<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAYASAN YATIM PIATU AL MUZAKKI &#187; Artikel dan Dakwah</title>
	<atom:link href="http://www.almuzakki.com/category/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almuzakki.com</link>
	<description>Zakat, infaq, shodakhoh dan amal jariah kepada panti asuhan anak yatim piatu dan duafa</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 17:15:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Masihkah kita tidak mau bersabar karena Allah . . ???</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 17:15:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1485</guid>
		<description><![CDATA[Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika jiwa letih dengan berbagai hal yang semakin menyibukkan kita, maka berilah jeda kepada diri untuk sejenak mengkaji berbagai kesulitan yang semakin memberatkan itu. Mungkin disana ada sisi kurang sabar kita dalam menghadapi sesuatu yang akhirnya semakin merunyamkan suasana. Atau mungkin disana ada kelemahan jiwa kita yang menyeruak dan mengakibatkan kita bertekuk lutut dalam hasil karya diri yang justru merendahkan.</p>
<p>Sabar, pelajaran jiwa yang mungkin mudah di ucapkan namun sangat sulit sekali untuk di realisasikan. Namun disanalah justru letak salah satu keabadian. Cerita kebaikan yang akan abadi saat pelakunya sudah tiada, efek kebaikan yang abadi saat pelakunya masih bernafas ataupun telah berkalang tanah, dan lain sebagainya. Karena, siapakah yang dapat membunuh mati, kemuliaan jiwa orang- orang yang sabar? Malah yang ada adalah, jiwa liar kita semakin lelah, dan semakin bingung disaat harus berbenturan dengan manusia yang serba sabar. Selanjutnya, rasa malu dan kerendahan diri akan menjadi efek samping yang akan pasti menjadi hak milik kita. Menempel sebagai citra kita, dan bukan dia.</p>
<p>Bersabar adalah bukan tentang bangga mengakui bahwa kita bisa bersabar. Namun bersabar adalah tentang melatih jiwa yang angkuh mengakui kelebihan diri untuk bisa bersabar, dan legowo mengakui bahwa kesabaran dalam diri kita adalah hanya karena rahmat Allah.</p>
<p>Bersabar adalah alternatif termudah dari sebuah jalan keluar bagi manusia yang tidak mampu menemukan jalan keluar. Dan sabar adalah justru satu- satunya pertahanan yang paling kuat, ketika seseorang tidak mampu lagi mengatasi masalahnya.</p>
<p>Bersabar adalah saham yang anda tanam di masa depan, atas sebuah nilai kemuliaan dan ketinggian derajat diri anda pribadi.</p>
<p>Bersabar adalah bukan tentang mengerti orang lain, namun adalah tentang memuliakan jiwa kita sendiri yang sungguh sedang liar demi mengangkat derajat kita sendiri di hadapan Allah.</p>
<p>Bersabar adalah bukan hanya tentang menahan amarah, namun di dalamnya terkandung maksud untuk membengkokkan kerasnya gengsi, dan menyadari bahwa diri hanyalah seorang hamba yang harus belajar minta maaf, dan mengajarkan hati dalam luasnya memaafkan.</p>
<p>Maka berbahagialah ketika masih ada dari batin kita yang berteriak protes dan mengatakan bahwa kita belumlah menjadi orang yang sabar. Hal itu berarti bahwa jiwa kebaikan masih hidup dalam diri kita. Dan mungkin sebenarnya kehendak kita sendirilah, suara kebaikan itu mati. Entah karena ketidakmauan kita menindak lanjuti &#8220;pemberitahuan&#8221; mereka, atau ketidaktahuan kita atas ilmu untuk menyikapi suara &#8221; pengumuman&#8221; tersebut. Dan maka benarlah bahwa Allah adalah maha membolak- balikkan hati, maka tidak ada yang patut untuk bermohon tentang supaya meneguhkan hati untuk mudah berkarib dengan kebaikan, kecuali hanya kepada Allah.</p>
<p>Berbahagialah ketika masih sempat kita bermohon kepadanya, karena kita menyadari akan kesempatan kita yang masih ada untuk memohon. Bayangkan jika kehendak itu baru muncul setelah nafas sudah hampir lepas dari tenggorokan. Apa jadinya pula ketika permohonan itu baru melekat di mulut kita tapi setelah kita berada di alam kubur dan bertemu dengan  para malaikat? Maka jangan banyak salahkan diri anda terus menerus karena  sabar, yang pertama yang harus diterapkan justru adalah kepada diri sendiri. rasa sesal dan terpuruk tanpa ada kelanjutan untuk bangkit, hanya akan membawa kita semakin terpuruk. Namun juga jangan kasihani diri dengan terlalu, karena hal itu juga akan menjadi poin tambahan yang melembekkan jiwa dan mengikis semangat.</p>
<p>Bersabar adalah sama sekali bukan tentang sifat, tapi adalah tentang sebuah keputusan. Maka buatlah keputuskan!.</p>
<p>Pandai bersabar adalah juga bukan bakat, tapi perenungan seorang pemilik logika sehat yang sangat mengerti tentang akibat.  Karena sudah berapa banyak kasus ceroboh yang mempersulit diri, dan apakah harus kita lakukan lagi dan lagi karena kita kurang bersabar?</p>
<p>Sabar adalah hak milik pribadi yang beriman, salah satunya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah yaitu, “Bersama setiap kesulitan, datang kemudahan”. Hal inilah yang kemudian membentuk jiwa ramah dalam diri kita untuk melihat kehidupan ini yang seharusnya akan pasti mudah, karena tidak akan ada niatan dari Allah untuk menyulitkan Kita. Dan sebagai hasil akhir, kedamaian pun akan selalu meliputi jiwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/masihkah-kita-tidak-mau-bersabar-karena-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Sholeh adalah Hidayah dari Allah</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 07:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1480</guid>
		<description><![CDATA[Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal. Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini bisa lagi kembali sekolah. “Iya, pak nanti saya cari dulu do’a atau amalannya,” jawab kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami kemarin tidak sengaja ke toko kitab. Di sana kami menemukan kitab yang sangat menarik yang ditulis oleh ulama saat ini, Syaikh Musthofa Al Adawi. Judul kitab tersebut adalah Fiqh Tarbiyatil Abna’. Di dalam kitab ini banyak penjelasan yang cukup menarik mengenai cara mendidik anak. Insya Allah pada kesempatan kali ini dan kesempatan akan datang, kami akan menyarikan pelajaran-pelajaran berharga dari kitab tersebut. Semoga ini bisa menjadi solusi dari keluhan bapak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang Patut Diingat oleh Orang Tua</p>
<p style="text-align: justify;">Ada suatu hal yang perlu dipahami oleh setiap ortu ketika mendidik anak. Kita memang ingin sekali menjadikan anak dan keturunan kita sebagai anak sholih. Kita ingin mereka menjadi anak yang baik. Kita ingin agar mereka menjadi anak yang berbakti dan taat. Namun, ada suatu hal yang kita sering lupakan. Kita memang sudah berusaha mendidik mereka dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Bahkan mereka juga kita wajibkan masuk TPA atau masuk pondok pesantren. Namun kadangkala, kita hanya bersandar pada usaha kita semata, tanpa mau melirik bahwa hidayah dan petunjuk adalah di tangan Allah termasuk hidayah pada anak dan keturunan kita. Walaupun kita telah pontang panting dengan melakukan berbagai sebab, namun jika Allah menakdirkan berbeda, lantas apa yang bisa kita perbuat. Selayaknya kita banyak merenungkan ayat-ayat semacam ini:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rof : 178)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena sedih terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8 )</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk baginya.” (QS. As Sajdah : 13)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus : 99)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengambil Pelajaran dari Kisah Nuh dan Anaknya</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah pula pada kisah Nabi Allah Nuh ‘alaihis salam. Dia mengatakan pada anaknya ,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud : 42)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Allah tidak menginginkan anak ini mendapat hidayah. Anak Nabi Nuh malah menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan mencari perlindungan ke gunung saja yang dapat melindungiku dari air bah.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Nuh berkata,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Tidak ada yang dapat melindungimu hari ini dari azab Allah, selain yang Allah rahmati.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nuh pun berdoa lagi pada Allah karena kasihan pada anaknya,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMU itulah yang benar dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud : 45)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah tidak suka dengan perkataan Nuh tersebut,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan padamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud : 46)</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah saudaraku dan perhatikanlah dengan baik-baik kisah Nuh ini. Beliau sudah berusaha keras agar anaknya mendapat hidayah, namun Allah berkehendak lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, janganlah kita lupa untuk selalu memohon pada Allah agar Allah selalu memberi keberkahan dan penyejuk mata pada anak dan keturunan kita, di samping usaha dan sebab yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah berkahilah selalu pendengaran, penglihatan, hati, dan istri kami, juga berilah keberkahan pada keturunan kami. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
<p style="text-align: justify;">Anak Sholeh adalah Hidayah dari Allah</p>
<p style="text-align: justify;">Kami pernah mendengar keluhan seorang bapak pada kami. Bapak ini memang masih keluarga dekat kami, yaitu sama-sama bermarga Tuasikal.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia mengeluh tentang anaknya. “Mas sudah 2 bulan ini anakku tidak mau masuk sekolah,” begitulah keluhannya pada kami. Kami hanya terdiam saja. Bapak ini juga minta agar diajarkan do’a atau amalan tertentu supaya anak tercintanya ini bisa lagi kembali sekolah. “Iya, pak nanti saya cari dulu do’a atau amalannya,” jawab kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian kami kemarin tidak sengaja ke toko kitab. Di sana kami menemukan kitab yang sangat menarik yang ditulis oleh ulama saat ini, Syaikh Musthofa Al Adawi. Judul kitab tersebut adalah Fiqh Tarbiyatil Abna’. Di dalam kitab ini banyak penjelasan yang cukup menarik mengenai cara mendidik anak. Insya Allah pada kesempatan kali ini dan kesempatan akan datang, kami akan menyarikan pelajaran-pelajaran berharga dari kitab tersebut. Semoga ini bisa menjadi solusi dari keluhan bapak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang Patut Diingat oleh Orang Tua</p>
<p style="text-align: justify;">Ada suatu hal yang perlu dipahami oleh setiap ortu ketika mendidik anak. Kita memang ingin sekali menjadikan anak dan keturunan kita sebagai anak sholih. Kita ingin mereka menjadi anak yang baik. Kita ingin agar mereka menjadi anak yang berbakti dan taat. Namun, ada suatu hal yang kita sering lupakan. Kita memang sudah berusaha mendidik mereka dengan pendidikan yang baik dan berkualitas. Bahkan mereka juga kita wajibkan masuk TPA atau masuk pondok pesantren. Namun kadangkala, kita hanya bersandar pada usaha kita semata, tanpa mau melirik bahwa hidayah dan petunjuk adalah di tangan Allah termasuk hidayah pada anak dan keturunan kita. Walaupun kita telah pontang panting dengan melakukan berbagai sebab, namun jika Allah menakdirkan berbeda, lantas apa yang bisa kita perbuat. Selayaknya kita banyak merenungkan ayat-ayat semacam ini:</p>
<p style="text-align: justify;"> “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’rof : 178)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena sedih terhadap mereka.” (QS. Fathir : 8 )</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk baginya.” (QS. As Sajdah : 13)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya.” (QS. Yunus : 99)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengambil Pelajaran dari Kisah Nuh dan Anaknya</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah pula pada kisah Nabi Allah Nuh ‘alaihis salam. Dia mengatakan pada anaknya ,</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai anakku, naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Hud : 42)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Allah tidak menginginkan anak ini mendapat hidayah. Anak Nabi Nuh malah menjawab,</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku akan mencari perlindungan ke gunung saja yang dapat melindungiku dari air bah.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Nuh berkata,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Tidak ada yang dapat melindungimu hari ini dari azab Allah, selain yang Allah rahmati.” (QS. Hud : 43)</p>
<p style="text-align: justify;">Nuh pun berdoa lagi pada Allah karena kasihan pada anaknya,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMU itulah yang benar dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (QS. Hud : 45)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah tidak suka dengan perkataan Nuh tersebut,</p>
<p style="text-align: justify;"> “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya dia telah berbuat yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakekatnya. Sesungguhnya Aku memperingatkan padamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS. Hud : 46)</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah saudaraku dan perhatikanlah dengan baik-baik kisah Nuh ini. Beliau sudah berusaha keras agar anaknya mendapat hidayah, namun Allah berkehendak lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, janganlah kita lupa untuk selalu memohon pada Allah agar Allah selalu memberi keberkahan dan penyejuk mata pada anak dan keturunan kita, di samping usaha dan sebab yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah berkahilah selalu pendengaran, penglihatan, hati, dan istri kami, juga berilah keberkahan pada keturunan kami. Amin Ya Robbal ‘Alamin.</p>
<p style="text-align: justify;">Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/anak-sholeh-adalah-hidayah-dari-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat-syarat Tawakal</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 03:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1475</guid>
		<description><![CDATA[Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita lihat, seseorang yang sedang menghadapi kejadian atau keadaan yang tidak biasa terjadi akan tampak perasaan, pikiran dan aneka ragam kekuatan mendorongnya untuk menghadapi kejadian tersebut, sehingga kelelahannya lebih besar daripada kelelahan menghadapi keadaan dan kejadian biasa.<br />
Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka perasan dan pikirannya serta seluruh kekuatannya semakin kuat mendorongnya melaksanakan semua amalan apa saja meskipun memiliki resiko besar. Ambil sebagai contoh,<br />
1. Mujahid yang berperang membela agamanya ketika senantiasa ingat dengan firman Alllah,<br />
“Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)<br />
Maka akan maju kemedan perang tanpa memandang resiko bahaya yang akan menimpanya<br />
2. Seorang pilot pesawat terbang yang menerbangkan pesawatnya ketika bertawakal kepada Allah dan ingat bahwa segala sesuatu telah diatur Allah sang Mahapencipta. Ketika ia ingat benar firman Allah di atas, maka merasa tenang dan berani menerbangkan pesawatnya dalam ketinggian yang beribu-ribu kaki dari bumi.<br />
3. Seorang petani ketika ber-tawakal kepada Allah dalam mencari rejekinya, maka ia lupa dengan resiko rusaknya hasil pertanian dan tanamannya.<br />
Demikianlah sikap tawakal kepada Allah adalah kekuatan besar yang membedakan seorang muslim dengan selainnya apabila dilakukan dengan ikhlas. Sudah pasti Allah akan merealisasikan semua perkara yang hamba ber-tawakal kepada-Nya. Demikianlah janji Allah dalam firman-Nya,<br />
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (QS. Ath-Thalaq: 3).<br />
Allah pasti tidak akan menyelisihi janjinya.<br />
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:<br />
1. Membatasi tawakal hanya kepada Allah saja. Untuk itu Allah berfirman,<br />
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).<br />
Dan firmanNya,<br />
“(Dia-lah) Rabb masyrik dan maghrib, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).<br />
Pembatasan tawakal hanya kepada Allah dalam ayat ini meniadakan semua tawakal kepada selain Allah dalam semua urusan dunia dan akhirat. Siapa yang ber-tawakal kepada selain Allah dalam satu saja urusan dunia atau akhirat bukanlah termasuk orang yang ber-tawakal dengan benar kepada Allah. Bahkan bisa jadi terjerumus kepada kesyirikan besar atau kecil sesuai dengan keadaan perbuatannya tersebut.<br />
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Mahamampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Untuk itu Allah berfirman,<br />
“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).<br />
Allah juga berfirman melalui pernyataan Nabi Syu’aib,<br />
“Syu’aib berkata, ’Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya) Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.’” (QS. Huud: 88).<br />
3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman,<br />
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3).<br />
4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Dalam hal ini Allah berfirman,<br />
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’” (QS. At-taubah: 129).<br />
Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat bertawakal kepada Allah dengan benar dan mendapatkan janji-janji Allah.<br />
Mari berusaha mendapatkannya!</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/syarat-syarat-tawakal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelebihan Sembahyang Tarawih Malam 1 Hingga 30</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/kelebihan-sembahyang-tarawih-malam-1-hingga-30.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/kelebihan-sembahyang-tarawih-malam-1-hingga-30.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 07:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1205</guid>
		<description><![CDATA[1. Kelebihan Solat Tarawih Malam Pertama Diampuni dosa orang-orang yang beriman sebagaimana keadaannya baru dilahirkan. 2. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kedua Diampunkan dosa orang-orang yang beriman yang mengerjakan solat Tarawih, serta dosa-dosa kedua ibubapanya. 3. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketiga Para malaikat di bawah ‘Arasy menyeru kepada manusia yang mengerjakan solat Tarawih itu agar meneruskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Kelebihan Solat Tarawih Malam Pertama</strong><br />
Diampuni dosa orang-orang yang beriman sebagaimana keadaannya baru dilahirkan.</p>
<div><strong>2. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kedua</strong><br />
Diampunkan dosa orang-orang yang beriman yang mengerjakan solat Tarawih, serta dosa-dosa kedua ibubapanya.</div>
<div><strong>3. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketiga</strong><br />
Para malaikat di bawah ‘Arasy menyeru kepada manusia yang mengerjakan solat Tarawih itu agar meneruskan solatnya pada malam-malam yang lain, semoga Allah akan mengampunkan dosa-dosa mereka.</div>
<div><strong>4. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keempat</strong><br />
Orang-orang yang mengerjakan solat Tarawih akan memperolehi pahala sebagaimana pahala yang diperolehi oleh orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran.</div>
<div><strong>5. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kelima</strong><br />
Allah SWT akan mengurniakan pahala seumpama pahala orang-orang yang mengerjakan sembahyang di Masjidil Haram, Masjidil Madinah dan Masjidil Aqsa.</div>
<div><strong>6. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keenam</strong><br />
Allah S.W.T akan mengurniakan kepadanya pahala seumpama pahala malaikat-malaikat yang bertawaf di Baitul Makmur serta setiap batu dan tanah berdoa untuk keampunan orang-orang yang mengerjakan tarawih malam itu.</div>
<div><strong>7. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketujuh</strong><br />
Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa a.s serta menolong Nabi itu menentang musuhnya Fir’aun dan Hamman.</div>
<div><strong>8. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kelapan</strong><br />
Allah S.W.T mengurniakan pahala orang yang bersolat tarawih sebagaimana pahala yang dikurniakan kepada Nabi Ibrahim a.s.</div>
<div><strong>9. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kesembilan</strong><br />
Allah S.W.T akan mengurniakan pahala dan dinaikkan mutu ibadat hamba-Nya seperti Nabi Muhammad s.a.w.</div>
<div><strong>10. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kesepuluh</strong><br />
Allah SWT mengurniakan kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.</div>
<div><strong>11. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kesebelas</strong><br />
Ia meninggal dunia di dalam keadaan bersih dari dosa seperti baru dilahirkan.</div>
<div><strong>12. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduabelas</strong><br />
Ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka yang bercahaya-cahaya.</div>
<div><strong>13. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketigabelas</strong><br />
Ia akan datang pada hari kiamat di dalam keadaan aman sentosa dari sebarang kejahatan dan keburukan.</div>
<div><strong>14. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keempatbelas</strong><br />
Malaikat-malaikat akan datang menyaksikan mereka bersolat Tarawih serta Allah S.W.T. tidak akan menyesatkan mereka.</div>
<div><strong>15. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kelimabelas</strong><br />
Semua malaikat yang memikul ‘Arasy dan Kursi akan berselawat dan mendoakannya supaya Allah mengampunkannya.</div>
<div><strong>16. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keenambelas</strong><br />
Allah S.W.T. menuliskan baginya dari kalangan mereka yang terlepas dari api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga.</div>
<div><strong>17. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketujuhbelas</strong><br />
Allah S.W.T menuliskan baginya pahala pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.</div>
<div><strong>18. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kelapanbelas</strong><br />
Malaikat akan menyeru: Wahai hamba Allah sesungguhnya Allah telah redha denganmu dan dengan kedua ibu bapamu (yang masih hidup atau yang sudah mati).</div>
<div><strong>19. Kelebihan Solat Tarawih Malam Kesembilanbelas</strong><br />
Allah S.W.T akan meninggikan darjatnya di dalam Syurga Firdaus.</div>
<div><strong>20. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh</strong><br />
Allah S.W.T mengurniakan kepadanya pahala sekelian orang yang mati syahid dan orang-orang soleh.</div>
<div><strong>21. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh satu</strong><br />
Allah S.W.T akan membina untuknya sebuah mahligai di dalam syurga yang diperbuat dari cahaya.</div>
<div><strong>22. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh dua</strong><br />
Ia akan datang pada hari kiamat di dalam keadaan aman dari sebarang huru-hara pada hari tersebut.</div>
<div><strong>23. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh tiga</strong><br />
Allah S.W.T akan membina untuknya sebuah bandar di dalam syurga daripada cahaya.</div>
<div><strong>24. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh empat</strong><br />
Allah S.W.T akan membuka peluang untuk dua puluh tahun ibadat bagi orang-orang yang mengerjakan solat Tarawih pada malam tersebut.</div>
<div><strong>25. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh lima</strong><br />
Allah S.W.T akan mengangkat seksa kubur darinya.</div>
<div><strong>26. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh enam</strong><br />
Allah S.W.T akan mengurniakan pahala empat puluh tahun ibadat bagi orang-orang yang mengerjakan solat Tarawih pada malam tersebut.</div>
<div><strong>27. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh tujuh</strong><br />
Allah S.W.T akan mengurniakan kepadanya kemudahan untuk melintasi titian sirat sepantas kilat.</div>
<div align="left"><strong>28. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh lapan</strong><br />
Allah S.W.T akan menaikkan kedudukannya seribu darjat di akhirat.</div>
<div><strong>29. Kelebihan Solat Tarawih Malam Keduapuluh sembilan</strong><br />
Allah S.W.T akan mengurniakan kepadanya pahala seribu haji yang mabrur.</div>
<div><strong>30. Kelebihan Solat Tarawih Malam Ketigapuluh</strong><br />
Allah S.W.T akan memberi penghormatan kepada orang yang bertarawih pada malam terakhir dengan firman-Nya (yang bermaksud): Wahai hambaku!, makanlah segala jenis buah-buahan yang Engkau ingini untuk dimakan di dalam syurga dan mandilah kamu di dalam sungai yang bernama salsabil serta minumlah air dari telaga yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bernama Al-Kautsar.</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/kelebihan-sembahyang-tarawih-malam-1-hingga-30.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Satu umat keturunan nabi Adam</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/satu-umat-keturunan-nabi-adam.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/satu-umat-keturunan-nabi-adam.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 05:21:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1200</guid>
		<description><![CDATA[Al-Maidah [48]….dan kalau Allah menghendaki nescaya Dia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam agama yang satu), tetapi Dia hendak menguji kamu (dalam menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, maka Dia akan memberitahu kamu apa yang kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Al-Maidah [48]….dan kalau Allah menghendaki nescaya Dia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam agama yang satu), tetapi Dia hendak menguji kamu (dalam menjalankan) apa yang telah disampaikan kepada kamu. Oleh itu berlumba-lumbalah kamu membuat kebaikan (beriman dan beramal soleh). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, maka Dia akan memberitahu kamu apa yang kamu berselisihan padanya.</p>
<p>An-Nahl [93] Dan jika Allah menghendaki, tentulah Dia menjadikan kamu satu umat (yang bersatu dalam agama Allah yang satu); akan tetapi Allah menyesatkan sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) dan memberi petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) dan sesungguhnya kamu akan ditanya kelak tentang apa yang kamu telah kerjakan.</p>
<p>Az-Zukhruf [33] Dan kalaulah tidak kerana manusia akan menjadi umat yang satu (dalam kekufuran), nescaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kufur ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, bumbung rumah-rumah mereka dari perak dan tangga-tangga yang mereka naik turun di atasnya (dari perak juga),</p>
<p>Ada dua kategori umat di dunia ini iaitu umat Islam dan umat kafir (walaupun terpecah-pecah kepada bermacam-macam jenis). Keturunan Nabi Adam pada asalnya hanya satu, kemudian mereka berpecah-pecah dan akhirnya akan kembali menjadi satu, balik kepada Allah.</p>
<p>An-Nisaa [1] Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (adam) dan yang menjadikan daripada (adam) itu pasangannya (isterinya Hawa) dan juga yang membiakkan dari keduanya zuriat keturunan lelaki dan perempuan yang ramai….</p>
<p>Al-Anam [98]….Dan Dialah yang mencipta kamu dari diri yang satu (adam)</p>
<p>Az-Zumar [6] Dia menciptakan kamu dari diri yang satu (adam), kemudian Dia menjadikan daripadanya, isterinya (Hawa)…</p>
<p>Baqarah [213] Pada mulanya manusia itu ialah umat yang satu (menurut agama Allah yang satu, tetapi setelah mereka berselisihan), maka Allah mengutuskan Nabi-nabi sebagai pemberi khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman dengan balasan Syurga, dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar dengan balasan azab Neraka); dan Allah menurunkan bersama Nabi-nabi itu Kitab-kitab Suci yang (mengandungi keterangan-keterangan yang) benar, untuk menjalankan hukum di antara manusia mengenai apa yang mereka perselisihkan dan (sebenarnya) tidak ada yang melakukan perselisihan melainkan orang-orang yang telah diberi kepada mereka Kitab-kitab Suci itu, iaitu sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata, mereka berselisih semata-mata kerana hasad dengki sesama sendiri. Maka Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke arah kebenaran yang diperselisihkan oleh mereka (yang derhaka itu), dengan izinNya. Dan Allah sentiasa memberi petunjuk hidayatNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya ke jalan yang lurus (menurut undang-undang peraturanNya).</p>
<p>Anbiya [92] Sesungguhnya agama Islam inilah agama kamu, agama yang satu asas pokoknya dan Akulah Tuhan kamu; maka sembahlah kamu akan Daku. [93] Kebanyakan manusia masih berselisihan dan berpecah-belah dalam urusan agama mereka; (ingatlah) mereka semuanya akan kembali kepada kami (untuk menerima balasan).</p>
<p>Mukminun [52] Dan sesungguhnya agama Islam ini ialah agama kamu agama yang satu asas pokoknya, dan Akulah Tuhan kamu; maka bertakwalah kamu kepadaKu. [53] Kemudian umat Rasul-rasul itu berpecah-belah dalam urusan agama mereka kepada beberapa pecahan, tiap-tiap golongan bergembira dengan apa yang ada pada mereka.</p>
<p>Ali Imran [102]……”jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam“.</p>
<p>Agama rasmi yang diterima Allah hanyalah Islam sahaja. Yang menjadi syarat untuk ke syurga.</p>
<p>Ali-Imran [19] Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam</p>
<p>Ali-Imran [85] Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya dan dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi</p>
<p>Tuhan telah tunjuk 2 jalan, pilihlah jalan ke syurga, bukan ke neraka….</p>
<p>Al-Balad [10] Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, (jalan kebaikan untuk dijalaninya, dan jalan kejahatan untuk dijauhi)?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/satu-umat-keturunan-nabi-adam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan tentang bulan ramadhan</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/renungan-tentang-bulan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/renungan-tentang-bulan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 23:50:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Wahai Ikhwan yang mulia…. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkahi dan baik: Assalamu ‘alaikum wa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.</p>
<p>Wahai Ikhwan yang mulia….</p>
<p>Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkahi dan baik:</p>
<p><em>Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.</em></p>
<p>Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan <em>shiyam</em> (puasa) dan <em>qiyam</em> (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami.</p>
<p>Ikhwan sekalian…</p>
<p>Sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun. Nabi saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan.</p>
<p>Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw. diberi pilihan untuk menghadap kepada <em>Ar-afiq Al-A’la</em> (Allah swt. — pen.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia.</p>
<p>Ikhwan sekalian….</p>
<p>Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda tentangnya;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>ا</em>لصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ</p>
<p><em>“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa ‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya memberikan syafaat”.</em> (HR. Imam Ahmad dan Ath Thabrani)</p>
<p>Wahai Ikhwan…</p>
<p>Dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Karena kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan.</p>
<p>Ikhwan sekalian…</p>
<p>Kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini kerana Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita bisa berjumpa kembali setelah masa jeda pada bulan Ramadhan yang mulia ini, insyaAllah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama minggu-minggu tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah swt., yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat.</p>
<p>Karena itu, Ikhwan sekalian…</p>
<p>Hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri.</p>
<p>كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ</p>
<p><em>“Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.”</em></p>
<p>Ini, wahai Ikhwah, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian yang baik untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak rnenangis kerana Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia karena bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan shalat tarawih.</p>
<p>Ikhwan sekalian…</p>
<p>Hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk selalu bersama dengan Allah pada bulan mulia ini.</p>
<p>Ikhwan sekalian…</p>
<p>Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya:</p>
<p><em>“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).”</em> (Al-Baqarah:185)</p>
<p>Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati: <em>“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”</em> (Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah di Agungkan atas karunia hidayah tersebut. <em>“Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.”</em> (Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Kemudian, lihatlah wahai Akhi, dampak dari semua ini;</p>
<p><em>“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”</em> (Al-Baqarah; 186)</p>
<p>Wahai Akhi…</p>
<p>Di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda:</p>
<p>إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِل وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ</p>
<p><em>“Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!’”</em></p>
<p>Wahai Akhi…</p>
<p>Pintu-pintu surga dibuka, karena manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, kerana manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Allah  swt., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah.</p>
<p>Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.<em>” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.”</em> (Al-Baqarah: 185)</p>
<p>Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Karena puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat material dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan akal manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Karena itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia.</p>
<p>Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt., dalam kalimat-kalimat ringkas:</p>
<p>Wahai Ikhwan yang mulia…</p>
<p>Tujuan-tujuan asasi dalam kitab Allah swt. dan prinsip-prinsip utama yang menjadi landasan bagi petunjuk Al-Qur’an ada empat:</p>
<p><strong>1. Perbaikan Aqidah</strong></p>
<p>Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dlkerjakan dan ditinggalkannya.</p>
<p>Wahai Akhi…</p>
<p>Jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah, <em>“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.”</em> (Al-Baqarah: 21-22)</p>
<p>Wahai Akhi…</p>
<p>Setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda. Allah swt. juga berfirman dalam surat Al-Mukminun, <em>“Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.”</em> (Al-Mukminun: 84-90)</p>
<p>Allah swt. juga berfirman di surat yang sama, <em>“Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.”</em> (Al-Mukminun: 101-103)</p>
<p>Allah swt. juga berfirman, <em>“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”</em> (Az-Zalzalah: 1-8)</p>
<p>Allah swt. berfirman, <em>“Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?”</em> (Al-Qari’ah: 1-3)</p>
<p>Dalam surat lain Allah berfirman, <em>“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.”</em> (At-Takatsur: 1-4) Wahai Akhi, ayat-ayat ini menjelaskan hari akhirat dengan pen-jelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras.</p>
<p><strong>2. Pengaturan Ibadah</strong></p>
<p>Anda juga membaca firman Allah swt. mengenai ibadah. <em>“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”</em> (Al-Baqarah: 43) <em>“…diwajib-kan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.”</em> (Al-Baqarah: 183) <em>“…mengerjakan haji adalah kewa-jiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”</em> (Ali-Imran: 97) Maka aku katakan kepada mereka, <em>“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.”</em> (Nuh: 10) Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah.</p>
<p><strong>3. Pengaturan Akhlak</strong></p>
<p>Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda biasa membaca firman Allah swt. <em>“Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.”</em> (Asy-Syams: 7-8)<em> “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.”</em> (Ar-Ra’d:11) <em>“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”</em> (Ar-Ra’d: 19-24)</p>
<p>Wahai Akhi…</p>
<p>Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt. dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras. <em>“Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).”</em> (Ar-Ra’d: 25)</p>
<p>Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, karena di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas dan gamblang. <em>“Seperempat Juz Khamr”</em> yang diawali dengan <em>“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi”</em> (Al-Baqarah: 219), mengandung lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila’, talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini kerana surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah.</p>
<p>Ikhwan tercinta…</p>
<p>Hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda. Wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya.</p>
<p>Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/renungan-tentang-bulan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Kemenangan Kaum Muslimin di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/rahasia-kemenangan-kaum-muslimin-di-bulan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/rahasia-kemenangan-kaum-muslimin-di-bulan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 11:49:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)</p>
<p>Kaum muslimin rahimakumullah..</p>
<p>Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan&#8230;</p>
<p>Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw.&#8221;</em> (QS. Al-Ahzab : 56)</p>
<p>Kaum Muslimin rahimakumullah..</p>
<p>Sebagaimana kita maklumi bahwa kebersihan hati dan kesucian jiwa adalah modal utama untuk mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah Ta`ala baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Subhanahu Wa Ta`ala berfirman :</p>
<p>قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا [الشمس/9]</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.&#8221;</em></p>
<p>Sebaliknya ketika hati dikuasai oleh hawa nafsu duniawi dan syahwat hewani maka hati itu akan menjadi sakit, kotor, keras, keruh dan bahkan bisa mati. Dengan demikian perlahan tapi pasti ia akan menjerumuskan pemiliknya ke kubangan kehinaan dan kerendahan serta membelokkannya dari tujuan hidup yang benar sehingga terperosok ke dalam jurang kerugian dunia dan akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta`ala berfirman :</p>
<p>وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا [الشمس/10]</p>
<p><em>&#8220;Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.&#8221;</em></p>
<p>Ramadhan adalah bulan dimana Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya melakukan ibadah shaum (memenej syahwat) sebagai sarana melatih diri mengendalikan syahwat baik perut atau kemaluan, ketenaran, kebanggaan pada pangkat, jabatan dan fasilitas duniawi lainnya dan berbagai syahwat lainnya. Ibadah Ramadhan juga bertujuan untuk membersihkan hati dan jiwa serta untuk mengantarkan seorang hamba ke puncak kemuliaan disisi Allah yaitu pribadi yang bertaqwa yang dekat dengan Allah, di manapun ia berada dan apapun profesinya. Allah Ta`ala berfirman ;</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون [البقرة/183]</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.&#8221;</em></p>
<p>Umat Islam khususnya di zaman Rasulullah dan sampai sekitar 13 abad setelahnya sangat memahami esensi bulan Ramadhan. Di antaranya sebagai media pendidikan jihad melawan syahwat duniawi dan sekaligus jihad fi sabilillah. Sebab itu, sepanjang sejarah umat yang sudah lebih 14 abad ini, banyak peristiwa kemenangan kaum Muslimin dalam menghadapi musuh-musuh mereka yang terjadi pada bulan yang mulia ini yakni bulan Ramadhan, di antaranya adalah :</p>
<p>1. <strong>Perang Badar Kubra</strong> yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke 2 hijrah. Perang ini dianggap sebagai perang terbesar dan kemenangan terbesar yang diraih kaum Muslimin sejak kemenangan tentara Thalut atas tentara kafirin Jalut beberapa abad sebelumnya. Menariknya, menurut sebuah riwayat, jumlah personil tentara Thalut sama dengan mujahidin yang terjun dalam peristiwa perang Badar Kubra yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam, yakni sekitar 315 personil Mujahidin.</p>
<p>Allah mengabadikan peristiwa kemenangan bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh kaum Muslimin sepanjang masa ini dalam ayat-ayat suci alqur`an. Di antaranya :</p>
<p>وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ [الأنفال/41]</p>
<p><em>&#8220;Dan ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan binussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.&#8221;</em></p>
<p>Yang dimaksud dengan hari Furqaan ialah hari pemisah antara kubu iman dan kubu kekufuran dan sekaligus benturan antara kubu keimanan dan kubu kekufuran. Dalam peristiwa besar tersebut Allah membuktikan kekuasaan-Nya dengan memenangkan pasukan Islam dan mengalahkan orang kafir. Pada hari itu Allah menegaskan bahwa antara al-haq dengan al-bathil tidak akan bercampur lagi untuk selama-lamanya. Jika kubu kekufuran masih tetap saja melakukan kezaliman di muka bumi, khususnya terhadap kaum Muslimin, maka pertemuan di medan tempur sulit untuk dihindarkan. Hari Furqan adalah hari dimana Allah menegaskan bahwa al-haq itu pasti menang atas al-bathil selama kubu al-haq itu beriman kepada-Nya dengan benar.</p>
<p>Hari Furqan itu terjadi di wilayah Badar pada hari Jum&#8217;at 17 Ramadhan tahun ke 2 hijrah. Sebagian mufassirin berpendapat bahwa ayat ini mengisyaratkan kepada hari permulaan turunnya Al Qur’anul Kariem pada malam 17 Ramadhan saat Rasul Saw berada di gua Hira’ sekitar 15 tahun sebelumnya. Sebab itu, kemenangan kaum Muslimin pada perang badar Kubra disebut sebagai awal kemenangan ideology Islam atas ideology kekufuran dan kemusyrikan dalam sejarah Islam.</p>
<p>2. <strong>Fathu Makkah</strong> yang terjadi pada tahun ke 8 hijrah. Fathu Makkah merupakan sebuah kemenangan besar ajaran tauhid dengan semua sistem syari’atnya atas ideology, keyakinan dan sistem hidup jahiliyah yang dipenuhi kekufuran, kemusyrikan dan kezaliman. Indikator kongkritnya adalah masuknya manusia dengan berbondong-bondong ke dalam Islam. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita bahwa Fathu Makkah adalah bukti tegaknya syariat Allah di muka bumi. Tidak ada lagi syari’at lain di negeri-negeri Islam dan masyarakat Islam selain syari’at Rabbul ‘Alamin. Semua sistem jahiliyah baik yang diciptakan sendiri maupun peninggalan nenek moyang hancur berkeping-keping di hadapan syari’at Allah, Tuhan Pencipta alam semesta. Inilah kemenangan total dakwah Islam yang sebenarnya. Kemenangan dakwah Islam yang tidak seperti kemenangan pada Fathu Makkah adalah kemenangan semu, juz-iyyah (parsial) dan bahkan bisa juga kemenangan tipu-tipuan.</p>
<p>Allah mencatatkan peristiwa ini dalam kitab-Nya yang abadi ketika Dia berfirman :</p>
<p>إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (3 [النصر/1-3]</p>
<p><em>&#8220;Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.&#8221;</em></p>
<p>Dalam surah An-Nashr ini, Allah menjelaskan kemenangan da`wah Islam dengan indikasi yang sangat jelas yaitu masuk Islamnya manusia dengan berduyun-duyun dan diterimanya ajaran Islam sebagai manhajul hayah atau the way of life. Atau dengan kata lain, kemenangan Islam itu ditandai oleh tegaknya aturan dan syari’at Allah di muka bumi yang dihuni kaum Muslimin. Sedangkan pemimpinnya adalah orang yang paling tinggi taqwanya pada Allah. Bukanlah bisa disebut kemenangan dakwah Islam kalau tidak atau belum mengindikasikan hal-hal di atas. Karena, kemenangan itu bukanlah ketika orang beramai-ramai makin jauh dari nilai-nilai Islam, malu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan perjuangan dan malu meninggikan syiar dan ajaran Allah Ta`ala. Orang-orang seperti ini bukanlah orang yang sedang memperjuangkan Islam dan dakwah Islam, melainkan berjuang untuk kepentingan duniawi dengan berbalutkan Islam dan dakwah Islam.</p>
<p>3. <strong>Ma`rakah [perang] Ain Jalut</strong> yang terjadi pada tanggal 24 bulan Ramadhan tahun 658 hijrah.</p>
<p>Pada peperangan ini kaum Muslimin di bawah pimpinan seorang amir /pemimpin yang shalih; Al-Muzhaffar Qutz berhasil menghancurkan pasukan Tartar di sebuah lembah di Negri Palestina yang dikenal dengan nama Ain Jalut..</p>
<p>Ada peristiwa yang sangat menarik dari Ma`rakah [perang] Ain Jalut yang dicatat oleh sejarah dengan tinta emas. Pada saat Al-Muzhaffar Qutz melihat moral tentara kaum Muslimin menurun akibat pukulan dan serangan yang luar biasa dari pasukan Tartar yang dikenal sangat tangguh dan ganas itu, Al-Muzhaffar Qutz dengan cerdas menciptakan yel-yel atau syi’ar yang akan mengingatkan para prajuritnya bahwa mereka bukanlah sedang mengejar harta dan kedudukan, dan bukan pula sedang membela sejengkal tanah atas dasar nasionalisme. Akan tetapi, mereka sedang meperjuangkan Islam yang sudah diinjak-injak kesuciannya oleh pasukan Tartar sejak mereka memasuki kawasan Islam, khsusnya setelah mereka berhasil menaklukkan Baghdad sebagai ibu kota negera Islam. Lalu Al-Muzhafar memilih kata &#8220;wa Islamah&#8221; yang berarti “Duhai Islamku”</p>
<p>Sebagai pemimpin dan sekaligus panglima Mujahidin, Al-Muzhaffar Qutz bukan hanya mengeluarkan syi’ar dan yel-yel itu dari atas menara dan gedung tinggi dan membiarkan prajuritnya bertempur mati-matian atas dasar perintah dari al-qiyadah al-‘ulya (pemimpin tertinggi). Akan tetapi, ia maju ke baris terdepan setelah kuda yang Beliau tunggangi jatuh terkena anak panah musuh. Dengan keyakinan yang kuat pada Allah, Beliau berjalan sambil bertempur mengahadapi musuh yang ada di hadapnya satu persatu. Melihat sang pemimpin bertindak seperti itu para perajuritnya mengatakan : &#8221; janganlah anda membahayakan diri dengan berbuat seperti itu, kalau anda mati bagaimana dengan Islam? Ini kuda kami, silahkan anda tunggangi&#8221;</p>
<p>Mendengar tawaran yang logis itu, Al-Muzhaffar Qutz berkata :&#8221; Saya sedang mencium aroma syurga, mengapa harus saya berlambat-lambat menujunya? Islam itu memiliki Pelindung yang akan senantiasa menjaganya dan sungguh telah terbunuh si fulan dan sifulan..Telah meninggal Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Namun, Allah tetap menegakkan dan memelihara agama-Nya dengan orang lain sepeninggalan mereka&#8221;.</p>
<p>Inilah keteladanan seorang pemimpin sejati dalam sejarah Islam. Tidak silau dengan berbagai fasilitas duniawi, kapanpun dan di manapun. Di bawah pemimpin seperti inilah prajurit kaum Muslimin mampu mengalahkan dan menghancurkan pasukan Tartar dalam Ma`rakah Ain Jalut yang sangat terkenal itu dan dikenang sepanjang sejarah umat Islam dan tercium harumnya semerbak sampai akhir zaman.</p>
<p>Kaum Muslimin Rahimakumullah..</p>
<p>Semua kemenangan dan pertolongan Allah atas kaum Muslimin dalam sepanjang sejarah Islam yang lebih 14 abad itu tidaklah datang tanpa sebab dan tidak pula turun sim salabim. Harus ada upaya yang dilakukan dengan mewujudkan sebab-sebab diturunkannya pertolongan dan kemenangan tersebut. Sejarah Islam itu panjang, lebih dari 14 abad, bukan dari tahun 80-an&#8230; Sepanjang sejarah Islam kita menemukan sebab-sebab kemenangan dan pertolongan Allah itu datang. Di antaranya :</p>
<p>1. <strong>Kekuatan iman kepada Allah</strong>. Allah berfirman :</p>
<p>إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات/15]</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.&#8221;</em></p>
<p>Iman telah menciptakan banyak keajaiban. Para Shahabat Rasulullah saw memenuhi hati mereka dengan iman dan merasakan betul lezatnya keimanan itu. Dengan kekuatan iman kepada Allah Rabbul `Alamin jalan ladang da`wah yang terjal terasa menjadi mulus dan yang sulit terasa mudah. Karena iman dan pengenalannya yang benar tehadap Penciptanya maka seorang Mu`min tidak mengenal putus asa. Dengan iman ia tidak pernah dilemahkan oleh gelombang fitnah dunia, harta dan jabatan. Dengan iman ia tegar laksana batu karang. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh para Shahabat yang mulia Bilal bin Rabah, Khabbab bin Arts, keluarga Yasir, Khubaib bin Adi dan banyak lagi Shahabat yang lain Ridhwanullahi `alaihim.</p>
<p>Karena keimanan itulah Allah menurunkan banyak pertolongan dan kemenangan kepada mereka atas musuh-musuh mereka sebagaimana Allah berjanji dalam kitab-Nya yang mulia :</p>
<p>إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آَمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ [غافر/51]</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami pasti menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).&#8221;</em></p>
<p>Karena itu sudah sepatutnya kita mengharap petunjuk Allah, beriman kepadaNya dengan keimanan yang benar sehingga kita bisa merasakan kenikmatannya yang akan mengangkat kita ke maqam yang tinggi dan mulia..</p>
<p>وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ [آل عمران/139]</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.&#8221;</em></p>
<p>Benarlah Rasulullah saw saat Beliau bersabda : &#8220;Ada 3 hal yang apabila dimiliki oleh seseorang maka ia akan merasakan manisnya iman; jika Allah dan RasulNya lebih dicintai dari pada yang lain, jika ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah dan ia membenci kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan kedalam api&#8221;</p>
<p>2. <strong>Adanya keteladanan yang baik [qudwah hasanah] dari seorang pemimpin</strong></p>
<p>Allah Ta`ala telah menjadikan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam sebagai pemimpin umat manusia, memerintahkan Beliau untuk menjadi teladan bagi mereka dalam semua segi kehidupan. Sebab itu, Allah juga memerintahkan kaum Muslimin untuk meneladani Beliau.</p>
<p>Kemenangan dan kejayaan yang diperoleh kaum Muslimin sepanjang sejarahnya sangat ditentukan oleh keteladanan yang diperlihatkan oleh para pemimpin mereka, baik keteladanan dalam ibadah, keteladanan dalam akhlaq dan prilaku, keteladanan dalam zuhud dan wara` terhadap dunia, keteladaan dalam jihad dan pengorbanan, keteladanan dalam memegang teguh prinsip, keteladanan dalam sifat sabar dan pemaaf dan keteladanan dalam bentuk yang lain.</p>
<p>Inilah yang diperlihatkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhum sepeninggalan Rasul saw. Keteladanan itu pula kemudian yang diperlihatkan oleh Umar bin Abdil Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, Al-Muzhaffar Qutz, Muhammad Al-Fatih. Demikian pula yang diperlihatkan oleh para pemimpin di masa kini seperti Imam Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb, Mustafa As-Siba`i, Syaikh Abdullah `Azzam, Syekh Ahmad Yasin dan tokoh-tokoh lain yang menjadi teladan kebanggaan umat dan pemuda Islam saat ini. Dengan keteladanan itulah umat bangkit, panji-panji Islam menjulang di seluruh pelosok negeri, izzah Islam dan kaum Muslimin tegak, pertolongan dan bantuan Allah turun kepada mereka</p>
<p>Salah satu contoh keteladanan seorang pemimpin adalah apa yang diperlihatkan oleh Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah :</p>
<p>Suatu hari utusan dari Kedubes Inggris datang berkunjung ke Markaz Ikhwanul Muslimin untuk bertemu degan Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah. Utusan itu berkata kepada Beliau: &#8220;Pemerintah Inggris mempunyai program untuk membantu organisasi keagamaan dan juga masyarakat dan salah satu yang terpilih untuk mendapatkan bantuan itu adalah organisasi Tuan&#8230;Kami akan memberikan bantuan tidak mengikat, ini cek sejumalah 10.000 pound utk membantu jamaah Ikhwanul Muslimin&#8221;</p>
<p>Mendengar tawaran itu, Imam Al-Banna-pun tersenyum sambil berkata: &#8220;Sesungguhnya kalian lebih membutuhkan uang itu dari pada kami, karena kalian sedang berperang&#8221;</p>
<p>Karena tawaran itu ditolak, utusan Inggris tersebut menambahkan jumlahnya, namun Imam Al-Banna tetap menolaknya. Sebagian anggota jamaah ada yang heran dan saling berbisik: &#8220;Kenapa kita tidak menerima uang itu? lalu kita gunakan untuk melawan mereka&#8221;</p>
<p>Lalu Imam Al-Banna menjelaskan: &#8220;Sesungguhnya tangan yang sudah terbuka tidak mungkin lagi ditutup, tangan yang sudah menerima bantuan tidak akan mampu lagi memukul, kita akan berjihad dengan harta dan jiwa kita sendiri, bukan dengan harta dan jiwa orang lain..</p>
<p>3. <strong>Cinta jihad dan mati syahid</strong>.</p>
<p>Jihad adalah amal yang paling utama di sisi Allah. Ia adalah puncak ajaran Islam [zarwatu sanamil Islam]. Allah memberi pujian kepada para Mujahid dengan pujian yang tinggi dan menjanjikan kepada mereka balasan yang melimpah di syurga. Di sana terdapat sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan sesuatu yang belum pernah terlintas dalam benak manusia. Kaum Muslimin disepanjang sejarah mereka bersepakat bahwa jihad adalah amal yang di syariatkan Allah sampai hari kiamat dan dipraktekkan oleh para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ittabi’in dan siapa saja setelah mereka yang mendapat hidayah. Dengan amal jihad ini kaum Muslimin menegakkan syariat Allah, menegakkan keadilan, membela kehormatan agama, tanah air dan diri mereka serta mengangkat kezaliman yang menimpa umat manusia.</p>
<p>Karena itu mereka selalu merespon panggilan Allah dan RasulNya untuk berjihad. Dengannya kehormatan dibangun untuk menggantikan kehinaan, kekuatan ditegakkan untuk menggantikan kelemahan, keadilan ditegakkan untuk menggatikan kezaliman.</p>
<p>Kaum Muslimin juga memahami tidak ada kematian yang lebih mulia dibanding orang yang mati syahid, seperti yang dijelaskan Allah :</p>
<p>وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ [آل عمران/169]</p>
<p><em>&#8220;Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.&#8221;</em></p>
<p>Dalam sebuah peperangan, Rasulullah berkata kepada para Shahabatnya: &#8220;Bangkitlah kalian menuju syurga yang luasnya seluas langit dan bumi&#8221;. Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi?&#8221; tanya Umair bin Hammam Al-Anshari ra. &#8220;Ya&#8221; jawab Rasulullah. &#8220;kalau begitu bagus, bagus..&#8221; sahut Umair.</p>
<p>&#8220;Mengapa kau katakan bagus, bagus..&#8221; tanya Rasulullah. &#8220;Ya Rasulallah, aku ingin menjadi penghuninya&#8221;. &#8220;Engkau salah satu penghuninya,&#8221; Jawab Rasulullah. Mendengar jawaban itu, seketika itu juga ia mengambil korma dalarn kantongnya yang hendak ia makan. Kemudian ia berkata: &#8220;Kalau aku habiskan korma ini, betapa lamanya aku hidup,&#8221; katanya. Kemudian ia lemparkan korma itu lalu terjun ke medan jihad dan Umair-pun meraih syahid-nya</p>
<p>Shahabat Anas bin Malik ra berkata: &#8221; Abu Thalhah ra membaca surah Baro`ah, ketika sampai ayat :</p>
<p>انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُون َ (التوبة/41)</p>
<p><em>&#8220;Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.&#8221;</em></p>
<p>Setelah itu ia berkata: &#8220;Menurutku, Allah memerintahkan kita untuk berangkat ke medan jihad, baik pemuda maupun orang tua. Wahai anak-ku! Persiapkan bekal-ku untuk berangkat berjihad..&#8221; Anak-anakny berkata: &#8220;Semoga Allah merahmati ayah. Ayah telah ikut berperang bersama Rasulullah saw hingga akhir hayat Beliau, bersama Umar hingga akhir hayat Beliau.. Ayah..Biarlah kami yang berangkat sementara ayah tinggal di rumah&#8221; Abu Thalhah berkata: &#8220;Tidak, siapkan perbekalan ayah untuk berangkat&#8221;..</p>
<p>Maka Shahabat Rasulullah yang mulia inipun berangkat dan bertempur di lautan, ia meninggal ditengah laut dan para mujahidin baru menemukan pulau untuk menguburkan jenazahnya setelah tujuh hari, selama tujuh hari itu jenazah Abu Thalhah tidak berubah dan tidak membusuk..</p>
<p>4. <strong>Mencintai negeri Akhirat</strong></p>
<p>تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ [القصص/83]</p>
<p><em>&#8220;Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.&#8221;</em></p>
<p>Imam Ali bin Abi Thalib ra berkata : &#8221; Wahai dunia, perdayalah orang selain aku, wahai dunia, aku menjatuhkan thalaq tiga kepadamu. Setelah itu Beliau membaca ayat diatas [Al-Qashash : 83]</p>
<p>Kenapa generasi Islam terdahulu berhasil menthalak tiga dunia dan di mata, pikiran dan hati mereka ingin cepat-cepat kembali kepada kampung akhirat? Sejarah mengajarkan pada kita bahwa interaksi mereka dengan Al-Qur`an dan dengan sunnah Rasulullah saw adalah kunci rahasianya. Berinteraksi dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul secara baik dan maksimal telah memberikan pemahaman kepada mereka bahwa dunia ini adalah tempat tinggal sementara, tempat ujian dan cobaan dan pada hakikatnya dunia ini adalah ladang Akhirat, Setiap kita menanam kebaikan hari ini untuk memetiknya esok di hari akhirat, bukan di dunia ini juga. Hidup kita ini adalah untuk akhirat, bukan untuk kehidupan dunia itu sendiri. Allah menjelaskan :</p>
<p>الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ [ الملك 2]</p>
<p><em>&#8220;Dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia mengujimu siapa dari kamu yang paling baik amalnya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha pengampun.&#8221;</em></p>
<p>Para Shahabat sangat memahami hal tersebut. Oleh karenanya mereka berjuang keras membuang jauh-jauh dunia dari hati mereka meski mereka memiliki harta dunia yang memenuhi bumi.</p>
<p>Abu Bakar ra pernah membawa seluruh hartanya sebagai bekal prajurit dalam jihad fi sabilillah. ketika Nabi saw bertanya: “Apa yang engkau sisakan bagi keluargamu?” Abu Bakar menjawab: ”Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya”</p>
<p>Khalifah Umar ra mengunjungi rumah gubernurnya Abu Ubaidah binul Jarrah ra di Syam. Khalifah hanya melihat pedang, perisai dan tombak di rumahnya.</p>
<p>Ketika Rasul saw memobilisasi dana untuk operasi militer, Abdurrahman bin Auf ra pulang ke rumahnya dan segera kembali, kemudian ia berkata: “Ya Rasulallah, saya mempunyai uang 4.000 dinar, 2.000 aku pinjamkan kepada Allah, 2.000 aku tinggalkan untuk keluargaku”</p>
<p>Rasul saw berkata: ”Semoga Allah memberkahi yang kamu berikan dan memberkahi apa yang kamu sisakan“</p>
<p>Kaum Muslimin Rahimakumullah..</p>
<p>Pesan dari kisah tersebut adalah ketika para Shahabat membebaskan diri dari kekuasaan dunia dengan segala daya tariknya dan mereka hanya tunduk, patuh, dan menyerahkan dirinya kepada Allah, mencintai negeri akhirat, maka Allah berkenan memuliakan mereka, menolong dan membantu mereka atas musuh-musuhnya.</p>
<p>Kalau kita ingin meraih apa yang telah dicapai para Shahabat, syaratnya adalah kita harus membuang cinta dunia dari dalam hati kita sejauh-jauhnya, meskipun kita memiliki dunia sebanyak hamparan padang pasir, kemudian kita bangun orientasi semua aktifitas kita untuk kepentingan akhirat saja.</p>
<p>5. <strong>Bersungguh-sungguh menolong agama Allah</strong></p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ [محمد/7]</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.&#8221;</em></p>
<p>Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>تكـفـّلَ الله لمن جاهد فى سبيله لا يخرجه من بيته إلا الجهاد فى سبيله و تـَصْدِيقُ كلمتِه أن يدخله الجنة أو يَرُدّ َه إلى مسكنه بما نَالَ من أجرٍ أو غنيمةٍ [ الشيخان]</p>
<p>&#8220;Allah menjamin seseorang yang berjihad fii sabilillah yang keluar rumahnya tidak lain hanya bertujuan untuk berjihad dan untuk membuktikan kebenaran janjiNya bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam syurga atau mengembalikan ia ke rumahnya yang telah ditinggalkannya dengan membawa pahala atau ghanimah yang ia peroleh&#8221;</p>
<p>Bersungguh-sungguh membela agama Allah adalah salah satu akhlaq para Shahabat yang menyebabkan mereka mendapatkan bantuan dan pertolongan Allah. Para Shahabat mendengar sendiri Firman Allah dan sabda Rasul-Nya dan melihat langsung praktek Rasulullah tentang hal ini, seperti yang ditegaskan Allah dan Rasul-Nya dalam ayat dan hadits di atas.</p>
<p>Mereka menyaksikan Rasulullah secara nyata mengamalkan perintah Allah ini. Aktifitas inilah yang sangat menyibukkan Beliau siang dan malam, susah dan senang, di saat safar atau di rumah, kapan dan dimanapun. Karena itu para Shahabatpun bergerak menjalankan kewajiban ini, mereka curahkan seluruh perhatian untuk membela agama Allah, mereka mencintainya, menyibukkan diri dengannya dan menjadi pembicaraan mereka disaat bangun serta mimpi mereka disaat tidur..</p>
<p>Inilah salah satu gambaran kesungguhan mereka membela agama Allah, mereka datang jauh dari Madinah ke Mesir untuk menda`wahkan Islam di benua hitam tersebut. Adalah Shahabat Amru binul Ash datang ke Mesir untuk menda`wahkan Islam kepada penduduknya, menyelamatkan mereka dari jilatan api neraka dan meninggikan kalimat tauhid La Ilaha Illallah.</p>
<p>Penguasa Mesir dari bangsa Romawi yg berkuasa saat itu bernama Muqauqis. Dia menyadari betul bahwa pertempuran dengan kaum Muslimin merupakan sesuatu yang tak mungkin lagi dihindari.. Sebelum pertempuran benar-benar berlangsung, Muqauqis mengirim utusan kepada Amru binul Ash untuk melakukan perundingan. Panglima Amru binul Ash mengutus 10 orang Shahabat terkemuka yang dipimpin oleh Ubadah bin Shamit Radhiyallahu `anhu, Beliau adalah seorang yang sangat hitam, berpostur tinggi dan disegani.</p>
<p>Ketika utusan kaum Muslimin itu sampai, Muqauqis merasakan takut merasuki dirinya seraya berkata: &#8220;Jauhkan orang saya dari orang hitam ini – yang dimasud adalah Shahabat mulia Ubadah bin Shamit – dan suruh orang lain yang maju dan berbicara dengan saya.&#8221;</p>
<p>Semua anggota delegasi kaum Muslimin berkata: &#8220;Laki-laki ini adalah seorang shahabat Nabi yang mulia. Beliau adalah yang paling alim diantara kami. Beliau diangkat menjadi pemimpin kami dan kami diperintah untuk merujuk kepada perkataan dan pendapatnya. Bagi kami orang hitam atau putih sama saja, hanya taqwa dan amal shalih seseorang yang dapat unggul dari yang lainnya.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya Muqauqis memberi isyarat kepada Ubadah bin Shamit untuk berbicara..Ubadah berkata: &#8220;Sesungguhnya dibelakang saya ada 1000 orang lagi Shahabat saya yang serupa dengan saya bahkan mereka lebih hitam dibanding saya. Kalau anda melihat mereka anda pasti lebih takut kepada mereka daripada saya.. Sungguh saya telah ditunjuk sebagai komandan dan saya telah meninggalkan semua kesenangan dunia. Namun demikian –dan segala puji hanya bagi Allah- saya tidak pernah takut berhadapan dengan 100 orang musuh meskipun mereka menyerang saya dalam waktu bersamaan..</p>
<p>Para Shahabat saya adalah orang-orang yang memiliki misi yang sama yaitu jihad fi sabilillah demi tegaknya kalimat Allah. Demi Allah.. Tidak seorangpun di antara kami yang peduli apakah ia memiliki segudang emas atau hanya memiliki satu dirham saja. Sungguh bagi kami kenikmatan duniawi bukanlah sebuah kenikmatan dan kemegahannya bukanlah kebanggaan. Itulah prinsip yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kami&#8221;</p>
<p>Penuturan lantang ini sangat berpengaruh dalam diri Muqauqis sehingga ucapan ini semakin membuat nyalinya menciut. Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada disekelilingnya: &#8220;Saya prediksi bahwa orang-orang ini akan menguasai seluruh negeri di muka bumi ini&#8221;</p>
<p>Kemudian Muqauqis berkata: &#8220;Saya telah mendengar penuturan tuan, hanya saja saya masih yakin tujan kalian berperang hanyalah karena kecintaan kalian terhadap dunia. Pasukan Romawi dengan jumlah sangat banyak telah bergerak untuk memerangi kalian dan kami lebih memilih berdamai dengan kalian. Kami akan memberikan 2 dinar kepada setiap prajurit kalian, 100 dinar untuk setiap komandan kalian serta 1000 dinar untuk Khalifah kalian, ambillah semuanya dan kami tidak ingin melihat kalian dihancurkan oleh pasukan Romawi itu.&#8221;</p>
<p>Ubadah bin Shamit menyadari bahwa itu hanyalah omong kosong dan tipu daya terhadap kaum Muslimin, sehingga mereka akan berdecak kagum dengan pemikiran matrealis yang menuhankan harta dan kekayaan.</p>
<p>Dengan semangat keislaman Ubadah bin Shamit yang mulia ini mengatakan: &#8220;Tuan, jangan sekali-kali tertipu dengan orang disekeliling anda. Ancaman yang anda ucapkan tidak akan pernah menyurutkan langkah kami. Harta anda yang melimpah takkan membuat kami berpaling, jika anda berperang hingga tetes darah kami yang terakhir hal itu justru lebih baik bagi kami, demi negeri akhirat kami dan itu lebih memungkinkan kami mendapatkan ridha Allah dan syurgaNya yang penuh kenikmatan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sepanjang hari, pagi dan petang setiap orang dari kami selalu berdoa dan memohon dengan penuh harap kepada Allah agar Dia menganugrahkan syahid dan agar Allah tidak mengembalikan setiap kami ke tanah air dan sanak keluarga.. Anda hanya punya tiga pilihan : Masuk Islam, membayar jizyah atau perang. Inilah yang diperintahkan Khalifah dan Komandan kami, demikian pula yang diperintah oleh Allah dan RasulNya kepada kami..&#8221; Lalu Muqauqis bertanya: &#8221; Tidak adakah pilihan selain tiga hal itu?&#8221;</p>
<p>Ubadah bin Shamit menunjukkan jari tangannya ke arah langit sambil berkata: &#8221; Demi Rabb langit, tidak ada lagi, pilihlah salah satu dari ketiga hal itu untuk kalian..&#8221;</p>
<p>Muqauqispun tunduk, akan tetapi para elite kepemimpinan lain tidak menerima, akhirnya mereka terjun dalam arena peperangan dengan semangat orang-orang yang kalah. Ketika kaum Muslimin berhasil menguasai benteng-benteng mereka di bawah kumandang Takbir, tahta kekaisaran Romawipun seolah berguncang hebat. Lalu, kecongkakan dan arogansi bangsa Romawipun hancur di tangan prajurit Muslim yang telah penuh ikhlas menjual nyawa dan hartanya untuk agama Allah dan kepentingan akhirat mereka.</p>
<p>Muqauqis berkomentar: &#8220;Jika kaum ini berhadapan dengan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi menjulang, niscaya mereka mampu melenyapkan gunung-gunung itu dari tempatnya&#8221;</p>
<p>Izzah Imaniyah seperti inilah yang mengantarkan kaum Muslimin ke puncak kejayaan, dulu, sekarang dan di masa yang akan datang.</p>
<p>Kaum Muslimin rahimakumullah&#8230;</p>
<p>Demikianlah khutbah ini, semoga Allah sampaikan kita di bulan Ramadhan tahun 1431 hijrah ini dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-Nya mendapatkan kemenangan. Semoga Allah pilih kita menjadi orang-orang yang sukses di akhirat kelak, yakni dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga. Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin..</p>
<p>بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/rahasia-kemenangan-kaum-muslimin-di-bulan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laillaha illa allah panduan hidup kita</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/laillaha-illa-allah-panduan-hidup-kita.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/laillaha-illa-allah-panduan-hidup-kita.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jul 2011 03:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1184</guid>
		<description><![CDATA[Pengabdian diri kepada Allah adalah merupakan akar tunjang dan rukun pertama dalam akidah Islamiyah yang dijelmakan di dalam pengakuan: Tiada Tuhan Melainkan Allah (LA ILAHA ILLALLAH). Manakala menerima pengajaran dan Rasulullah SAW mengenal cara menjalan dan melaksanakan pengabdian itu adalah merupakan bahagian yang kedua daripadanya, yang dijelmakan di dalam pengakuan: Muhammad itu ialah Utusan Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengabdian diri kepada Allah adalah merupakan akar tunjang dan rukun pertama dalam akidah Islamiyah yang dijelmakan di dalam pengakuan: <strong>Tiada Tuhan Melainkan Allah (LA ILAHA ILLALLAH)</strong>.</p>
<p>Manakala menerima pengajaran dan Rasulullah SAW mengenal cara menjalan dan melaksanakan pengabdian itu adalah merupakan bahagian yang kedua daripadanya, yang dijelmakan di dalam pengakuan: <strong>Muhammad itu ialah Utusan Allah (MUHAMMADUR-RASULULLAH)</strong>.</p>
<p>Hati Muslim yang beriman dan menyerahkan dirinya kepada Allah itu adalah hati yang menjelma di dalamnya kedua-dua dasar yang disebutkan di atas tadi. Semua perkara selain daripada kedua-duanya baik yang berbentuk asas-asas keimanan dan rukun Islam, adalah merupakan pelengkap bagi kedua-dua tadi; kerana keimanan kepada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitabNya, Rasul-rasul-Nya, hari kiamat, qada dan qadar, juga sembahyang, zakat, puasa dan haji, hukum halal dan haram, kemudian hukum hudud dan ta’zir, serta peraturan-peraturan mengenai muamalah, perundangan dan arahan-arahan keislaman semuanya itu adalah tegak di atas dasar pengabdian diri kepada Allah. Begitu juga sumber-sumber itu semuanya adalah ajaran~ajaran yang telah disampaikan kepada kita oleh Rasulullah SAW daripada Tuhannya.</p>
<p>Dan masyarakat Islam itu ialah masyarakat yang menghayati sepenuhnya kaedah-kaedah Islam dan hal-hal yang berkaitan dengannya di dalam kenyataan hidupnya; sebab masyarakat tanpa pelaksanaan dan penjelmaan kaedah-kaedah ini tidak boleh dipandang sebagai MASYARAKAT ISLAM.</p>
<p>Selanjutnya pengakuan bahwa <strong>tiada Tuhan melainkan Allah (LA ILAAHA ILLALLAH)</strong> dan <strong>Muhammad itu ialah utusan Allah (MUHAMMADU RASULULLAH)</strong> adalah kaedah bagi suatu program yang lengkap yang menjadi tapak kepada kehidupan umat Islam seluruhnya. Kehidupan secara Islam ini tidak akan dapat ditegakkan sebelum kaedah ini ditegakkan terlebih dahulu; seperti juga kehidupan secara Islam tidak akan menjadi kehidupan secara Islam dengan sebenarnya sekiranya ia ditegakkan di atas kaedah yang lain daripada kaedah ini atau pun ia ditegakkan secara tempelan di samping kaedah-kaedah yang lain atau pun di samping beberapa kaedah lain yang asing darinya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/laillaha-illa-allah-panduan-hidup-kita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puasa dan Kejujuran</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/puasa-dan-kejujuran.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/puasa-dan-kejujuran.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 02:04:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1148</guid>
		<description><![CDATA[Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia. Sosok manusia jujur telah menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.almuzakki.com/puasa-dan-kejujuran.html/religious" rel="attachment wp-att-1149"><img class="alignleft size-medium wp-image-1149" title="Religious" src="http://www.almuzakki.com/wp-content/uploads/2011/07/Religious-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a>Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia. Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrung menghalalkan segala cara.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi muhammad Saw pernah memprediksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telah menjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Era reformasi yang telah berlangsung lebih lebih sepuluh tahun, praktek kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentang hikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Puasa melatih kejujuran<br />
Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt..</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yang bersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran.Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikan dengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebut berlaku jujur dan tidak bohong</p>
<p style="text-align: justify;">Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/puasa-dan-kejujuran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khutbah Nabi Menjelang Ramadhan</title>
		<link>http://www.almuzakki.com/khutbah-nabi-menjelang-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.almuzakki.com/khutbah-nabi-menjelang-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 02:44:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel dan Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almuzakki.com/?p=1140</guid>
		<description><![CDATA[Hadits mengenai khutbah Rasululloh s.a.w tentang menyambut bulan Romadhon bisa dilihat dalam kitab apa serta riwayatnya. Hadist tersebut berbunyi: وَعَن سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ ، رَضِيَ الله عَنْهُ , قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم آخِرَ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hadits mengenai khutbah Rasululloh s.a.w tentang menyambut bulan Romadhon bisa dilihat dalam kitab apa serta riwayatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist tersebut berbunyi:</p>
<p style="text-align: justify;">وَعَن سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ ، رَضِيَ الله عَنْهُ , قَالَ : خَطَبَنَا رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم آخِرَ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، فَرَضَ الله صِيَامَهُ ، وَجَعَلَ قِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا ، فَمَنْ تَطَوَّعَ فِيهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِينَ فَرِيضَةً ، فَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ ، وَهُوَ شَهْرُ الْمُوَاسَاةِ ، وَهُوَ شَهْرٌ يُزَادُ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ فِيهِ , مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ عِتْقَ رَقَبَةٍ ، وَمَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ قِيلَ : يَا رَسُولَ الله ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ ! قَالَ : يُعْطِي الله هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذْقَةِ لَبَنٍ أَو ْتَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ ، وَمَنْ أَشْبَعَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ ، وَسَقَاهُ الله مِنْ حَوْضِي شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ ، وَمَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوكِهِ فِيهِ أَعْتَقَهُ الله مِنَ النَّارِ.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dari Salman al-Farisi r.a. beliau berkata:&#8221;Rasulullah s.a.w. berkhutbah di depan kita di hari akhir bulan Sya&#8217;ban: &#8220;Wahai manusia, telah datang kepadamu bulan yang diberkati, di dalamnya adalam malam lebih baik dari seribu bulan. Allah mewajibkan puasa, menjadikan sholat malam sebagai ibadah sunnah, barang siapa melakukan kebajikan dalam satu perkara baik, maka ia seperti telah menjalankan kewajiban pada perkara lainnya, barang siapa melakukan satu kewajiban maka (pahalanya) seperti menjalankan 70 kewajiban. Itu merupakan bulan kesabaran, orang sabar berpahala sorga, itu bulan tuntunan, pada bulan itu rizqi seorang mukmin ditambahkan, barangsiapa memberi makan orang puasa, maka pahalanya sama dengan memerdekakan seorang budak dan menghapuskan dosa-dosanya. Rasulullah s.a.w. ditanyai:&#8221; Wahai Rasulullah, tidak semua kita mempunyai sesuatu untuk memberi makan orang puasa&#8221;. Beliau menjawab:&#8221;Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun hanya seteguk susu, atau sebutir kurma atau seteguk air, barang siapa memberi makan hingga kenyang kepada orang yang berpuasa maka ia berhak mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya, dan Allah akan memberinya minuman dari telagaku dengan minuman yang olehnya ia tidak akan merasa haus hingga memasuki sorga, dan ia mendapatkan pahala seperto orang puasa tadi tanpa kurang sedikitpun. Itu bulan yang awalnya rahmat, tengahnya maghfirah (ampunan) dan akhirnya diselamatkan dari neraka. Barang siapa meringankan beban budaknya pada bulan ini, maka Allah akan menyelamatkannya dari neraka.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Hadist tersebut diriwayatkan oleh Harist bun Usamah dan Ibnu Huzaimah dalam kitab Sahihnya. Ibnu Huzaimah berkata, sekiranya hadist ini sahih, dari jalurnya diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu Hayyan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Huzaimah meriwayatkan dengan tambahan:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">و استكثروا فيه من أربع خصال : خصلتين ترضون بهما ربكم و خصلتين لا غنى بكم عنهما فأما الخصلتان اللتان ترضون بهما ربكم فشهادة أن لا إله إلا الله و تستغفرونه و أما اللتان لا غنى بكم عنهما فتسألون الله الجنة و تعوذون به من النار.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Perbanyaklah di dalamnya empat perkara: dua perkara engkau akan mendapatkan keridloan Allah dan dua perkara yang engkau tidak mungkin meninggalkannya. Dua perkara yang bertama adalah Syahadat laa ilaaha illal laah dan meminta ampunanNya. Dua perkara yang kedua adalah meminta sorga dan meminta perlindungan dari neraka.&#8221; A&#8217;dzami mengatakan hadist ini dlaif ada rawi Ali bin Zaid bin Jadz&#8217;an, lemah.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan dalam kitab Athraf, rawi hadist tersebut tertumpu pada Ali bin Zaid bin Jadz&#8217;an lemah, Yusuf bin Ziyad juga sangat lemah. Iyas juga saya tidak mengetahui rawi ini. Lihat Kanzul Ummal (8/477).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hukum mengamalkan hadist dlaif</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu masalah khilafiyah yang sudah lama menjadi perdebatan di anra ulama Islam adalah masalah mengamalkan hadist dlaif. Dalam ilmu mustolah hadist ada tiga kriteria besar hadist berdasarkan kekuatan rawinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang pertama adalah sahih, dimana masuk di dalamnya hadist hasan (bagus). Ibnu Solah mendefinisikan hadist sahih adalah hadist yang hadist yang sanad atau rawinya menyambung dan diriwayatkan oleh ulama-ulama yang terpercaya sampai Rasulullah s.a.w. Ini disepakati oleh para ulama dapat diamalkan asalkan tidak dipertentangkan kesahihannya. Banyak hadist sahih tapi tidak disepakati, ada sebagian ulama menilainya sahih tapi ulama lain tidak. Umumnya hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim telah disepakati kesahihannya. Namun demikian, hadist sahih juga ada tingkatan dan derajatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Derajat hadist sahih adalah sbb:</p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Disepakati imam Bukhari Muslim ini hadist paling kuat.</li>
<li>Diriwayatkan oleh imam Bukhari.</li>
<li>Diriwaytkan oleh Imam Muslim.</li>
<li>Sesuai ketentuan kedua imam tadi tapi keduanya tidak meriwayatkan.</li>
<li>Sesuai dengan ketentuan imam Bukhari.</li>
<li>Sesuai dengan ketentuan imam Muslim.</li>
<li>Hadist sahih riwayat imam lain seperti dari kutab-kitab sunan, dan kitab-kitab sahih seperti susunan Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Yang kedua adalah hadist lemah atau sering disebut hadist dlaif. Ini adalah hadist yang tidak memenuhi ketentuan sahih di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa penyebab hadist sahih adalah sanad yang tidak utuh alias terputus, atau diriwayatkan oleh ulama yang buruk hafalannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti hadist sahih, hadist dlaif juga mempunyai tingkatan dan derajat, mulai yang sangat lemah hingga yang agak kuat. Hadist paling lemah adalah hadist maudlu&#8217; atau palsu. Hadist ini diyakini tidak dari Rasulullah s.a.w. tapi dari perkataan orang yang diklaim dari Rasululllah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Solah membuat kategori hadis dlaif sbb: 1)dlaif (lemah) 2) sangat lemah 3) Wahi (lebih lemah lagi) 4) munkar (diinkari sanad atau redaksinya) 5) Mudlu&#8217; (palsu).</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis hadist dlaif yang terakhir yaitu maudlu&#8217; hukumnya tidak boleh diamalkan dan tidak boleh diyakini dari Rasulullah. Demikian kesepakatan para ulama.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadist dlaif yang biasa, seperti yang banyak didapati dalam kitab-kitab hadist, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mengamalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum para ulama sepakat, tidak boleh mengamalkan hadist dlaif untuk masalah-masalah pokok agama seperti rukun Islam, halal, haram  dan ketauhidan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama yang berpendapat boleh mengamalkan hadist dlaif untuk masalah agama yang tidak pokok adalah Abdul Rahman bin Mahdi, Ibnu Mubarak, Ahmad bin Hanbal. Bahkan diriwayatkan dari Ahmad bahwa kalau ada pertentangan antara akal dan hadist dlaif maka didahulukan hadist dlaif.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat kedua mengatakan tidak boleh sama sekali mengamalkan hadist dlaif. Pendapat ini menganggap hadist dlaif semuanya palsu. Ini dipelopori oleh Abu Bakar Arabi. Ulama hadist kontempoprer seperti Albani juga cenderung ke pendapat ini. Pendapat Albani sangat dominan dan diterima oleh kalangan pergerakan Islam Saudi Arbia, atau gerakan yang sering menyebutkan dirinya dengan nama Salafi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat ketiga mengatakan boleh mengamalkan hadist dlaif untuk fadlailul a&#8217;mal (keutamaan amal). Menurut Ibnu Solah, ini pendapat mayoritas ulama ahli hadist dan ulama fiqih. Namun demikian Ibnu Hajar mensyaratkan ketentuan sbb:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Hadist tersebut tidak sangat lemah.</li>
<li>Isi hadist tersebut mengacu kepada ketentuan agama yang ada. Misalnya ada hadist dlaif tentang keutamaan sholat malam, ini diterima karena banyak dalil menyebutkan sholat malam.</li>
<li>Tidak boleh meyakini bahwa itu hadist benar-benar dari Rasulullah, tapi cukup demi alasan hati-hati. Artinya berpandangan bahwa jangan-jangan itu emang benar dari Rasulullah s.a.w. (Taisir Mustolah Hadist: Ibnu Solah: 34)</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh Dewan Asatidz (pesantrenvirtual.com)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almuzakki.com/khutbah-nabi-menjelang-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

