maka cobalah. Dan apabila seseorang dari kalian menuju pembaringannya dan dia ingin tidur, maka hendaklah dia berdzikir kepada Allah.”1</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qayyim t menjelaskan: <em>“Barangsiapa mempelajari sifat tidur dan bangun Rasulullah n, dia akan menjumpai bahwa tidur beliau adalah tidur paling nyaman dan lebih memberikan manfaat kepada badan dan semua anggotanya, serta memberikan kekuatan.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau tidur di awal malam dan bangun pada akhir pertengahan kedua dari malam. Beliau bangun dan menggosok gigi dengan siwak dan berwudhu. Dan beliau mendirikan shalat yang telah diwajibkan Allah atas beliau. Dengan itu, badan, semua anggotanya, dan tenaga, mengambil manfaat dari tidur dan istirahatnya itu. Dan juga olahraga, bersamaan dengan limpahan pahala. Tentu ini merupakan puncak kebagusan hati dan badan, dunia dan akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau tidak tidur melebihi kebutuhan dan tidak meninggalkannya melebihi yang dibutuhkan badan. Dan beliau melaksana-kannya dengan cara yang sempurna. Beliau tidur di atas lambung sebelah kanan dalam keadaan berdzikir kepada Allah hingga mata beliau terpejam.” (Lihat Zadul Ma’ad, 2/142)</p>
<p style="text-align: justify;">Doa-doa ketika Hendak Tidur</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara doa-doa yang beliau baca adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>q Membaca Ayat Kursi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sunnah taqririyah beliau ketika setan mengajarkan tameng dari sebuah kejahatan kepada Abu Hurairah z, dia berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apabila kamu menuju ranjang pembaringanmu, maka bacalah ayat kursi. Niscaya kamu terus bersama penolong dari Allah dan setan tidak akan mendekatimu sampai datang waktu pagi.”</em> Rasulullah n bersabda: <em>“Dia benar dan dia adalah seorang pendusta. Dia itu setan.”2</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>q Membaca Dua Surat yaitu Alif Lam Mim As-Sajadah dan Al-Mulk</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam riwayat Jabir bin Abdullah z, beliau berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Adalah Rasulullah tidak tidur sehingga beliau membaca (surat) Alif Laam Mim Tanzil dan Tabaarakalladzi biyadihi Al-Mulk.”3</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>q Membaca Doa-doa di bawah ini:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>1. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan beliau no. 5045 dari Hafshah x, beliau berkata</em>: “Apabila Rasulullah n hendak tidur beliau meletakkan tangan kanannya di atas pipi beliau, dan berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Ya Allah, lindungilah aku dari adzabmu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3638 dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman z dan dari shahabat Al-Bara` bin ‘Azib z no. 3639, dan Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adab Al-Mufrad no. 1215.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>2. Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi no. 3636 dari shahabat Anas bin Malik z, berkata:</em> “Adalah Rasulullah n apabila beranjak ke tempat pembaringan, beliau berdoa:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan, minum, yang telah mencukupi dan melindungi kami. Betapa banyak orang yang tidak memiliki yang akan mencukupi dan melindunginya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih beliau no. 2715, dan Al-Imam Abu Dawud no. 5053.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>3.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah no. 2714 bahwa Rasulullah n bersabda: “</em>Apabila salah seorang dari kalian menuju pembaringannya, hendaklah dia mengambil ujung sarungnya lalu mengibaskannya ke tempat tidurnya. Dan hendaklah dia menyebut nama Allah karena dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Dan bila dia akan berbaring, maka berbaringlah di atas lambung sebelah kanan dan mengucapkan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Maha Suci Engkau ya Allah, wahai Rabbku. Karena Engkau aku meletakkan lambungku dan karena Engkau aku mengang-katnya. Dan jika Engkau menahan jiwaku, maka ampunilah ia. Dan jika Engkau mele-paskannya kembali maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>4.    Diriwayatkan Al-Imam Muslim dari Suhail dari Abu Shalih dan Abu Shalih mengatakan:</em> Kami meriwayatkannya dari Abu Hurairah z. Suhail mengatakan Abu Shalih memerintahkan kami, apabila salah seorang dari kami akan tidur hendaklah dia tidur di atas lambung sebelah kanan kemudian berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai Rabb kami, pemilik langit dan bumi serta pemilik ‘Arsy yang agung. Wahai Rabb kami dan Rabb segala sesuatu, Yang membelah biji-bijian, Yang menurunkan Taurat, Injil, dan Furqan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, Engkaulah yang memegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau yang Awwal dan tidak ada sesuatupun sebelum-Mu, Engkau yang akhir dan tidak ada sesuatupun setelah-Mu, Engkau yang Dhahir tidak ada sesuatu di atas Engkau, dan Engkau yang Batin dan tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Tunaikanlah hutang kami dan cukupkanlah kami dari kefakiran.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih banyak lagi wirid-wirid yang dibaca Rasululah n dan jika dijabarkan tidak akan mencukupi dengan pembahasan singkat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam An-Nawawi t berkata: “Lebih utama bagi seseorang untuk mem-baca seluruh doa yang tersebut dalam bab ini. Namun bila tidak memungkinkan, hen-daknya dia membaca doa terpenting yang dia mampu.” (Al-Adzkar, hal. 80, ed)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika ingin mengetahui lebih jauh dapat dilihat dalam kitab Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi dan tahqiqnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bila Terjaga di Malam Hari</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada tuntunan doa yang diajarkan Rasulullah n bila seseorang terjaga di malam hari?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu ada. Diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud (no. 5060) dari shahabat ‘Ubadah bin Ash-Shamit z berkata: Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa terjaga lalu berdoa ketika bangunnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“La ilaha illallah tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, dan segala pujian milik Allah dan tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah. Allah Maha Besar dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan milik Allah lalu dia berdoa: “Wahai Rabbku ampunilah aku!” –Walid berkata– bila dia berdoa niscaya akan diampuni dan bila dia bangun kemudian berwudhu lalu shalat akan diterima shalatnya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah (no. 3478) dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan keduanya (yakni Abu Dawud dan Ibnu Majah). Bahkan juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit z((ed).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Doa Bangun dari Tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bila bangun dari tidur Rasulullah n berdoa:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah matinya kami dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”4</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bersiwak bila Bangun dari Tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diceritakan oleh Hudzaifah bin Al-Yaman z tentang perbuatan Rasulullah n ketika bangun dari tidur:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Adalah Rasulullah n apabila bangun di malam hari beliau menggosok mulut dengan siwak.”5</em></p>
<p style="text-align: justify;">Cara Tidur yang Dilarang</p>
<p style="text-align: justify;">Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari berkata: <em>“Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata:</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">(bapakku berkata): <em>“Setelah aku melihat ternyata beliau adalah Rasulullah n.”6</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan hadits ini diriwayatkan dari shahabat yang lain yaitu Abu Dzar z, diriwayatkan Al-Imam Ibnu Majah no. 3724 dan dari Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi no. 2230.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bila Bermimpi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam kitab-kitab yang menghim-pun Sunnah Rasulullah n, ahlul hadits membawakan permasalahan mimpi dan ta’birnya. Hal ini menunjukkan bahwa ta’bir/takwil mimpi adalah sesuatu yang sangat penting untuk diilmui. Kita tidak hendak menjelaskannya secara detail di sini, hanya sebatas adab bila bermimpi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n banyak menjelaskannya di dalam sabda-sabda beliau dan telah diriwayatkan sejumlah shahabat Rasulullah n di antaranya Abu Hurairah, ‘Ubadah bin Ash-Shamit, Anas bin Malik, Abu Qatadah, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Umar, dan selain mereka seperti:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apabila zaman berdekatan, hampir-hampir (mimpi) orang beriman tidak pernah meleset dan mimpinya orang yang beriman merupakan satu bagian dari 46 bagian nubuwwah.”7</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a.    Macam Mimpi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan oleh Rasulullah n bahwa mimpi ada tiga macam:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Pertama: Mimpi yang baik, dan ini merupakan kabar yang baik dari Allah.</li>
<li>Kedua: Mimpi yang buruk, dan ini dari setan.</li>
<li>Ketiga: Mimpi tentang apa yang terbetik di dalam diri.</li>
<li>Ketiga jenis mimpi ini disebutkan oleh Rasulullah n, dalam hadits yang diriwayat-kan Al-Imam Muslim dan selain beliau no. 2263 dari Abu Hurairah z.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;"><strong>b.    Adab bila Bermimpi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini termasuk kesempurnaan Islam. Tidak ada sesuatupun dalam Islam yang lepas dari bimbingan syariat. Maka berbaha-gialah orang yang menerima bimbingan Allah dan Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>q Adab Bila Bermimpi yang Baik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n telah menjelaskan sebuah adab bila seseorang bermimpi dengan mimpi yang baik. Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6985 dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri z bahwa beliau telah mendengar Rasululah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apabila seseorang bermimpi yang disukainya maka sesungguhnya datang dari Allah, hendaklah dia memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits di atas ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n bila bermimpi baik, yaitu memuji Allah dengan menga-takan: Alhamdulillah, dan menceritakannya kepada orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>q Adab Bila bermimpi yang Buruk</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n telah menjelaskannya dalam lanjutan hadits di atas yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apabila dia bermimpi yang selain itu (yakni yang tidak disukai), maka itu datangnya dari setan. Hendaklah dia berlindung dari (kejahatan) setan dan jangan menceritakannya kepada orang lain karena hal itu tidak akan membahayakannya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hadits ini ada dua adab yang disebutkan Rasulullah n yaitu: <em>berlindung kepada Allah dari kejahatan setan dan jangan dia menceritakannya kepada orang lain.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n menyebutkan adab yang lain bila bermimpi buruk, seperti:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- Meludah tiga kali ke arah kiri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dijelaskan Rasululah n dalam sabda beliau dari shahabat Abu Qatadah diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari no. 6986 dan Muslim no. 2261:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Hendaklah dia meludah sedikit8 tiga kali.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- Mengubah posisi tidur</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dijelaskan Rasulullah n dalam riwa-yat Jabir bin Abdullah z, diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 2261:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan hendaklah dia berpindah dari posisi tidur sebelumnya.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>- Shalat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sabda beliau sebagai-mana dalam riwayat Abu Hurairah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim no. 2263:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka hendaklah dia shalat.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini beberapa pembahasan singkat bila bermimpi ketika tidur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penutup</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tidur itu ada dua fungsi dan faidah bagi setiap orang.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Pertama: Memberikan rasa nyaman kepada badan dari rasa lelah</li>
<li>Kedua: Menghancurkan makanan dan mematangkan segala campuran makanan. (Lihat Zadul Ma’ad 2/143)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fjadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah.html&amp;title=Jadikan%20Istirahatmu%20Bernilai%20Disisi%20Allah" id="wpa2a_12"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/jadikan-istirahatmu-bernilai-disisi-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DAFTAR DONATUR ONLINE BULAN OKTOBER</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/daftar-donatur-online-bulan-oktober.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/daftar-donatur-online-bulan-oktober.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 01:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daftar Donatur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1415</guid>
		<description><![CDATA[NO TANGGAL NAMA DONATUR JUMLAH KETERANGAN 1 2 oktober 2011 Bpk KAR  Rp             350,000.00 INT / ATM 2 3 Oktober 2011 Bpk FIR  Rp             100,000.00 INT / ATM 3 3 Oktober 2011 ROOSALTINE RIKA  Rp             150,000.00 INT / ATM 4 4 oktober 2011 DICKY SUKMANA  Rp             150,000.00 INT / ATM 5 5 oktober 2011 LEMIGAS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table width="559" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<col width="36" />
<col width="135" />
<col width="136" />
<col width="132" />
<col width="113" />
<tbody>
<tr>
<td width="36" height="20">NO</td>
<td width="135">TANGGAL</td>
<td width="136">NAMA DONATUR</td>
<td width="132">JUMLAH</td>
<td width="113">KETERANGAN</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">1</td>
<td>2 oktober 2011</td>
<td>Bpk KAR</td>
<td> Rp             350,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">2</td>
<td>3 Oktober 2011</td>
<td>Bpk FIR</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">3</td>
<td>3 Oktober 2011</td>
<td>ROOSALTINE RIKA</td>
<td> Rp             150,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">4</td>
<td>4 oktober 2011</td>
<td>DICKY SUKMANA</td>
<td> Rp             150,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">5</td>
<td>5 oktober 2011</td>
<td>LEMIGAS</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">6</td>
<td>5 oktober 2011</td>
<td>Sdri RIN</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">7</td>
<td>6 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">8</td>
<td>6 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">9</td>
<td>7 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             150,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">10</td>
<td>7 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">11</td>
<td>9 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             250,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">12</td>
<td>9 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             150,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">13</td>
<td>10 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                25,000.00</td>
<td>Inet Bankin</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">14</td>
<td>10 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             200,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">15</td>
<td>10 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp          7,000,000.00</td>
<td>Cb. Jepara</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">16</td>
<td>10 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                40,000.00</td>
<td>Cb. Jepara</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">17</td>
<td>11 oktober 2011</td>
<td>UNIT SUKOREJO</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">18</td>
<td>13 oktober 2011</td>
<td>ASTRD A</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">19</td>
<td>13 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             250,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">20</td>
<td>14 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                25,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">21</td>
<td>14 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             200,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">22</td>
<td>16 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">23</td>
<td>17 oktober 2011</td>
<td>Sdr AGU</td>
<td> Rp             500,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">24</td>
<td>22 oktober 2011</td>
<td>DANIEL</td>
<td> Rp             500,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">25</td>
<td>23 oktober 2011</td>
<td>Bpk THO</td>
<td> Rp          1,000,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">26</td>
<td>23 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">27</td>
<td>24 oktober 2011</td>
<td>Ibu ARM</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">28</td>
<td>25 oktober 2011</td>
<td>Sdri DI</td>
<td> Rp                10,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">29</td>
<td>26 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp                57,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">30</td>
<td>26 oktober 2011</td>
<td>SUGENG SANTOSO</td>
<td> Rp                50,000.00</td>
<td>Divopr</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">31</td>
<td>27 oktober 2011</td>
<td>UNIT GUNUNG ANYAR</td>
<td> Rp                20,000.00</td>
<td>SMS Bankin</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">32</td>
<td>27 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">33</td>
<td>27 oktober 2011</td>
<td>Bpk KAR</td>
<td> Rp             350,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">34</td>
<td>28 oktober 2011</td>
<td>ASTRD A</td>
<td> Rp                20,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">35</td>
<td>28 oktober 2011</td>
<td>Ibu EVI</td>
<td> Rp             200,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">36</td>
<td>29 oktober 2011</td>
<td>Bpk ACH</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">37</td>
<td>31 oktober 2011</td>
<td>WELLINDO</td>
<td> Rp             100,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">38</td>
<td>31 oktober 2011</td>
<td>ROOSALTINE RIKA</td>
<td> Rp             200,000.00</td>
<td>INT / ATM</td>
</tr>
<tr>
<td height="20">39</td>
<td>31 oktober 2011</td>
<td>HAMBA ALLAH</td>
<td> Rp             500,000.00</td>
<td>cb. Blitar</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fdaftar-donatur-online-bulan-oktober.html&amp;title=DAFTAR%20DONATUR%20ONLINE%20BULAN%20OKTOBER" id="wpa2a_14"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/daftar-donatur-online-bulan-oktober.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahsyatnya Ujian Wanita dan Dunia (Akhlak part 56)</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/dahsyatnya-ujian-wanita-dan-dunia-akhlak-part-56.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/dahsyatnya-ujian-wanita-dan-dunia-akhlak-part-56.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 02:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1406</guid>
		<description><![CDATA[Allah l dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah l: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2) “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah l dengan kekuasaan dan hikmah-Nya yang sempurna menjadikan dunia serta perhiasannya yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan. Sebagaimana firman Allah l:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2) </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-’Ankabut: 1-2)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, Allah l dengan rahmah-Nya memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya hikmah dihadapkannya mereka kepada berbagai ujian dan cobaan itu. Allah <em>l berfirman: </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-’Ankabut: 3)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t menyatakan dalam tafsirnya: <em>“Allah l mengabarkan tentang hikmah-Nya yang sempurna. Di mana sifat hikmah-Nya mengharuskan setiap orang yang mengaku beriman tidak akan dibiarkan begitu saja dengan pengakuannya. Pasti dia akan dihadapkan pada berbagai ujian dan cobaan. Bila tidak demikian, niscaya tidak bisa terbedakan antara orang yang benar dan jujur dengan orang yang dusta. Tidak bisa terbedakan pula antara orang yang berbuat kebenaran dengan orang yang berbuat kebatilan. Sudah merupakan ketentuan Allah l, Dia menguji (manusia) dengan kelapangan dan kesempitan, kemudahan dan kesulitan, kesenangan dan kesedihan, serta kekayaan dan kemiskinan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Ibnu Katsir t menyatakan dalam tafsirnya: <em>“(Agar terbedakan) orang-orang yang benar dalam pengakuannya dari orang-orang yang dusta dalam ucapan dan pengakuannya. Sedangkan Allah l Maha mengetahui apa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Allah l juga mengetahui cara terjadinya sesuatu bila hal itu terjadi. Hal ini adalah prinsip yang telah disepakati (ijma’) oleh para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah l bahkan telah mengabarkan:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha melihat.” (Al-Furqan: 20)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan maksud ayat di atas dalam tafsirnya: <em>“Seorang rasul adalah ujian bagi umatnya, yang akan memisahkan orang-orang yang taat dengan orang-orang yang durhaka terhadap rasul tersebut. Maka Kami jadikan para rasul sebagai ujian dan cobaan untuk mendakwahi kaum mereka. Seorang yang kaya adalah ujian bagi yang miskin. Demikian pula sebaliknya. Orang miskin adalah ujian bagi orang kaya. Semua jenis tingkatan makhluk (merupakan ujian dan cobaan bagi yang sebaliknya) di dunia ini. Dunia yang fana ini adalah medan yang penuh ujian dan cobaan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari penjelasan Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t di atas, kita dapatkan faedah bahwa: seorang istri adalah ujian bagi suaminya, anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya, pembantu adalah ujian bagi tuannya, tetangga adalah ujian bagi tetangga yang lainnya, rakyat adalah ujian bagi pemerintahnya, dan sebagainya. Begitu pula sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan: “Tujuannya adalah apakah kalian mau bersabar, kemudian menegakkan berbagai perkara yang diwajibkan atas kalian, sehingga Allah l akan membalas amalan kebaikan kalian. Ataukah kalian tidak mau bersabar yang dengan sebab itu kalian berhak mendapatkan kemurkaan (Allah l) dan siksaan?! Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali ‘Imran: 14)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah l memberitahukan bahwa kecintaan terhadap kenikmatan dan kesenangan dunia akan ditampakkan indah dan menarik di mata manusia.<em> Allah k juga menyebutkan hal-hal ini secara khusus karena hal-hal tersebut adalah ujian yang paling dahsyat, sedangkan hal-hal lain hanyalah mengikuti. Maka, tatkala hal-hal ini ditampakkan indah dan menarik kepada mereka, disertai faktor-faktor yang menguatkannya, maka jiwa-jiwa mereka akan bergantung dengannya. Hati-hati mereka akan cenderung kepadanya.” (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 124)</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Fitnah (godaan) wanita</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa banyak lelaki yang menyimpang dari jalan Allah l karena godaan wanita. Betapa banyak pula seorang suami terjatuh dalam berbagai kezaliman dan kemaksiatan disebabkan istrinya. Sehingga Allah l memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (At-Taghabun: 14)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Mujahid t berkata: “Yakni akan menyeret orangtua atau suaminya untuk memutuskan tali silaturahim atau berbuat maksiat kepada Rabbnya, maka karena kecintaan kepadanya, suami atau orangtuanya tidak bisa kecuali menaatinya (anak atau istri tersebut).”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Berniat dan berbuat baiklah kalian kepada para wanita. Karena seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Maka apabila kamu berusaha dengan keras meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya. Sedangkan bila kamu membiarkannya niscaya akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian kepada para istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n juga bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita.” (Muttafaqun ‘alaih dari Usamah bin Zaid c)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mubarakfuri t berkata: <em>“(Sisi berbahayanya fitnah wanita bagi lelaki) adalah karena keumuman tabiat seorang lelaki adalah sangat mencintai wanita. Bahkan banyak terjadi perkara yang haram (zina, perselingkuhan, pacaran, dan pemerkosaan, yang dipicu [daya tarik] wanita). Bahkan banyak pula terjadi permusuhan dan peperangan disebabkan wanita. Minimalnya, wanita atau istri bisa menyebabkan seorang suami atau seorang lelaki ambisius terhadap dunia. Maka ujian apalagi yang lebih dahsyat darinya?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n menyerupakan godaan wanita itu seperti setan, sebagaimana dalam hadits Jabir bin Abdillah c, bahwa Rasulullah n melihat seorang wanita. Kemudian beliau mendatangi Zainab istrinya, yang waktu itu sedang menyamak kulit hewan. Beliau n lalu menunaikan hajatnya (menggaulinya dalam rangka menyalurkan syahwatnya karena melihat wanita itu). Setelah itu, beliau keluar menuju para sahabat dan bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk setan dan berlalu dalam bentuk setan pula. Apabila salah seorang kalian melihat seorang wanita (dan bangkit syahwatnya) maka hendaknya dia mendatangi istrinya (menggaulinya), karena hal itu akan mengembalikan apa yang ada pada dirinya (meredakan syahwatnya).” (HR. Muslim)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam An-Nawawi t berkata dalam Syarah Shahih Muslim (8/187): “Para ulama mengatakan, makna hadits itu adalah bahwa penampilan wanita membangkitkan syahwat dan mengajak kepada fitnah. Karena Allah l telah menjadikan adanya kecenderungan atau kecintaan kepada wanita dalam hati para lelaki, merasa nikmat melihat kecantikannya berikut segala sesuatu yang terkait dengannya. Sehingga seorang wanita ada sisi keserupaan dengan setan dalam hal mengajak kepada kejelekan atau kemaksiatan melalui was-was serta ditampakkan bagus dan indahnya kemaksiatan itu kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dapat diambil pula faedah hukum dari hadits ini bahwa sepantasnya seorang wanita tidak keluar dari rumahnya, (berada) di antara lelaki, kecuali karena sebuah keperluan (darurat) yang mengharuskan dia keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itulah, Allah l dan Rasul-Nya n melarang segala sesuatu yang akan menyebabkan hamba-hamba-Nya terfitnah dengan wanita, seperti memandang, berkhalwat (berduaan dengan wanita yang bukan mahram), ikhtilath (campur-baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram). Bahkan mendengarkan suara wanita yang bisa membangkitkan syahwat pun dilarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nur: 30)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)  </em></p>
<p style="text-align: justify;">“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra’: 32)</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ibnu Abbas c, Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Janganlah salah seorang kalian berduaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya.” (Muttafaqun ‘alaih)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari ‘Uqbah bin ‘Amir z, Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Jauhi oleh kalian masuk kepada para wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya: “Bagaimana pendapat anda tentang ipar?” Beliau n menjawab: “Ipar itu berarti kebinasaan (banyak terjadi zina antara seorang lelaki dengan iparnya).” (Muttafaqun ‘alaih)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Agar hamba-hamba-Nya selamat dari godaan wanita, Allah l dan Rasul-Nya n memerintahkan untuk menikah dengan wanita shalihah, yang akan saling membantu dengan dirinya untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah l. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Seorang wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kebaikan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang bagus agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Godaan dunia dan harta</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya dunia itu manis (rasanya) dan hijau (menyenangkan dilihat). Dan sesungguhnya Allah l menggantikan sebagian kalian dengan sebagian yang lain di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian beramal dengan dunia tersebut. Oleh karena itu, takutlah kalian terhadap godaan dunia (yang menggelincirkan kalian dari jalan-Nya) dan takutlah kalian dari godaan wanita, karena ujian yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah godaan wanita.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri z)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Sesungguhnya setiap umat itu akan dihadapkan dengan ujian (yang terbesar). Dan termasuk ujian yang terbesar yang menimpa umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi dari ‘Iyadh bin Himar z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Harta dan dunia bukanlah tolok ukur seseorang itu dimuliakan atau dihinakan oleh Allah l. Sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun manusia apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata: <em>“Rabbku telah memuliakanku.” Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 15-16)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: <em>“Maksud ayat-ayat tersebut adalah tidak setiap orang yang Aku (Allah l) beri kedudukan dan limpahan nikmat di dunia berarti Aku limpahkan keridhaan-Ku kepadanya. Hal itu hanyalah sebuah ujian dan cobaan dari-Ku untuknya. Dan tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezekinya, Aku beri sekadar kebutuhan hidupnya tanpa ada kelebihan, berarti Aku menghinakannya. Namun Aku menguji hamba-Ku dengan kenikmatan-kenikmatan sebagaimana Aku mengujinya dengan berbagai musibah.” (Ijtima’ul Juyusy, hal. 9)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga, dunia dan harta bisa menyebabkan pemiliknya selamat serta mulia di dunia dan akhirat, apabila dia mendapatkannya dengan cara yang diperbolehkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Dia juga mensyukurinya serta menunaikan hak-haknya sehingga tidak diperbudak oleh dunia dan harta tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah n:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah l karuniakan harta kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah l karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan demikianlah keadaan para sahabat dahulu. Abu Dzar z menceritakan: Beberapa orang sahabat Nabi n berkata kepada beliau n:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami untuk mendapatkan pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka juga berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” (HR. Muslim)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, orang yang tertipu dengan harta dan dunia sehingga dia diperbudak olehnya, dia akan celaka dan binasa di dunia maupun akhirat. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah l dari hal tersebut). Padahal Allah l telah memperingatkan tentang hakikat harta dan dunia itu dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun aku khawatir akan dibentangkan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian, maka dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana dia telah membinasakan orang-orang yang sebelum kalian.” (Muttafaqun ‘alaih dari ‘Amr bin ‘Auf z)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Celaka hamba dinar, dirham, qathifah, dan khamishah (keduanya adalah jenis pakaian). Bila dia diberi maka dia ridha. Namun bila tidak diberi dia tidak ridha.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah l menceritakan kejahatan orang yang berilmu dan ahli ibadah dari kalangan ahli kitab yang telah diperbudak oleh harta dan dunia dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Ibnu Katsir t menerangkan dalam tafsirnya: “Yang dimaksud ayat tersebut adalah peringatan dari para ulama su’ (orang yang berilmu tapi jahat) dan ahli ibadah yang sesat. Sebagaimana ucapan Suyfan ibnu Uyainah t: ‘Barangsiapa yang jahat dari kalangan orang yang berilmu di antara kita, berarti ada keserupaan dengan para pemuka Yahudi. Sedangkan barangsiapa yang sesat dari kalangan ahli ibadah kita, berarti ada keserupaan dengan para pendeta Nasrani. Di mana Rasulullah n bersabda dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sungguh-sungguh ada di antara kalian perbuatan-perbuatan generasi sebelum kalian. Seperti bulu anak panah menyerupai bulu anak panah lainnya.’ Para sahabat g bertanya: ‘Apakah mereka orang Yahudi dan Nasrani?’ Beliau n menjawab: ‘Siapa lagi?’</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat yang lain mereka bertanya: ‘Apakah mereka Persia dan Romawi?’ Beliau n menjawab: ‘Siapa lagi kalau bukan mereka?’</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya adalah peringatan dari tasyabbuh (menyerupai) ucapan maupun perbuatan mereka. Oleh karena itulah Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">“(Mereka) benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itu karena mereka memakan harta orang lain dengan kedok agama. Mereka mendapat keuntungan dan kedudukan di sisi umat, sebagaimana para pendeta Yahudi dan Nasrani mendapatkan hal-hal tersebut dari umatnya di masa jahiliah. Hingga ketika Allah l mengutus Rasul-Nya Muhammad n, mereka pun tetap berkeras di atas kejahatan, kesesatan, kekafiran, dan permusuhannya, disebabkan ambisi mereka terhadap kedudukan tersebut. Maka Allah l memadamkan kesesatan itu dengan cahaya kenabian sekaligus menggantikan kedudukan mereka degan kehinaan serta kerendahan. Dan mereka akan kembali menghadap Allah l membawa kemurkaan-Nya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Sungguh, ambisi terhadap dunia termasuk sebab yang menimbulkan berbagai macam fitnah pada generasi pertama. Telah terdapat riwayat yang shahih dari Ibnu Umar c, dalam Masa’il Al-Imam Ahmad (2/171), bahwa beliau c berkata: Seorang dari Anshar datang kepadaku pada masa khalifah Utsman z. Dia berbicara denganku. Tiba-tiba dia menyuruhku untuk mencela Utsman z. Maka aku katakan: ‘Sungguh, demi Allah, kita tidak mengetahui bahwa Utsman membunuh suatu jiwa tanpa alasan yang benar. Dia juga tidak pernah melakukan dosa besar (zina) sedikitpun. Namun inti masalahnya adalah harta. Apabila dia memberikan harta tersebut kepadamu, niscaya engkau akan ridha. Sedangkan bila dia memberikan harta kepada saudara/kerabatnya, maka kalian marah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam hafizhahullah berkata: “Bila kalian arahkan pandangan ke tengah-tengah kaum muslimin, baik di zaman yang telah lalu maupun sekarang, niscaya engkau akan saksikan kebanyakan orang yang tergelincir dari jalan ini (al-haq) adalah karena tamak terhadap dunia dan kedudukan. Maka barangsiapa yang membuka pintu ini untuk dirinya niscaya dia akan berbolak-balik. Berubah-ubah prinsip agamanya dan akan menganggap remeh/ringan urusan agamanya. (Bidayatul Inhiraf, hal. 141)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata: “Setiap orang dari kalangan orang yang berilmu yang lebih memilih dunia dan berambisi untuk mendapatkannya, pasti dia akan berdusta atas nama Allah l dalam fatwanya, dalam hukum yang dia tetapkan, berita-berita yang dia sebarkan, serta konsekuensi-konsekuensi yang dia nyatakan. Karena hukum-hukum Allah l mayoritasnya menyelisihi ambisi manusia. Lebih-lebih ambisi orang yang tamak terhadap kedudukan dan orang yang diperbudak hawa nafsunya. Ambisi mereka tidak akan bisa mereka dapatkan dengan sempurna kecuali dengan menyelisihi kebenaran dan sering menolaknya. Apabila seorang yang berilmu atau hakim berambisi terhadap jabatan dan mempertuhankan hawa nafsunya, maka ambisi tersebut tidak akan didapatkan dengan sempurna kecuali dengan menolak kebenaran…</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka pasti akan membuat-buat perkara yang baru dalam agama, disertai kejahatan-kejahatan dalam bermuamalah. Maka terkumpullah pada diri mereka dua perkara tersebut (kedustaan dan kejahatan).</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, mengikuti hawa nafsu itu akan membutakan hati, sehingga tidak lagi bisa membedakan antara sunnah dengan bid’ah. Bahkan bisa terbalik, dia lihat yang bid’ah sebagai sunnah dan yang sunnah sebagai bid’ah. Inilah penyakit para ulama bila mereka lebih memilih dunia dan diperbudak oleh hawa nafsunya.” (Al-Fawaid, hal 243-244)</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Ya Allah, tampakkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.”  Wallahu ‘alam bish-shawab.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fdahsyatnya-ujian-wanita-dan-dunia-akhlak-part-56.html&amp;title=Dahsyatnya%20Ujian%20Wanita%20dan%20Dunia%20%28Akhlak%20part%2056%29" id="wpa2a_16"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/dahsyatnya-ujian-wanita-dan-dunia-akhlak-part-56.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menepati Janji (Akhlak part 34)</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/menepati-janji.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/menepati-janji.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 07:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1401</guid>
		<description><![CDATA[Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak orangtua yang mudah mengobral janji kepada anaknya tapi tak pernah menunaikannya. Betapa banyak orang yang dengan entengnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun menyelisihi janjinya. Bahkan meminta udzur pun tidak. Padahal, Rasulullah telah banyak memberikan teladan dalam hal ini termasuk larangan keras menciderai janji dengan orang-orang kafir.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia dalam hidup ini pasti ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Maka setiap kali seorang itu mulia dalam hubungannya dengan manusia dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka, maka akan menjadi tinggi kedudukannya dan akan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Sementara seseorang tidak akan bisa meraih predikat orang yang baik dan mulia pergaulannya, kecuali jika ia menghiasi dirinya dengan akhlak-akhlak yang terpuji. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh Al-Qur`an telah memerhatikan permasalahan janji ini dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” (An-Nahl: 91)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Allah l juga berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah perintah Allah l kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan janjinya. Hal ini mencakup janji seorang hamba kepada Allah l, janji hamba dengan hamba, dan janji atas dirinya sendiri seperti nadzar. Masuk pula dalam hal ini apa yang telah dijadikan sebagai persyaratan dalam akad pernikahan, akad jual beli, perdamaian, gencatan senjata, dan semisalnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Para Rasul Menepati Janji</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang telah dijelaskan bahwa menepati janji merupakan akhlak terpuji yang terdepan. Maka tidak heran jika para rasul yang merupakan panutan umat dan penyampai risalah Allah l kepada manusia, menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia ini. Inilah Ibrahim q, bapak para nabi dan imam ahlut tauhid. Allah l telah menyifatinya sebagai orang yang menepati janji. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji.” (An-Najm: 37)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Maksudnya bahwa Nabi Ibrahim q telah melaksanakan seluruh apa yang Allah l ujikan dan perintahkan kepadanya dari syariat, pokok-pokok agama, serta cabang-cabangnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Allah l berfirman tentang Nabi Ismail q:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya” (Maryam: 54)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yakni tidaklah ia menjanjikan sesuatu kecuali dia tepati. Hal ini mencakup janji yang ia ikrarkan kepada Allah l maupun kepada manusia. Oleh karena itu, tatkala ia berjanji atas dirinya untuk sabar disembelih oleh bapaknya –karena perintah Allah l– ia pun menepatinya dengan menyerahkan dirinya kepada perintah Allah l. (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 822 dan 496)</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun Nabi Muhammad n, beliau memperoleh bagian yang besar dalam permasalahan ini. Sebelum diutus oleh Allah, beliau n telah dijuluki sebagai seorang yang jujur lagi terpercaya. Maka tatkala beliau n diangkat menjadi rasul, tidaklah perangai yang mulia ini kecuali semakin sempurna pada dirinya. Sehingga orang-orang kafir pun mengaguminya, terlebih mereka yang mengikuti dan beriman kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah Nabi n pada tahun keenam Hijriah berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan umrah beserta para sahabatnya. Waktu itu Makkah masih dikuasai musyrikin Quraisy. Ketika sampai di Al-Hudaibiyah, beliau n dan kaum muslimin dihadang oleh kaum musyrikin. Terjadilah di sana perundingan antara Rasulullah n dan kaum musyrikin. Disepakatilah butir-butir perjanjian yang di antaranya adalah gencatan senjata selama sepuluh tahun, tidak boleh saling menyerang, bahwa kaum muslimin tidak boleh umrah tahun ini tetapi tahun depan –di mana ini dirasakan sangat berat oleh kaum muslimin karena mereka harus membatalkan umrahnya–, dan kalau ada orang Makkah masuk Islam lantas pergi ke Madinah, maka dari pihak muslimin harus memulangkannya ke Makkah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertepatan dengan akan ditandatanganinya perjanjian tersebut, anak Suhail –juru runding orang Quraisy– masuk Islam dan ingin ikut bersama sahabat Nabi n ke Madinah. Suhail pun mengatakan kepada Nabi n bahwa jika anaknya tidak dipulangkan kembali, dia tidak akan menandatangani kesepakatan. Rasulullah n akhirnya menandatangani perjanjian tersebut dan menepati janjinya. Anak Suhail dikembalikan, dan muslimin harus membatalkan umrahnya. Namun di balik peristiwa itu justru kebaikan bagi kaum muslimin, di mana dakwah tersebar dan ada nafas untuk menyusun kembali kekuatan. Namun belumlah lama perjanjian itu berjalan, orang-orang kafir lah yang justru mengkhianatinya. Akibat pengkhianatan tersebut, mereka harus menghadapi pasukan kaum muslimin pada peristiwa pembukaan kota Makkah (Fathu Makkah) sehingga mereka bertekuk lutut dan menyerah kepada kaum muslimin. Dengan demikian, jatuhlah markas komando musyrikin ke tangan kaum muslimin. Manusia pun masuk Islam dengan berbondong-bondong. Demikianlah di antara buah menepati janji: datangnya pertolongan dan kemenangan dari Allah l. (Zadul Ma’ad, 3/262)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Para Salaf dalam Menepati Janji</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu ada seorang sahabat Nabi n bernama Anas bin An-Nadhr z. Dia amat menyesal karena tidak ikut perang Badr bersama Rasulullah n. Dia berjanji jika Allah l memperlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah n, niscaya Allah l akan melihat pengorbanan yang dilakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berkobar perang Uhud, dia berangkat bersama Rasulullah n. Dalam perang ini kaum muslimin terpukul mundur dan sebagian lari dari medan pertempuran. Di sinilah terbukti janji Anas. Dia terus maju menerobos barisan musuh sehingga terbunuh. Ketika perang telah usai dan kaum muslimin mencari para syuhada Uhud, didapati pada tubuh Anas bin An-Nadhr ada 80 lebih tusukan pedang, tombak, dan panah, sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya kecuali saudarinya. Lalu turunlah ayat Al-Qur`an:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).” (Al-Ahzab: 23) [Lihat Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Ahzab, 3/484 dan Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3200]</em></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i z, dia berkata: “Dahulu kami –berjumlah– tujuh atau delapan atau sembilan orang di sisi Nabi n. Maka beliau bersabda: “Tidakkah kalian berbai’at kepada Rasulullah?” Maka kami bentangkan tangan kami. Lantas ada yang berkata: “Kami telah berbaiat kepadamu wahai Rasulullah n, lalu atas apa kami membaiat anda?” Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya sedikitpun, kalian menegakkan shalat lima waktu, mendengar dan taat (kepada penguasa) –dan Nabi n mengucapkan kalimat yang samar– (lalu berkata), dan kalian tidak meminta sesuatu pun kepada manusia.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>‘Auf bin Malik z berkata: “Sungguh aku melihat cambuk sebagian orang-orang itu jatuh namun mereka tidak meminta kepada seorang pun untuk mengambilkannya.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 2334)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Seperti itulah besarnya permasalahan menepati janji di mata generasi terbaik umat ini. Karena mereka yakin bahwa janji itu akan dimintai pertanggungjawabannya di sisi Allah l. Dan tiada kalimat yang terucap kecuali di sisinya ada malaikat pencatat. Intinya, keimanan yang benar itulah yang akan mewariskan segala tingkah laku dan perangai terpuji.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sangat berbeda dengan orang yang hanya bisa memberi janji-janji manis yang tidak pernah ada kenyataannya. Tidakkah mereka takut kepada adzab Allah l karena ingkar janji? Tidakkah mereka tahu bahwa ingkar janji adalah akhlak Iblis dan para munafikin? Ya. Seruan ini mungkin bisa didengar, tetapi bagaimana bisa mendengar orang yang telah mati hatinya dan dikuasai oleh setannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Iblis Menebar Janji Manis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Semenjak Allah l menciptakan Adam q dan memuliakannya di hadapan para malaikat, muncullah kedengkian dan menyalalah api permusuhan pada diri Iblis. Terlebih lagi ketika Allah l mengutuknya dan mengusirnya dari surga. Iblis berikrar akan menyesatkan manusia dengan mendatangi mereka dari berbagai arah sehingga dia mendapat teman yang banyak di neraka nanti. Berbagai cara licik dilakukan oleh Iblis. Di antaranya dengan membisikkan pada hati manusia janji-janji palsu dan angan-angan yang hampa.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada waktu perang Badr, Iblis datang bersama para setan pasukannya dengan membawa bendera. Ia menjelma seperti seorang lelaki dari Bani Mudlaj dalam bentuk seseorang yang bernama Suraqah bin Malik bin Ju’syum. Ia berkata kepada kaum musyrikin: “Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menang atas kalian pada hari ini. Dan aku ini sesungguhnya pelindung kalian.” Tatkala dua pasukan siap bertempur, Rasulullah n mengambil segenggam debu lalu menaburkannya pada wajah pasukan musyrikin sehingga mereka lari ke belakang. Kemudian malaikat Jibril mendatangi Iblis. Ketika Iblis melihat Jibril dan waktu itu tangannya ada pada genggaman seorang lelaki, ia berusaha melepaskannya kemudian lari terbirit-birit beserta pasukannya. Lelaki tadi berkata: “Wahai Suraqah, bukankah kamu telah menyatakan pembelaan terhadap kami?” Iblis berkata: “Aku melihat apa yang tidak kamu lihat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/330 dan Ar-Rahiq Al-Makhtum hal. 304)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: ‘Tidak ada seorang manusia pun yang bisa menang atas kalian pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu.’ Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu berbalik ke belakang seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian; sesungguhnya aku melihat apa yang kalian tidak melihatnya; sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Al-Anfal: 48)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tanda-tanda Kemunafikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menepati janji adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga perjanjiannya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula ingkar janji, termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Khishalul Munafiq no. 107 dari jalan Abu Hurairah z)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang mukmin tampil beda dengan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menjaga Ikatan Perjanjian Walaupun Terhadap Orang Kafir</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang membaca sirah (sejarah) Nabi n dan generasi Salafush Shalih akan mendapati bahwa menepati janji dan ikatan perjanjian tidak terbatas hanya sesama kaum muslimin. Bahkan terhadap lawan pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi n dan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin, tetap beliau n jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (At-Taubah: 4)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan c ada ikatan perjanjian (gencatan senjata) dengan bangsa Romawi. Suatu waktu Mu’awiyah bermaksud menyerang mereka di mana dia tergesa-gesa satu bulan (sebelum habis masa perjanjiannya). Tiba-tiba datang seorang lelaki mengendarai kudanya dari negeri Romawi seraya mengatakan: “Tepatilah janji dan jangan berkhianat!” Ternyata dia adalah seorang sahabat Nabi n yang bernama ‘Amr bin ‘Absah. Mu’awiyah lalu memanggilnya. Maka ‘Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah n bersabda (yang artinya): “Barangsiapa antara ia dengan suatu kaum ada perjanjian maka tidak halal baginya untuk melepas ikatannya sampai berlalu masanya atau mengembalikan perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.” Akhirnya Mu’awiyah menarik diri beserta pasukannya. (Lihat Syu’abul Iman no. 4049-4050 dan Ash-Shahihah 5/472 hadits no. 2357)</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hal itu bisa dilakukan terhadap kaum musyrikin, tentu lebih-lebih lagi terhadap kaum muslimin, kecuali perjanjian yang maksiat, maka tidak boleh dilaksanakan. Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan kaum muslimin (harus menjaga) atas persyaratan/perjanjian mereka, kecuali persyaratan yang mengharamkan yang dihalalkan atau menghalalkan yang haram.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1352, lihat Irwa`ul Ghalil no. 1303)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menunaikan Nadzar dan Membayar Hutang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di antara bentuk menunaikan janji adalah membayar hutang apabila jatuh temponya dan tiba waktu yang telah ditentukan. Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Barangsiapa yang mengambil harta manusia dalam keadaan ingin menunaikannya niscaya Allah akan (memudahkan untuk) menunaikannya. Dan barangsiapa mengambilnya dalam keadaan ingin merusaknya, niscaya Allah akan melenyapkannya.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah z, lihat Faidhul Qadir, 6/54)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun menunaikan nadzar, maka Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (Al-Insan: 7)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Janji yang Paling Berhak Untuk Dipenuhi</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Syarat/janji yang paling berhak untuk ditepati adalah syarat yang kalian halalkan dengannya kemaluan.” (HR. Al-Bukhari no. 2721)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yakni syarat/janji yang paling berhak untuk dipenuhi adalah yang berkaitan dengan akad nikah seperti mahar dan sesuatu yang tidak melanggar aturan agama. Jika persyaratan tadi bertentangan dengan syariat maka tidak boleh dilakukan, seperti seorang wanita yang mau dinikahi dengan syarat ia (laki-lakinya) menceraikan isterinya terlebih dahulu. (Lihat Fathul Bari, 9/218)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Larangan Ingkar Janji terhadap Anak Kecil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sikap mengingkari janji terhadap siapapun tidak dibenarkan agama Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Imam Abu Dawud t telah meriwayatkan hadits dari sahabat Abdullah bin ‘Amir c dia berkata: “Pada suatu hari ketika Rasulullah n duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan: ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah n mengatakan kepada ibuku: ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma.’ Lalu Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu maka ditulis bagimu kedustaan.” (HR. Abu Dawud bab At-Tasydid fil Kadzib no. 498, lihat Ash-Shahihah no. 748)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam hadits ini ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan oleh manusia untuk anak-anak kecil ketika menangis seperti kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada adalah diharamkan. (‘Aunul Ma’bud, 13/ 229)</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin Mas’ud z berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Kedustaan tidak dibolehkan baik serius atau main-main, dan tidak boleh salah seorang kalian menjanjikan anaknya dengan sesuatu lalu tidak menepatinya.” (Shahih Al-Adabul Mufrad no. 300)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Larangan Menunaikan Janji Yang Maksiat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menunaikan janji ada pada perkara yang baik dan maslahat, serta sesuatu yang sifatnya mubah/boleh menurut syariat. Adapun jika seorang memberikan janji dengan suatu kemaksiatan atau kemudaratan, atau mengikat perjanjian yang mengandung bentuk kejelekan dan permusuhan, maka menepati janji pada perkara-perkara ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, dan wajib untuk tidak menunaikannya. Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Tidak boleh menepati nadzar dalam maksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad dari sahabat Jabir z, lihat Shahihul Jami’ no. 7574)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Surga Firdaus bagi yang Menepati Janji</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang beriman lagi bersih. Dan surga bertingkat-tingkat keutamaannya, sedangkan yang tertinggi adalah Firdaus. Darinya memancar sungai-sungai yang ada dalam surga dan di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman. Tempat kemuliaan yang besar ini diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang baik, di antaranya adalah menepati janji. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (Al-Mu`minun: <img src='http://www.almuzakki.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi n bersabda (yang artinya<em>): “Jagalah enam perkara dari kalian niscaya aku jamin bagi kalian surga; jujurlah bila berbicara, tepatilah jika berjanji, tunaikanlah apabila kalian diberi amanah, jagalah kemaluan, tundukkanlah pandangan dan tahanlah tangan-tangan kalian (dari sesuatu yang dilarang).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, lihat Ash-Shahihah no. 1470</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ingkar Janji Mendatangkan Kutukan dan Menjerumuskan ke dalam Siksa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Siapapun orangnya yang masih sehat fitrahnya tidak akan suka kepada orang yang ingkar janji. Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun anehnya ternyata masih banyak orang yang jika berjanji hanya sekedar igauan belaka. Dia tidak peduli dengan kehinaan yang disandangnya, karena orang yang punya mental suka dengan kerendahan tidak akan risih dengan kotoran yang menyelimuti dirinya. Allah l berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).” (Al-Anfal: 55-56)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Nabi n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Bagi setiap pengkhianat (akan ditancapkan) bendera pada pantatnya di hari kiamat.” (HR. Muslim bab Tahrimul Ghadr no. 1738 dari Abu Sa’id Al-Khudri z)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Khatimah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah indahnya wajah Islam yang menjunjung tinggi etika dan adab pergaulan. Ini sangat berbeda dengan apa yang disaksikan oleh dunia saat ini berupa kecongkakan Yahudi, Nasrani, dan musyrikin serta pengkhianatan mereka terhadap kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menapaki sejarah, kita bisa menyaksikan, para pengkhianat perjanjian akan berakhir dengan kemalangan. Tentunya tidak lupa dari ingatan kita tentang nasib tiga kelompok Yahudi Madinah, yaitu Bani Quraizhah, Bani An-Nadhir, dan Bani Qainuqa’ yang berkhianat setelah mengikat tali perjanjian dengan Rasulullah n yang berujung dengan kehinaan. Di antara mereka ada yang dibunuh, diusir, dan ditawan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin watak tercela itu sangat melekat pada diri mereka karena tidak adanya keimanan yang benar. Tetapi bagi orang-orang yang mendambakan kebahagiaan hakiki dan ditolong atas musuh-musuhnya, mereka menjadikan etika yang mulia sebagai salah satu modal dari sekian modal demi tegaknya kalimat Allah l dan terwujudnya harapan. Yakinlah, Islam akan senantiasa tinggi, dan tiada yang lebih tinggi darinya. Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)</p>
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fmenepati-janji.html&amp;title=Menepati%20Janji%20%28Akhlak%20part%2034%29" id="wpa2a_18"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/menepati-janji.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Sifat Yang Dibenci Para Pencari Kebenaran (Akhlak part 6)</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/dua-sifat-yang-dibenci-para-pencari-kebenaran-akhlak-part-6.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/dua-sifat-yang-dibenci-para-pencari-kebenaran-akhlak-part-6.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 06:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah para tokoh Jepara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1399</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan sifat/ tabiat di antara manusia memang hal lumrah karena itu merupakan bagian dari ketentuan Allah l. Namun tentu saja, sebagai makhluk-Nya kita dituntut berikhtiar dengan menjauhi akhlak dan tabiat yang jelek. Di antaranya adalah rakus dunia dan tidak mau rujuk kepada ulama. Manusia memiliki sifat dan tabiat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perbedaan sifat/ tabiat di antara manusia memang hal lumrah karena itu merupakan bagian dari ketentuan Allah l. Namun tentu saja, sebagai makhluk-Nya kita dituntut berikhtiar dengan menjauhi akhlak dan tabiat yang jelek. Di antaranya adalah rakus dunia dan tidak mau rujuk kepada ulama.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia memiliki sifat dan tabiat yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mengapa terjadi demikian? Sejumlah konsep pun dimunculkan untuk menjawab pertanyaan ini. Di antaranya ada yang mengatakan bahwa hal itu terjadi karena pengaruh lingkungan dan daerah asalnya. Ada juga yang mengatakan karena faktor keturunan. Yang lain mengatakan, karena pergaulan bebas tanpa ada aturan-aturan Islam. Ada pula yang berpendapat karena bawaan sejak lahir.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas benar atau tidaknya konsep tersebut, perbedaan sifat dan tabiat tersebut memang ada. Konsep yang paling mudah sebagai jawaban adalah bahwa semua itu adalah pemberian Pencipta manusia, di mana dalam perbedaan sifat dan tabiat tersebut mengandung hikmah yang besar. Dalam satu keluarga saja, satu ayah dan satu ibu, terjadi perbedaan yang mencolok antara anggota keluarga tersebut. Ada yang memiliki sifat mudah tersinggung, egois, dan pemalas. Namun ada juga yang lemah lembut, penyayang, penyabar, giat, dan ulet dalam segala hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Segala perbedaan ini bukan karena keinginan kedua orang tua. Bukan pula karena keinginan mereka masing-masing. Namun hal ini merupakan keinginan Zat yang berada di atas, yaitu Allah l, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan.” (ash-Shaffat: 96)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah n bersabda ketika menjelaskan asal-muasal dan tahapan penciptaan manusia dari setetes air mani, lalu menjadi darah hingga menjadi daging. Setelah itu diutus malaikat dan meniupkan ruh kepadanya serta mencatat empat hal:</p>
<p style="text-align: justify;"> <em> “Ditulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagianya.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6199, dan Muslim no. 2643, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud z)<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita mengetahui bahwa semuanya adalah pemberian Allah l, maka yang tersisa bagi kita adalah mengoreksi sifat-sifat yang ada pada diri kita, apakah diridhai Allah l atau tidak. Di sinilah manhaj (metode) ishlahun nafsi (memperbaiki diri) dengan cara menyesuaikannya dengan apa yang diridhai oleh Allah l, yaitu dengan syariat-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terjadinya perbedaan sifat itu tidak hanya menimpa orang-orang awam, namun juga menimpa orang-orang saleh, ulama, da’i, dan penuntut ilmu. Betapa banyak orang yang tadinya saleh, dengan sifat yang bertentangan dengan kesalehannya yang melekat pada dirinya, menjadikan dia berubah status menjadi penjahat. Begitu pula penuntut ilmu, da’i di jalan Allah l, dan ulama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pembahasan ini akan dijelaskan dua sifat yang keduanya sering menggagalkan penuntut ilmu, da’i, ataupun ulama dalam usaha mereka. Pembahasan ini tidak bermaksud membatasi pada dua hal tersebut, namun masih banyak perkara lain yang bisa dilihat dalam kitab al-’Ilmu karya asy-Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin t dan ‘Isyrina an-Nashihah karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Yamani.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rakus terhadap Dunia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia adalah sesuatu yang manis dan indah, menyejukkan, serta menenteramkan hati bagi orang yang hanya melihat dengan sebelah mata. Menggiurkan bagi orang yang memandangnya dan membahagiakan bagi orang yang telah masuk di dalamnya. Rasulullah n mengungkapkan keindahan dunia dalam sebuah sabdanya:</p>
<p style="text-align: justify;"> <em>“Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian silih berganti padanya untuk melihat apa yang kalian perbuat. Maka takutlah kalian kepada (godaan) dunia dan takutlah kalian kepada (godaan) wanita, karena sesungguhnya godaan yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah kaum wanita.” (Sahih, HR. Muslim no. 2742 dari Abu Sa’id al-Khudri z)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah mengatakan, <em>“Masuk bergelut ke dalam dunia adalah mudah, namun keluar darinya adalah sulit.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ibnul Qayyim t mengatakan, “Orang yang paling tertipu adalah orang yang tertipu dengan dunia dan segala kenikmatan di atasnya, serta lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. Dia ridha dunia ini sebagai ganti akhirat, sehingga sebagian orang mengatakan bahwa dunia adalah (bayaran yang) kontan sedangkan akhirat adalah utang (tertunda). Maka bayaran yang langsung (kontan) lebih baik daripada utang. Sebagian lain mengatakan bahwa dunia adalah biji-bijian yang telah tersedia, sedangkan akhirat adalah permata yang hanya sebatas janji. Sebagian lagi mengatakan bahwa kelezatan dunia benar-benar terwujud, sedangkan kelezatan akhirat hanya sebatas janji.” (al-Jawabul Kafi, hlm. 32)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Namun beliau juga mengatakan (al-Fawaid, hlm. 53), <em>“Dunia bagaikan seorang wanita pelacur yang tidak betah dengan satu laki-laki, sehingga dia meminang banyak laki-laki (pasangan) agar mereka semua bisa berbuat baik kepadanya, dan dia tidak suka pada kecemburuan laki-laki.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Selain itu beliau juga berkata, “Orang yang berjalan mencarinya seperti orang yang berjalan di tanah yang dihuni binatang buas. Dan orang yang berenang di dalamnya bagaikan berenang dalam air yang penuh dengan buaya.” (al-Fawaid, hlm. 54)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia bagi seseorang yang memikul amanat dakwah bagaikan racun bagi tubuh. Di antara mereka ada yang bisa menangkal racun tersebut sehingga terselamatkan, dan di antara mereka ada yang terkena racun tersebut. Bagi orang yang terkena racun ada dua kemungkinan: Pertama, dia selamat dan tertolong sehingga kembali segar bugar dan berjuang. Kedua, racun itu membunuhnya, dan inilah yang biasa terjadi bila terkena racun.</p>
<p style="text-align: justify;">Keikhlasan mereka bisa meleleh karena dunia, sehingga dia tampil menjadi orang yang berbaju hasad dan rakus. Berjalan bagaikan anjing yang selalu menjulurkan lidah karena haus dan lapar. Hidupnya bagaikan orang yang tersambar petir dari kanan dan kiri, lalu menjadi tidak tenang dan tidak tenteram, yang puncaknya adalah dia melepaskan baju kemuliaan (agama)nya. Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"> <em>“Sesungguhnya sebagian perkara yang aku takutkan menimpa kalian sepeninggalku adalah permasalahan perut-perut kalian, kemaluan-kemaluan (syahwat) kalian, dan hawa nafsu-hawa nafsu yang menyesatkan.” (HR. Ahmad, ath-Thabarani dalam ash-Shaghir, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah. Disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah hadits no. 14, hlm. 30)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Bersegeralah kalian untuk beramal, karena akan terjadi fitnah-fitnah bagaikan potongan malam yang gelap. Seseorang beriman di pagi hari dan menjadi kafir pada sore harinya, atau di sore hari dia beriman dan di pagi harinya menjadi kafir. Dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Sahih, HR. Muslim no. 118 dari Abu Hurairah z)</em></p>
<p style="text-align: justify;"> <em>“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas pada sekelompok kambing akan lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi no. 2377, al-Imam Ahmad, 3/406, dari sahabat Ka’b bin Malik z dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/280 hadits no. 1935 dan dalam ar-Raudhatun Nadzir, 5—7. Juga disahihkan oleh asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ush Shahih, 1/42)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Muqbil t menulis dua bab dalam kitab beliau al-Jami’ush Shahih (1/41 dan 1/42) yaitu “(Bab) dikhawatirkan bagi penuntut ilmu apabila hatinya condong kepada dunia” dan “(Bab) bergelut dengan dunia akan melemahkan hafalan penuntut ilmu.” Lalu beliau membawakan hadits-hadits yang terkait dengan bab tersebut. Di antaranya hadits di atas dan juga hadits Ka’b bin ‘Iyadh z yang dihasankan oleh beliau:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Bagi setiap umat ada fitnah (ujian/ cobaan)nya dan fitnah umatku adalah harta benda.” (HR. at-Tirmidzi no. 2337, juga disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1905 dan dalam ash-Shahihah no. 594)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga membawakan hadits Zaid bin Tsabit z dan beliau mensahihkannya, bahwa Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Barang siapa yang dunia menjadi tujuannya, maka Allah l akan mencabik-cabik urusannya. Dan Allah l akan menjadikan kefakirannya ada di hadapannya, dan tidaklah datang kepadanya dunia melainkan apa yang telah dituliskan baginya. Dan barang siapa yang meniatkan akhirat, maka Allah l akan menghimpunkan semua urusannya dan Allah l menjadikan kaya di dalam hatinya. Dan bila dunia datang kepadanya, dunia itu dalam keadaan hina.” (HR. Ibnu Majah no. 4105 dan disahihkan juga oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah, 2/393 hadits no. 3313, dan dalam ash-Shahihah hadits no. 950)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Yamani dalam kitab ‘Isyrina an-Nashihah mengatakan, “Wahai para penuntut ilmu, berhati-hatilah kalian terhadap dunia. Berhati-hatilah dari cinta terhadapnya. Berhati-hati pula dari ketergantungan hatimu pada dunia. Karena bila hati bergantung kepada dunia dan cinta kepadanya, akan cepat tertipu dan akan hilang ilmu karenanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau mengatakan, “Berhati-hatilah kamu darinya, karena tidak akan bertemu dalam hati seseorang antara cinta kepada ilmu dan mencintainya. Apabila cinta kepada dunia lebih berkuasa atas dirimu, niscaya kamu akan meninggalkan ilmu dan kamu akan menyia-nyiakan dirimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak Mau Kembali Kepada Ulama</p>
<p style="text-align: justify;">Kedudukan ulama di tengah umat ini sangat jelas dan terang dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, malamnya seperti siangnya. Mereka adalah pilihan Allah l yang akan menghubungkan diri hamba-hamba-Nya dengan Allah l, yang telah mewarisi peninggalan para nabi dan rasul Allah l. Rasulullah n bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Dan sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi dan sesungguhnya para nabi tidak pernah mewariskan dinar dan tidak pula dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641, at-Tirmidzi no. 2835, Ibnu Majah no. 223, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih Sunan at-Tirmidzi, dan Shahih Sunan Ibni Majah)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Meremehkan mereka berarti engkau telah membuka pintu kehinaan dan kesesatan. Engkau menggiring dirimu sendiri ke dalam jurang kebinasaan. Memakan daging ulama adalah ciri orang-orang yang menyeleweng dan ahlul bid’ah. Apakah engkau tega memakan daging ayahmu sendiri dan gurumu? Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab al-Yamani mengatakan, “Ini adalah penampilan yang keji dan kotor… Engkau baru belajar sesaat, lalu engkau tampil seakan-akan Ibnu Hajar yang kedua, (atau) Ibnu Taimiyah di masanya, (atau) al-Imam adz-Dzahabi… Engkau melihat guru (syaikh)mu dengan pandangan penuh penghinaan.” (lihat ‘Isyrina an-Nashihah pada nasihat kesembilan)</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya mencerca ulama pada hakikatnya bukan cercaan terhadap diri mereka semata, namun cercaan terhadap ilmu yang dibawanya, yang sama artinya dengan mencerca Islam. Karena ilmu itu adalah Islam sedangkan Islam datang dari sisi Allah l melalui Rasul-Nya n. (lihat Fitnah at-Takfir, hlm. 16)</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin ‘Abbas c dalam Shahih al-Bukhari mengatakan, “Barang siapa menyakiti orang alim (ulama) maka sungguh dia telah menyakiti Rasulullah n, dan barang siapa yang menyakiti Rasulullah n berarti dia telah menyakiti Allah l.” (lihat Fitnah at-Takfir, hlm. 17)</p>
<p style="text-align: justify;">Bila demikian kedudukan mereka, tahukah engkau apa yang mereka bawa? Yang mereka bawa adalah Islam. Apakah engkau ingin menjadi pembantu (musuh-musuh Allah l) dalam memerangi Islam? Sesungguhnya orang-orang yang menuduh para ulama bahwa pengetahuan mereka dangkal atau sebagai orang yang suka berbasa-basi, maka mereka telah membantu musuh-musuh Islam untuk mewujudkan keinginan mereka. (lihat Fitnah at-Takfir, hlm. 16)</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">(Ditulis oleh: Abu Usamah Al-Ustadz Abdurrahman)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fwww.almuzakki.com%2Fdua-sifat-yang-dibenci-para-pencari-kebenaran-akhlak-part-6.html&amp;title=Dua%20Sifat%20Yang%20Dibenci%20Para%20Pencari%20Kebenaran%20%28Akhlak%20part%206%29" id="wpa2a_20"><img src="http://www.almuzakki.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/dua-sifat-yang-dibenci-para-pencari-kebenaran-akhlak-part-6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

